
“rendi, boleh gue masuk” ucap klawdya mendongakkan
kepalanya ke dalam ruang kertja rendi.
“masuk saja wid” ucap rendi beranjak berpindah duduk
ke sofa dalam ruangannya.
“kenapa tumben datang nemuin aku?” tambah rendi
“nggak ada apa – apa sih, kebetulan tadi lewat di
depan jadi sekalian mampir” jelas klawdya
“mau minum apa?” tawar rendi
“nggak usah gue cuman bentar kok”
“lo sendiri, yang lain pada kemana?” tanya rendi
“tadi bareng sama yang lain, tapi mereka duluan pulang”
jelas klawdya
“oh, jadi maksud kedatangan lo kesini apa?”
“lo punya hubungan apa sama reni” kata klawdya dengan tatapan tajam
“emang kenapa” kata rendi
“kemarin gue lihat kalian di taman” kata klawdya dengan rasa
sesak didada bila mengingat kejadian kemarin.
“kalian pacaran” tanya klawdya
“belum” ucap rendi dengan senyumnya
“tapi tak akan lama lagi” sambung rendi dengan senyum
yang semakin merekah
“oh begitu, yaudah gue pulang dulu ya” pamit widya dengan
senyum yang dipaksakan
__ADS_1
“ok hati – hati ya” ucap rendi yang dijawab anggukan widya
klawdya yang tengah berada dalam mobilnya menumpahkan air
matanya yang sempat ditahannya. “kenapa lo nggak peka rendi, apa lo emang nggak
mau tahu perasaan gue, sakit ren dada gue sesak liat lo sama perempuan lagi”
teriak klawdya dengan memukul – mukul setir mobil. dia kembali mengingat masa
kecilnya bersama rendi.
Flash on
“ren ayo main itu” ucap klawdya kecil menunjuk perosotan
“jangan yang itu nanti kamu jatuh” kata rendi dengan
memegang pundak klawdya
“tapi aku mau main” ucap klawdya sambil merengek
“gimana kalau kita main ayunan saja, nanti aku yang dorong
ok” usul rendi
dibantah
“gimana kalau habis main ayunan kita beli es krim” tawar
rendi
“janji ya” ucap klawdya mengajungkan jari kelingkingnya
“iya janji” jawab rendi menyambut kelingkinng klawdya
“hahahaha dorong lebih keras ren” tawa klawdya bermain
ayunan
“iya kamu pegangan ya” kata rendi mendorong ayunan tersebut
setelah mereka selesai bermain ayunan rendi pun memenuhi
janjinya membelikan klawdya es krim vanila kesukaannya.
__ADS_1
“nih untuk kamu” ucap rendi memberikan es krim vanila
“makasih ya, es krimnya enak” kata klawdya memakan
es krimnya
“iya sama – sama” ucap rendi tersenyum manis pada
klawdya.
Flash off
sejak kecil rendi dan klawdya sering menghabiskan
waktu bersama, mereka bahkan saling mengenal kepribadian masing – masing. namun saat menginjak umur 12 tahun rendi harus
pindah keluar kota untuk tinggal bersama neneknya. rendi sebenanya tak tega
meninggalkan klawdian tapi dia juga tak tega menolak permintaan dari nenek
kesayangannya itu. setelah mendengar kepulangan rendi beberapa bulan lalu klawdya
sangat senang akan hal tersebut, bahkan dia sendiri yang menjemput rendi di
bandara serta mengusulkan agar rendi berkuliah di satu universitas dengannya
kepada orang tua rendi. namun setelah mendengar yang dikatakan rendi serta raut
wajah rendi yang sangat bahagia saat berada di dekat reni di taman membuat klawdya
merasakan sesak dalam dada, sehingga membuat klawdya yang telah menyukai rendi
sedari kecil begitu tak ingin membiarkan rendi pergi darinya.
di taman reni yang dilandah rasa galau, duduk termenung
mengingat permintaan rendi padanya kemarin. “sebenarnya gue juga ngerasa nyaman
di sampingnya, tapi apa itu cukup untuk mengiyakan permintaannya. dari awalkan
niat gue cuman bantuin dia” batin reni. reni kemudian mengambil salah satu bunga,
kemudian mulai mencabut satu per satu kelopak bunga tersebut dengan harapan
bunga itu akan memberinya jawaban yang dia butuhkan. dan ternyata kelopak bunga
__ADS_1
yang terakhir mewakili kata iya.