Tempat Cinta Berpulang

Tempat Cinta Berpulang
#16


__ADS_3

“lo kenapa ren” tanya rizki yang mendekati meja bar tempat


rendi terduduk di salah satu cub malam


“sini kak temani aku minum” ucap rendi dengan mata yang


sembab membalikkan badannya ke arah rizki berjalan


“kamu mabuk” kata rizki yang dengan cepat menghampiri rendi.


beberapa waktu lalu rizki yang masih berada di kantor sedang


menyelesaikan laporan pembangunan sebuah gedung. tiba – tiba mendapat kabar dari


peayan di bar tersebut bahwa adiknya tengah berada di cub malam dan dia diminta


untuk menjemput adiknya karena rendi sudah tak mampu mengendalikan kesadarannya


“ayo kita pulang” ucap rizki merangkul rendi sembari


membantunya berdiri. “kenapa bisa sampai seperti ini ren” tanya rizki dalam


hatinya yang merasa ibah pada keadaan rendi sekarang.


“aku benci dia” ucap rendi tanpa sadar


“aku tahu kamu takkan sanggup membenci dia ren, karena hanya


dia yang mampu mengubah dirimu” kata rizki lirih sambi terus berjalan


“aku akan membawa dia kembali. aku tahu kamu sangat


membutuhkan dia” batin rizki meirik kearah jok belakang, dimana rendi masih


terus menggerutuh tanpa sadar.


tak butuh waktu lama mobil rizki melewati jalanan ibu kota


yang kini mulai sepi kendaraan tersebut.


pagi harinya


“auhh kepalaku” rintih rendi tersadar dari tidurnya


“bagaimana caranya aku puang kemarin” tanya rendi pada


dirinya saat menyadari dirinya berada di kamarnya


“sebaiknya aku pergi mandi agar sakit di kepalaku agak


berkurang” batin rendi beranjak dari tempat tidurnya. setelah rendi selesai


membersihkan dirinya, “lapar” ucap rendi memegangi perutnya yang dari kemarin

__ADS_1


tak di isi apapun kecuali minuman beralkohol di club malam.


“bi semua orang kemana” tanya rendi menuruni anak tangga


pada pelayan yang sedang membersihkan rumah


“slamat pagi tuan, kalau nyonya katanya pergi ke acara


pertemuan, sedangkan tuan rizki sudah berangkat tadi pagi – pagi sekali katanya


ada urusan mendadak”


“ohh” jawab singkat rendi beranjak duduk di sofa.


“bi kemaren bagaimana saya bisa pulang” tanya rendi


“kurang tahu juga tuan, tapi penjaga kebun tadi bilang


katanya tuan rizki yang membawa tuan kemarin saat larut malam” jelas peyan


tersebut


“begitu ya, bi tolong buatin saya sup, saya masih agak


pusing. nanti diantar saja ke kamar, saya mau istirahat hari ini” pintah rendi


berjalan kembali ke lantai dua.


“baik tuan” ucap sang pelayan melangkah ke dapur


“permisi bu reninya ada” tanya rizki pada seorang ibu yang


tengah menyirami bunga


“temannya reni ya,” tanya ibu tersebut yang dijawab anggukan


kepala rizki


“silahkan duduk dulu nak, ibu akan panggikan reninya” ucap


perempuan paruh bayah tersebut meninggalkan rizki.


“hy kak, apa kabar” hanya kata itu yang mampu reni ucapkan


“aku baik ren, tapi tidak dengan rendi” ucap lirih rizki


“maaf ya kak” kata reni sambil menunduk


“bukan padaku reni, tapi katakan itu pada rendi. keadaannya


sekarang sangat terpuruk.” ungkap rizki mengingat keadaan rendi, keheningan


kemudian menghampiri mereka. tak satu pun yang mengeuarkan suara meraka hanya

__ADS_1


sibuk dengan apa yang ada di fikiran mereka masing – masing.


“apa benar kamu ngehianatin rendi” tanya rizki membuka


percakapan


“kak aku nggak pernah melakukan hal tersebut” jawab reni


mengangkat wajahnya


“lalu kenapa kamu nggak mau nemuin rendi, kamu yang sudah


mengubah hidupnya beberapa hari lalu tapi kamu juga yang membuatnya menjadi


sangat terpuruk lebih dari sebelum kamu datang” ucap rizki penuh emosi


mengingat adiknya.


“maaf kak, untuk alasan ku nggak menemui rendi aku nggak


bisa beritahu kakak, tapi aku nggak pernah ingin membuat rendi menjadi seperti


sekarang, karena aku sangat menyayanginya.” ucap reni dengan mata yang mulai


berkaca – kaca.


“kalau kamu memang sayang sama rendi mengapa kamu


mempermainkan perasaannya”


“aku nggak pernah berniat mempermainkan perasaan siapapun”


ucap reni beranjak berdiri


“tunggu” kata rizki memegang pergelangan tangan reni untuk


menghentikannya berlalu


tes tanpa terasa air mata reni muai menetes


“kalau kamu benar sayang sama rendi buktikan, bukan seperti


ini. dengan seperti ini kamu hanya menyiksa diri rendi. atau memang benar bahwa


kamu hanya ingin mempermainkan rendi”


“bagaimana aku bisa membuktikannya” ucap reni menghapus air


matanya kemudian berbalik menghadap rizki


“bantu dia kembali tersenyum, aku mohon” kata rizki dengan


mata yang mulai memerah

__ADS_1


“untuk hal itu aku tidak bisa janji, tapi akan kulakukan


yang kubisa. itupun kalau kakak bisa membantuku” kata reni menatap rizki


__ADS_2