
“lo kenapa ren” tanya rizki yang mendekati meja bar tempat
rendi terduduk di salah satu cub malam
“sini kak temani aku minum” ucap rendi dengan mata yang
sembab membalikkan badannya ke arah rizki berjalan
“kamu mabuk” kata rizki yang dengan cepat menghampiri rendi.
beberapa waktu lalu rizki yang masih berada di kantor sedang
menyelesaikan laporan pembangunan sebuah gedung. tiba – tiba mendapat kabar dari
peayan di bar tersebut bahwa adiknya tengah berada di cub malam dan dia diminta
untuk menjemput adiknya karena rendi sudah tak mampu mengendalikan kesadarannya
“ayo kita pulang” ucap rizki merangkul rendi sembari
membantunya berdiri. “kenapa bisa sampai seperti ini ren” tanya rizki dalam
hatinya yang merasa ibah pada keadaan rendi sekarang.
“aku benci dia” ucap rendi tanpa sadar
“aku tahu kamu takkan sanggup membenci dia ren, karena hanya
dia yang mampu mengubah dirimu” kata rizki lirih sambi terus berjalan
“aku akan membawa dia kembali. aku tahu kamu sangat
membutuhkan dia” batin rizki meirik kearah jok belakang, dimana rendi masih
terus menggerutuh tanpa sadar.
tak butuh waktu lama mobil rizki melewati jalanan ibu kota
yang kini mulai sepi kendaraan tersebut.
pagi harinya
“auhh kepalaku” rintih rendi tersadar dari tidurnya
“bagaimana caranya aku puang kemarin” tanya rendi pada
dirinya saat menyadari dirinya berada di kamarnya
“sebaiknya aku pergi mandi agar sakit di kepalaku agak
berkurang” batin rendi beranjak dari tempat tidurnya. setelah rendi selesai
membersihkan dirinya, “lapar” ucap rendi memegangi perutnya yang dari kemarin
__ADS_1
tak di isi apapun kecuali minuman beralkohol di club malam.
“bi semua orang kemana” tanya rendi menuruni anak tangga
pada pelayan yang sedang membersihkan rumah
“slamat pagi tuan, kalau nyonya katanya pergi ke acara
pertemuan, sedangkan tuan rizki sudah berangkat tadi pagi – pagi sekali katanya
ada urusan mendadak”
“ohh” jawab singkat rendi beranjak duduk di sofa.
“bi kemaren bagaimana saya bisa pulang” tanya rendi
“kurang tahu juga tuan, tapi penjaga kebun tadi bilang
katanya tuan rizki yang membawa tuan kemarin saat larut malam” jelas peyan
tersebut
“begitu ya, bi tolong buatin saya sup, saya masih agak
pusing. nanti diantar saja ke kamar, saya mau istirahat hari ini” pintah rendi
berjalan kembali ke lantai dua.
“baik tuan” ucap sang pelayan melangkah ke dapur
“permisi bu reninya ada” tanya rizki pada seorang ibu yang
tengah menyirami bunga
“temannya reni ya,” tanya ibu tersebut yang dijawab anggukan
kepala rizki
“silahkan duduk dulu nak, ibu akan panggikan reninya” ucap
perempuan paruh bayah tersebut meninggalkan rizki.
“hy kak, apa kabar” hanya kata itu yang mampu reni ucapkan
“aku baik ren, tapi tidak dengan rendi” ucap lirih rizki
“maaf ya kak” kata reni sambil menunduk
“bukan padaku reni, tapi katakan itu pada rendi. keadaannya
sekarang sangat terpuruk.” ungkap rizki mengingat keadaan rendi, keheningan
kemudian menghampiri mereka. tak satu pun yang mengeuarkan suara meraka hanya
__ADS_1
sibuk dengan apa yang ada di fikiran mereka masing – masing.
“apa benar kamu ngehianatin rendi” tanya rizki membuka
percakapan
“kak aku nggak pernah melakukan hal tersebut” jawab reni
mengangkat wajahnya
“lalu kenapa kamu nggak mau nemuin rendi, kamu yang sudah
mengubah hidupnya beberapa hari lalu tapi kamu juga yang membuatnya menjadi
sangat terpuruk lebih dari sebelum kamu datang” ucap rizki penuh emosi
mengingat adiknya.
“maaf kak, untuk alasan ku nggak menemui rendi aku nggak
bisa beritahu kakak, tapi aku nggak pernah ingin membuat rendi menjadi seperti
sekarang, karena aku sangat menyayanginya.” ucap reni dengan mata yang mulai
berkaca – kaca.
“kalau kamu memang sayang sama rendi mengapa kamu
mempermainkan perasaannya”
“aku nggak pernah berniat mempermainkan perasaan siapapun”
ucap reni beranjak berdiri
“tunggu” kata rizki memegang pergelangan tangan reni untuk
menghentikannya berlalu
tes tanpa terasa air mata reni muai menetes
“kalau kamu benar sayang sama rendi buktikan, bukan seperti
ini. dengan seperti ini kamu hanya menyiksa diri rendi. atau memang benar bahwa
kamu hanya ingin mempermainkan rendi”
“bagaimana aku bisa membuktikannya” ucap reni menghapus air
matanya kemudian berbalik menghadap rizki
“bantu dia kembali tersenyum, aku mohon” kata rizki dengan
mata yang mulai memerah
__ADS_1
“untuk hal itu aku tidak bisa janji, tapi akan kulakukan
yang kubisa. itupun kalau kakak bisa membantuku” kata reni menatap rizki