
setelah pertemuan reni dan rendi beberapa hari lalu yang tak
terduga tersebut, kini reni tak ingin lagi menginjakkan kakinya di rumah rendi.
rizki yang mengetahui semua kejadian tersebut dari cerita rendi selalu berusaha
membujuk reni untuk terus menemaninya membuat makan siang untu rendi. awalnya
reni tak menggubris sama sekali permintaan rizki, bahkan ia mulai menjauhi
rizki karena baginya dia memang tak pernah pantas berada di sekitar keluarga
rendi. namun karena kegigihan rizki yang tak pernah surut meminta reni memasak
akhirnya pertahanan ego reni dapat terkalahkan, dengan syarat reni tak ingin
memasak di rumah rendi melainkan di panti. awalnya rizki tak setuju dengan
syarat reni namun setelah bernegoisasi dengan reni maka mereka menemukan jalan
yang baik bagi mereka berdua. setiap malam reni akan mengirim jenis bahan
masakan pada rizki dan sebelum menuju ke kantor rizki selalu menyisihkan
waktunya untuk menemani reni membeli bahan tersebut. rizki selalu menggunakan
alasan lari pagi untuk bisa pergi bersama reni.
“ini kak bekalnya” ucap reni memberikan kotak bekal
“makasih ya, yaudah aku langsung berangkat ke kantor ya”
kata rizki berpamitan pada reni
“ iya kak, hati – hati dijalan kak” kata reni melambaikan
tangan pada rizki yang menyalakan mesin mobilnya
“baiklah” ucap rizki tersenyum kearah reni yang dibalas
dengan senyum tipis reni
jam makan siang di kantor rendi
“kamu mau kemana ren” tanya rizki saat berpapasan dengan
rendi
“mau makan siang di luar sama klawdya” jawab rendi dengan
raut wajah yang tak dimengerti ekspresinya
“yahh padahal kakak bawa makan siang buat kamu” kata rizki
memelas menatap kearah kotak bekal di tangannya. rendi yang tak ingin
mengecewakan rizki akhirnya mengalah.
“yaudah kita makan di ruangan ku saja” kata rendi merogoh
sakunya mengambil benda pipih
“halo wydia, maaf ya mungkin nanti sore baru kita ketemu
“yah padahal aku udah mau berangkat” ucap klawdya dari seberang
sana
“iya maaf ya, aku ada jadwal mendadak soalnya”
“yaudah tapi janji ya nanti sore, nanti aku infoin tempat
__ADS_1
sama waktunya”
“iya, aku tutup telfonnya” ucap rendi menyusul rizki yang
sudah memasuki ruangannya
“masakan teman kakak lagi” ucap rendi menikuti rizkki yang
telah duduk di sofa membukan kotak bekal
“iya pasti ren” kata rizki dengan senyumnya
“kenapa dia harus repot – repot membuat ini, kita bisa makan
siang di kafe dekat kantor”
“ya nggak papa, kan masakannya juga tak kalah enak dari
makanan restoran, dan yang lebih penting lagi kehigienisannya terjamin”
“kapan kakak kenalin dia, dia pasti sangat cantik”
“tunggu saja waktunya ren”
“segitunya kakak sayang sama dia”
“aku tahu setiap
malam kakak akan selalu senyum sama handpone, yang bisa dipastikan itu pasti
chatan dari dia. terus kakak setiap pagi keluar pagi buat ketemu dia” tambah
rendi
“kamu tahu semua itu darimana” tanya rizki yang mulai cemas
“udahlah kakak, aku pernah ngebintutin kakak, habisnya kakak
sering banget bertingkah aneh sihh” ucap rendi menahan tawanya melihat reaksi
“berarti kamu sudah tahu dia” ucap rizki kaget
“udah tapi, hanya punggungnya saja yang kelihatan” ucap
rendi terkekeh
“syukur lah” ucap rizki tanpa sadar
“apa kak”
“hehehe nggak papa”
***
“tumben banget reni belum kasih kabar” ucap rizki mengecek
handponenya, dengan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
“apa dia sedang sibuk ya” tanya rizki pada dirinya sendiri
tok tok tok
“masuk saja,pintunya nggak di kunci” jawab rizki memakai
baju santainya
“kak, gue tidur disini ya, suntuk di kamarku” ucap rendi
membuka pintu
“terserah lo dah, yang penting lo nggak gangguin
__ADS_1
barang-barang gue”
“iya, nggak akan terjadi apa – apa sama barang kakak, orang
gue cuman mau tidur disini”
“tumben banget lo mau sekamar sama gue”
“habis darimana lo” tambah rizki yang baru menyadari pakai
rapi yang masih dipakai rendi
“ketemu klawdya” jawab rendi sengkat sambil membaringkan
tubuhnya ke tempat tidur
“ada hubungan apa kamu sama dia” tanya rizki mengikuti rendi
merebahkan tubuhnya
“bisa nggak pertanyaan lain selain itu, capek nih telinga
dengar itu mulu” gerutuh rendi menyandarkan tangannya di dahinya
“trus perasaan lo sama reni gimana”
“jangan tanya”
“terus gue harus tanya apa”
“tau ah gue mau tidur’ ucap rendi berusaha memejamkan
matanya
drrttt drrttt drrttt
handpone rizki berdering menandakan satu panggilan yang
bertuliskan R. magenta
“halo lo kemana aja, ,kenapa baru hubungin” kata rizki
mengangkat panggilan
“maaf dek, saya cuman mau ngabarin temannya habis
kecelakaan. saya mohon anda segera kesini soalnya dia harus segera dioperasi
tapi pihak rumah sakit memerlukan persetujuan dari keluarga korban” ucap
seorang perawat
“apa kecelakaan” ucap rizki kaget mendengar kabar tersebut
“baiklah saya segera ke sana, saya mohon lakukan yang
terbaik selamatkan dia” ucap rizki dengan suara yang meninggi
rendi yang mendengar yang dikatakan rizki langsung terduduk di samping kasur
“siapa yang kecelakaan kak” tanya rendi penasaran
“reni” jawab singkat rizki sambil mengambil jas serta kunci
mobilnya
“maksud kakak reni, darimana kakak kenal dia” tanya rendi
yang nampak bingung
“udah nanti kakak jelasin semua, kita harus ke rumah sakit
__ADS_1
sekarang. reni harus segera di operasi” jawab rizki melangkah keluar kamrnya di
susul rendi dari belakang