
“lo kenapa ren, semangat lo hilang kemana” ucap rizki
menepuk bahu rendi yang setengah kesadarannya entah kemana perginya.
“woi jangan bengong aja kalau ditanya, lo kenapa sih dari
pagi sampai mataharinya udah mau bilang bey muka lo ko selalu masam” tanya
rizki yang hanya dijawab dengan senyum paksa oleh rendi
“lo kenapa, coba deh lo cerita sama gue. siapa tahu gue bisa
bantu” tanya rizki yang melihat rendi yang tak bergeming sedikit pun
“emang lo bisa bantu apa” tanya rendi menglihkan
pandangannya dari laporan yang ada di tangannya
“ya apa saja, itu pun kalau gue tahu masalahnya, ya minimal
kasih solusi lah buat lo” jawab rizki mengambil air mineral botol di atas nakas
huuffffttt rendi menghempakan nafasnya kasar meletakkan
laporan tersebut dan menyusul rizki yang telah duduk di sofa
“yaudah gue cerita” ucap rendi setelah meminum air mineral
“reni ngejauhin gue, dia nggak mau ketemu gue untuk beberapa
waktu ke depan, dan gue nggak tahu apa yang sudah terjadi sama dia” jelas rendi
menyandarkan tubuhnya.
“bukannya kemarin lo kabur dari meeting buat ketemu reni ya”
tanya rizki dengan menaikkan kedua alisnya
“nggak” jawab rendi menutup matanya dan menaikka tangannya
ke keningnya
“kenapa terus lo udah kerumahnya” tanya rizki dengan
penasaran
“udah” ucap rendi mengingat hari kemarin yang sangat berat
ia lalui
__ADS_1
Flash on
setelah rendi meninggalkan klawdya, rendi berinisiatif
mencari reni di warteg depan kampus namun hasilnya nihil reni tak ada di sana
“permisi bu, reni ada” tanya rendi melangkah masuk ke dalam
warteg
“maaf den siapa ya, ada keperluan apa dengan nak reni” tanya
sang pemilik warteg
“saya teman reni bu, saya perlu ketemu sama dia bu” jawab
rendi terbata bata
“arrgghhhh teman apanya, kami kan sudah resmi pacaran”
gerutuh rendi dalam hatinya mengingat kata teman yang ia klaim
“dia nggak ada den, dia minta izin nggak masuk hari ini”
“reni kemana bu, apa dia baik – baik saja” tanya rendi mulai
“ibu juga kurang tahu den, cuman dia bilang tadi ada sedikit
urusan mendadak jadi dia nggak bisa masuk hari ini. itupun dia ngabarin lewat
sambungan telepone” jelas sang pemilik warung
“oh makasi ya bu, kalau begitu saya cari reni ke panti dulu.
saya permisi” ucap rendi berlalu
sesampainya di pantipun rendu tak kunjung bisa bertemu
dengan reni. rendi yang semakin cemas kini hanya bisa mecoba menghubungi reni.
reni kemudian bisa dihubungi
“hallo ren, kamu dimana, kamu nggak papakan” tanya rendi
dengan perasaan sedikit lega
“iya aku nggak papa” ucap reni diseberang telepone
“kamu dimana tadi orang panti bilang kamu nggak ada” tanya
__ADS_1
rendi dengan nafas yang berat
“iya maaf ya nggak ngabarin aku lagi ada urusan mendadak,
kamu pulang saja aku nggak pulang ke panti malam ini”
“kamu dimana biar aku susulin ke sana” kata rendi dengan
nafas yang sedikit memburu
“kamu nggak usah khawatir, oh ya aku tutup dulu ya” ucap
reni mumutuskan percakapan
“dia kenapa, kayaknya ada yang ia sembunyikan dariku” ucap
lirih rendi menatap handpone di genggamannya
rendi kemudian masuk kedalam mobilnya dan menyalahkan
mesiinnya, namun hati kecilnya seakan terasa sakit meninggalkan tempat itu
hingga ia kembali mematikan mesin mobinya dan memutuskan untuk menunggu di
depan panti
selang beberapa menit handpone rendi kembali berdering
menandakan satu pesan masuk
“ren aku tahu kamu khawatir sama aku, tapi aku nggak papa
kok, sebaiknya kamu pulang untuk istirahat besok kan kamu harus pergi ke kantor”
isi pesan dari reni
“darimana dia tau aku belum pulang” ucap rendi bertanya –
tanya
“sudahlah sebaiknya aku pulang besok akan ku minta
penjelasan darinya” ucap rendi menyalakan kembali mesin mobilnya dan memacunya
melewati jalanan yang sudah mulai sepi
kendaraan lain.
Flash off
__ADS_1