
ana yang mendengar kabar tentang reni yang mengalami
kecelakaan langsung pergi ke rumah sakit tempat reni ditangani.
dengan nafas yang masih tak beraturan ana menghampiri
seorang perawat
“suster, pasien atas nama reni, dimana?”tanya ana dengan
nafas yang masih tersenggal – senggal
“adek lurus saja ke depan, ruangan kedua sebelah kanan”
jawab perawat tersebut sambil menunukkan arah ruangan yang ditempati reni
berbaring.
ceklek suara pintu terbuka
“kamu?” hanya kata itu yang ana ucapkan melihat
keberadaan rendi yang duduk di kursi samping tempat reni terbaring kaku, yang
membuat rendi
mengalihkan pandangannya.
“memangnya ada yang salah dengan keberadaanku, aku
hanya menunggu ren.” kata rendi dengan nada yang santai berusaha menutupi
kehawatirannya.
“sangat salah rendi dan aku mohon segera tinggalkan
reni” pintah ana mendekat ke arah tempat reni terbaring.
“maksud kamu apa?” tanya rendi pada ana yang tampak
tak menyukai keberadaannya.
“apa kamu masih mencintai reni” kata ana tanpa
menoleh kearah rendi
“itu bukan urusanmu” bentak rendi dengan tatapan
tajamnya
__ADS_1
“jelas itu urusan gue, reni sahabat gue dan gue
mohon dengan sangat tuan rendi kusuma untuk pergi dari ruangan ini”kata ana tak
mau kalah dengan suara yang meninggi dan tegas.
“gue nggak akan ninggalin reni, karena gue nggak seperti
dia yang ninggalin gue” tegas rendi dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“apa lo bilang, apa gue yang salah dengar ya” sinis
ana dengan nada mengejek
“ya anggap saja indra pendengar lo lagi bermasala”
ucap rendi dengan melipat tangannya di depan dadanya
“kamu....” ucap ana yang mulai tersulut emosi sambil
menunjuk ke arah rendi.
ceklek suara pintu yang terbuka dari luar
“maaf jika kalian ingin bertengkar silahkan keluar,
suara kalian sangat mengganggu pasien. silahkan selesaikan masalah kalian diluar”
tanpa diperintah dua kali rendi dan ana meninggalkan
ruangan tersebut.
“ini semua salah lo” ucap ana
“lo kok nyolot gitu, bukannya lo duluan yang mulai”
kata rendi membela diri
“kalau sampai terjadi hal buruk pada reni, lo yang
pertama kali berurusan dengan gue”
“lo nyalain gue”
“emang siapa lagi yang pantas disalahin selain lo”
“maksud lo apa, nggak usah nudu-nudu gue kalau lo
nggak tau apa-apa”
__ADS_1
“maksud
gue nggak apa-apa, tapi jangan buat reni menangis lagi.
cukup air mata yang sudah dia sia-siakan” ucap ana berlalu meninggalkan rendi di
ruang tunggu
“tunggu”kata rendi menahan ana dengan menggenggam
erat pergelangan tangan ana
“apa makud lo, harusnya gue yang kecewa dengan ren.
kenapa malah lo nuduh gue yang nggak-nggak. harusnya dia bersyukur gue masih
mau jagain dia” tambah rendi dengan mata yang mula berkaca-kaca mengingat kejadian
beberapa bulan lalu.
“dan lo harusnya bertrima kasih pada kakak ku. kalau
bukan karna kesigapannya reni pasti sudah tak akan selamat” ucap rendi sambil
menghempaskan cengramannya.
“mau kemana lo” tanya ana melihat rendi melangkah ke
ruangan reni
“emangnya lo nggak bisa lihat gue mau kemana?”
“untuk kali ini gue mohon. lo tinggalin tempat ini.
jangan buat masalah reni bertambah dengan keberedaan lo disampingnya” ucap ana
dengan tulus
“dia sudah cukup menderita akhir – akhir ini. cukup
air matanya yang terbuang untuk kepergianmu” ucap ana berlinangan air mata
“baiklah jika memang keberadaanku disampingnya
membuat dia menderita apa buktnya.” ucap rendi melemah
“jika hanya ini jalan keluarnya. aku akan membertahu
semuanya, meski aku harus ingkar janji pada reni” kata ana menyeka air matanya.
__ADS_1
“tapi tidak disini” tambah ana berlalu dari tempat
tersebut.