Terbangun Menjadi Seorang Putri

Terbangun Menjadi Seorang Putri
~Eleven


__ADS_3

Pagi hari itu, para pelayan sudah mulai kembali bekerja dan membereskan bekas perayaan semalam yang belum selesai mereka kerjakan. Diantara para pelayan tersebut, terlihat Xio mai yang tengah berjalan sambil sesekali berlari kecil menuju suatu tempat. Sesampainya di tempat yang di tuju, Mai berhenti. Lalu menatap sebuah pintu yang terlihat tinggi, besar, lebar dan mewah itu. Mai tiba - tiba menghelakan napasnya, seakan hari yang berat akan terjadi padanya. Mai pun memantapkan hati dan menyemangati dirinya sendiri sebelum masuk membuka pintu dihadapannya itu.


"Semangat Mai!" gumamnya penuh tekad.


Mai membuka pintu tersebut dan berangsur masuk begitu saja tanpa mengetuk. Dengan langkah yang penuh tekad terisi semangat. Mai melangkahkan kakinya dengan cepat. Namun tiba - tiba terhenti, matanya membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Nona...." teriaknya tiba - tiba.


Mai semakin melangkahkan kakinya cepat sampai menuju pinggiran ranjang nonanya. Dia tak habis pikir dengan nona yang ia layani itu. Matahari sudah semakin meninggi, namun nonanya masih berada di balik selimut tengah tidur lelap. Mai benar - benar tak habis pikir dengan kebiasaan baru nonanya, padahal dulu nonanya itu sangat rajin bangun pagi. Namun sekarang, justru sebaliknya.


"Nona.. bangun sudah siang! Ya ampun nona bangun, mana ada anak gadis bangunnya siang begini?" omel Mai sembari menggoyang - goyangkan tubuh nonanya. Tapi orang yang dibangunkan tidak bereaksi sama sekali.


"Bangun nona, jangan tidur terus. Ya ampun, kalau begini terus bisa - bisa nona seperti babbi pemalas" cerocos Mai berusaha membangunkannya.


Namun tetap saja, orang yang dibangunkan tidak bangun dan hanya merespon untuk membalikan badannya saja, membelakangi Mai. Karena merasa terusik akan tidur nyenyaknya.


Melihat itu, Mai tak habis pikir bagaimana nonanya itu terus tertidur dan mengabaikannya. Sejenak ia pun berhenti, terpikirkan sebuah cara agar sang nona terbagun.


"Baiklah, terus tidur saja nona" ucapnya seolah - olah menyerah.


Da xi yang sebenarnya sudah terbangun dari tadi, setelah mai berusaha membangunkannya dengan cara menggoyang - goyangkan tubuhnya itu. Seketika menyunggingkan senyumannya dibalik selimut, karena ia merasa Mai tertipu oleh dirinya. Namun..,


"Ahahaha.. Mai berhenti, Mai geli, kumohon berhenti lah.." Da xi meronta - ronta.


Da xi tak bisa menahan kegelian karena mai menggelitiki tubuhnya.


"Ini hukuman untukmu nona, beraninya nona mencoba mengelabuiku ya" ucap Mai tersenyum jahat dan terus menggelitiki.


"Iya.. iya.. baiklah, aku mengaku salah. Tolong hentika..nn ahaha...," teriak Da xi. Karena Mai semakin melancarkan aksinya itu.


Mai berhenti, lalu berdiri tegak menyilangkan kedua tangannya kebelakang, tak lupa ia menyinggungkan senyumannya itu.


"Huft..," menghela napas lega.


Kemudian ia bangun dari tidurnya dan menatap wajah sang pelayan kesal. Namun si pelaku malah tersenyum tanpa merasa bersalah sekali.


"Dasar kau ini," kesal. mengatakannya sambil akan memukul kepala mai. Tapi Mai yang sudah hapal betul semua gestur tubuh sang nona, menghindar sebelum terkena.

__ADS_1


"Nona, semuannya sudah siap. Cepat mandi," ucap Mai sembari tersenyum.


"Huh.." beranjak pergi menuju kamar mandi dengan kesal.


-------


Kini Da xi di ikuti oleh Mai pelayannya tengah berjalan santai menuju suatu tempat, namun mereka masih berada di dalam kediaman.


"Memurutmu bagaimana penampilanku?" tanya Da xi tanpa menoleh kebelakang.


"Bagus sih, namun terasa aneh saja. Apalagi riasannya," sahut Mai.


Karena saat itu penampilan Da xi sedikit berbeda dengan biasanya. Lebih sedikit soft dalam riasan dan tidak menor seperti riasan pada umumnya.


