
Setelah proses perkuliahan selesai reni dengan langkah gontai menyusuri koridor kampus. Semangatnya seakan hilang melayang entah kemana. Dan fikirannya entah sudah sampai mana melayangnya. "Bagaimana hubungan ini akan berakhir?" Tanya reni pada dirinya sendiri. "Haruskah sesingkkat ini?" Tanya reni semakin risau.
"Mungkin sebaiknya aku pulang dulu. Mandi untuk menyegarkan tubuh ini serta aku butuh menjernikan pikiran ini" kata reni melangkah meninggalkan kampus tempatnya menimbah ilmu. Sebelumnya reni sempat mengirimkan pesan singkat ke warteg tempatnya bekerja setelah perkuliahan selesai,
"slamat sore bu
hari ini reni minta izin nggak masuk.
Lagi kurang enak badan
Maaf ya bu"
Saat sampai di depan panti reni kembali dikejutkan dengan mobil yang terparkir di depan panti. Dengan ragu reni melangkahkan kakinya memasuki halaman depan yang penuh dengan tanaman rawat berbagai jenis bunga. "Ehh, reni udah pulang nak" kata yang menyambut kehadirannya berbarengan dengan senyum ramah perempuan paruh baya tersebut.
"Sini nak, ada yang nyariin kamu" lanjut ibu tersebut dengan ramah.
"Ibu tinggal ke dalam dulu ya" ucap wanita tersebut sambil berlalu memasuki panti.
"ada keperluan apa bapak kusuma yang terhormat datang ketempat ini" ucap reni tanpa berbasa basi serta dengan penekanan yang cukup jelas.
"Sepertinya semua keluargamu disini cukup menyayangi mu" ucap pak kusuma dengan santai sambil menyeruput kopi yangg ada di depannya. Reni yang tak paham hanya menanggapi dengan kerutan di keningnya.
"Baiklah langsung saja ke intinya apa mau anda" ucap reni dengan nada pasrah.
"Bukankah sudah jelas tujuan saya kemari!" ucap pak kusuma dengan nada sinisnya.
"Jauhi rendi maka keluargamu beserta tempat ini akan baik - baik saja" lanjutnya
Reni yang masih dengan kebisuannya serta pikirannya yang masih terus menjalar kemana-mana.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Waktu saya sangat berharga untuk saya sia - sia seperti ini" kata pak kusuma beranjak meninggalkan tempat tersebut.
"dan satu hal lagi jangan sampai siapa pun tahu akan hal ini atau kamu akan menerima surat DO dari kampus" tambahnya sebelum berlalu.
"Ahh terserah lah. Orang kaya mah bebas"
"Apa mungkin ini yang terbaik untuk semua" batin reni menatap lurus kedepan.
"Tidak mengapa berkorban untuk keluargamu" ucap reni memantapkan pilihan keputusannya meninggalkan rendi
__ADS_1
Drrttt drrttt
Ponsel reni yang berdering entah untuk ke berapa kalinya namun sang pemilik enggan untuk menggubrisnya.
Reni lebih memilih mendekat ke jendela kamar menatap mobil rendi yang masih terparkir di depan panti
"Mungkin ini terakhir kalinya aku melihat senyummu untukku. Aku tahu aku egois dallam hubungan ini. Tapi percayalah bahwa keputusan ini juga sulit untukku. Maaf" ucap reni dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Reni memberanikan diri mengambil ponsel dan menghubungi nomor yang menghubunginya tadi. Dan meminta sang pemilik disebrang segera kembali. Meski reni telah memutuskan untuk meninggaalkan rendi namun hatinya masih begitu peduli dan taak menginginkan rendi kenapa - kenapa.
Saat deruh suara mobil rendi tak lagi terdengar reni merasa sedikit lega.
Bulir - bulir hangat mulai berlinang di pipi reni. rasa sesak kian menyeruak dalam dadanya. Reni mulai terisak kecil, merenungi nasibnya yang baru merasakan posisi istimewah bagi orang lain namun harus meninggalkan orang tersebut. "Sesingkat inikah waktuku merasakannya Tuhan" ucap reni sambil melihat fotonua bersama rendi.
"apa aku sudah kalah. Hiks hiks dalam mempertahankannya" isakan kecil reni yang terdengar begitu pilu dengan ratapannya pada ketakberuntungannya.
aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini
aku tak percaya lagi
akan guna matahari
yang dulu mampu terangi
sudut gelap hati ini
aku berhenti berharap
dan menunggu datang gelap
sampai nanti suatu saat
tak ada cinta kudapat
kenapa ada derita
__ADS_1
bila bahagia tercipta
kenapa ada sang hitam
bila putih menyenangkan
aku pulang tanpa dendam
kuterima kekalahanku
aku pulang tanpa dendam
kusalutkan kemenanganmu
kau ajarkan aku bahagia
kau ajarkan aku derita
kau tunjukkan aku bahagia
kau tunjukkan aku derita
kau berikan aku bahagia
kau berikan aku derita
aku pulang tanpa dendam
kusalutkan kemenanganmu
Sheila on 7 - berhenti berharap
__ADS_1