Tempat Cinta Berpulang

Tempat Cinta Berpulang
#19


__ADS_3

setelah pertemuan reni dan rendi beberapa hari lalu yang tak


terduga tersebut, kini reni tak ingin lagi menginjakkan kakinya di rumah rendi.


rizki yang mengetahui semua kejadian tersebut dari cerita rendi selalu berusaha


membujuk reni untuk terus menemaninya membuat makan siang untu rendi. awalnya


reni tak menggubris sama sekali permintaan rizki, bahkan ia mulai menjauhi


rizki karena baginya dia memang tak pernah pantas berada di sekitar keluarga


rendi. namun karena kegigihan rizki yang tak pernah surut meminta reni memasak


akhirnya pertahanan ego reni dapat terkalahkan, dengan syarat reni tak ingin


memasak di rumah rendi melainkan di panti. awalnya rizki tak setuju dengan


syarat reni namun setelah bernegoisasi dengan reni maka mereka menemukan jalan


yang baik bagi mereka berdua. setiap malam reni akan mengirim jenis bahan


masakan pada rizki dan sebelum menuju ke kantor rizki selalu menyisihkan


waktunya untuk menemani reni membeli bahan tersebut. rizki selalu menggunakan


alasan lari pagi untuk bisa pergi bersama reni.


“ini kak bekalnya” ucap reni memberikan kotak bekal


“makasih ya, yaudah aku langsung berangkat ke kantor ya”


kata rizki berpamitan pada reni


“ iya kak, hati – hati dijalan kak” kata reni melambaikan


tangan pada rizki yang menyalakan mesin mobilnya


“baiklah” ucap rizki tersenyum kearah reni yang dibalas


dengan senyum tipis reni


jam makan siang di kantor rendi


“kamu mau kemana ren” tanya rizki saat berpapasan dengan


rendi


“mau makan siang di luar sama klawdya” jawab rendi dengan


raut wajah yang tak dimengerti ekspresinya


“yahh padahal kakak bawa makan siang buat kamu” kata rizki


memelas menatap kearah kotak bekal di tangannya. rendi yang tak ingin


mengecewakan rizki akhirnya mengalah.


“yaudah kita makan di ruangan ku saja” kata rendi merogoh


sakunya mengambil benda pipih


“halo wydia, maaf ya mungkin nanti sore baru kita ketemu


“yah padahal aku udah mau berangkat” ucap klawdya dari seberang


sana


“iya maaf ya, aku ada jadwal mendadak soalnya”


“yaudah tapi janji ya nanti sore, nanti aku infoin tempat

__ADS_1


sama waktunya”


“iya, aku tutup telfonnya” ucap rendi menyusul rizki yang


sudah memasuki ruangannya


“masakan teman kakak lagi” ucap rendi menikuti rizkki yang


telah duduk di sofa membukan kotak bekal


“iya pasti ren” kata rizki dengan senyumnya


“kenapa dia harus repot – repot membuat ini, kita bisa makan


siang di kafe dekat kantor”


“ya nggak papa, kan masakannya juga tak kalah enak dari


makanan restoran, dan yang lebih penting lagi kehigienisannya terjamin”


“kapan kakak kenalin dia, dia pasti sangat cantik”


“tunggu saja waktunya ren”


“segitunya kakak sayang sama dia”


 “aku tahu setiap


malam kakak akan selalu senyum sama handpone, yang bisa dipastikan itu pasti


chatan dari dia. terus kakak setiap pagi keluar pagi buat ketemu dia” tambah


rendi


“kamu tahu semua itu darimana” tanya rizki yang mulai cemas


“udahlah kakak, aku pernah ngebintutin kakak, habisnya kakak


sering banget bertingkah aneh sihh” ucap rendi menahan tawanya melihat reaksi


“berarti kamu sudah tahu dia” ucap rizki kaget


“udah tapi, hanya punggungnya saja yang kelihatan” ucap


rendi terkekeh


“syukur lah” ucap rizki tanpa sadar


“apa kak”


“hehehe nggak papa”


***


“tumben banget reni belum kasih kabar” ucap rizki mengecek


handponenya, dengan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


“apa dia sedang sibuk ya” tanya rizki pada dirinya sendiri


tok tok tok


“masuk saja,pintunya nggak di kunci” jawab rizki memakai


baju santainya


“kak, gue tidur disini ya, suntuk di kamarku” ucap rendi


membuka pintu


“terserah lo dah, yang penting lo nggak gangguin

__ADS_1


barang-barang gue”


“iya, nggak akan terjadi apa – apa sama barang kakak, orang


gue cuman mau tidur disini”


“tumben banget lo mau sekamar sama gue”


“habis darimana lo” tambah rizki yang baru menyadari pakai


rapi yang masih dipakai rendi


“ketemu klawdya” jawab rendi sengkat sambil membaringkan


tubuhnya ke tempat tidur


“ada hubungan apa kamu sama dia” tanya rizki mengikuti rendi


merebahkan tubuhnya


“bisa nggak pertanyaan lain selain itu, capek nih telinga


dengar itu mulu” gerutuh rendi menyandarkan tangannya di dahinya


“trus perasaan lo sama reni gimana”


“jangan tanya”


“terus gue harus tanya apa”


“tau ah gue mau tidur’ ucap rendi berusaha memejamkan


matanya


drrttt drrttt drrttt


handpone rizki berdering menandakan satu panggilan yang


bertuliskan R. magenta


“halo lo kemana aja, ,kenapa baru hubungin” kata rizki


mengangkat panggilan


“maaf dek, saya cuman mau ngabarin temannya habis


kecelakaan. saya mohon anda segera kesini soalnya dia harus segera dioperasi


tapi pihak rumah sakit memerlukan persetujuan dari keluarga korban” ucap


seorang perawat


“apa kecelakaan” ucap rizki kaget mendengar kabar tersebut


“baiklah saya segera ke sana, saya mohon lakukan yang


terbaik selamatkan dia” ucap rizki dengan suara yang meninggi


rendi yang mendengar  yang dikatakan rizki langsung terduduk di samping kasur


“siapa yang kecelakaan kak” tanya rendi penasaran


“reni” jawab singkat rizki sambil mengambil jas serta kunci


mobilnya


“maksud kakak reni, darimana kakak kenal dia” tanya rendi


yang nampak bingung


“udah nanti kakak jelasin semua, kita harus ke rumah sakit

__ADS_1


sekarang. reni harus segera di operasi” jawab rizki melangkah keluar kamrnya di


susul rendi dari belakang


__ADS_2