"Huh, kau ini yah mai benar - benar deh. Lebih bagus seperti ini tahu, daripada yang biasanya. Sekarang itu harus mengikuti trend," ujar Da xi. Berhenti sebentar untuk berbalik mengatakannya pada mai.


"Trend?" tanya Mai tak paham.


"Iya trend," balasnya mengiyakan. Namun seketika tersadar, mana mungkin Mai tahu maksud perkataannya itu.


Huh percuma saja bilang seperti itu pada mai, dia kan mana tahu arti trend.


Pokoknya aku harus cepat - cepat menunjukannya pada babang tamvan. Pasti dia bakalan terpesona padaku. Tapi.., dia lagi berada dimana yah? dicari - cari di kediamannya tidak ada.


Kemudian dia melanjutkan jalannya kembali dan mai yang ketinggalan berusaha mengejarnya.


"Nona, nona, kenapa meninggalkan mai nona?" Mai berusaha mengatur napasnya.


"Cepatlah Mai, ayo kita cari kakak kedua" perintahnya. Tak perduli dengan pelayannya itu yang ngos - ngosan.


"Tapi nona, barusan kan kita sudah ke kediamannya kakak kedua?" keluh Mai yang sudah kecapean mengikuti nonanya kesana - kemari.


"Makanya itu, ayo kita cari"


"Huh nona ada - ada saja," gerutu Mai mengeluh. Karena sudah tak sanggup jalan lagi.


"Kalau tidak suka jangan mengikutiku," celotehnya tak perduli.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan Mai yang terus mengeluh, Da xi terus mencari kakak dan yi nya itu ke setiap penjuru kediaman.


Dimana sih si babang tamvan, aku kan ingin buru - buru bertemu dengannya.


Da xi terus berjalan menyusuri setiap sudut rumah, bahkan ketika Mai pelayannya itu mengeluh ia tak perduli sama sekali dan terus berjalan mengabaikan.


"Nona.. nona.. tunggu," teriak Mai yang tertinggal jauh di belakang.


Aduh.. si Mai ini membuatku kesulitan saja. Kalau dia cape ngapain juga terus memaksakan mengikutiku. Lagipula aku masa bodo dia mau ikut atau tidak. Ucap batinya kesal.


Tak terasa sudah berapa lama ia berjalan, Da xi tiba di sebuah taman belakang kediaman ayahnha. Ketika itu matanya mengarah kesebuah gazebo dan melihat sesosok yang ia kenali. Lalu ia tersenyum sumringah melihat itu.


"Bukankah itu kakak Dan yi ku? betul itu dia," gumamnya senang.


Da xi melihat sesosok kakak keduanya di sebuah gazebo, walaupun saat itu kakak nya tidak terlihat begitu jelas karena tertutup tanaman rambat di gazebo.


Bahkan di tempat yang tak terlihat pun, kakak Dan yi memancarkan sinarnya. Orang tampan memang beda.


Dia terus tersenyum melihatnya dari kejauhan, seperti seorang gadis yang tengah jatuh cinta. Padahal itu adalah kakaknya sendiri, walaupun sebenarnya dalam jiwanya itu adalah orang lain. Jadi ga papa kali yah, hehehe.


Saking senangnya, ia langsung berjalan setengah berlari kecil dengan semangat untuk menghampiri kakanya itu.


"Aku harus segera kesana," gumamnya sembari tersenyum.


Sementara itu, mai yang ketinggalan jauh Berusaha untuk menyusul. Tapi setelah tiba dan melihat sososk nonanya, Da xi sudah berjalan pergi.


"Huh.., sampai kapan aku akan seperti itu?" keluh Mai yang kecapean. "Kalau begini terus, namanya penyiksaan. Nona Da xi benar - benar deh," lanjutnya sambil mengatur napas.


Da xi berjalan mendekat ke gazebo dengan terus tersenyum. Setibanya di tempat itu, dirinya memanggil sang kakak dengan penuh semangat.


"Kakak Dan yi...," panggil daxi tersenyum memeluknya dari belakang.


Tentu saja orang tersebut terkejut dengan pelukan yang tiba - tiba, terlebih ia diam mematung terus menatap ke arah depan. Sepertinya saat itu bukan hanya ada dia seorang di gazebo. Namun karena Da xi terlalu bersemangat, jadi ia tidak menyadarinya.


Tbc..


***

__ADS_1


Hallo semua, jangan lupa tinggalkan jejak yah dengan like, komen, rate dan juga vote. Karena itu sangat membantu agar aku bisa lebih semangat lagi updatenya.


Terima kasih❤


__ADS_2