Terbangun Menjadi Seorang Putri

Terbangun Menjadi Seorang Putri
~Eight


__ADS_3

Pukul 19:00, kamar gracia.


Gracia tengah berkutik dengan layar laptopnya, dirinya itu begitu sibuk tengah menonton c-drama yang baru - baru ini keluar. Sambil menonton, tak lupa ia selalu membawa cemilan yang akan menemaninya. Ketika ia tengah fokus menonton, ibunya masuk namun ia tak sadar.


"Aish.. anak itu, kerjanya cuma nonton aja" decak siska melihat anaknya yang tengah fokus ke layar laptop.


"Cia," panggilnya. Namun tak digubris sama sekali. Karena tak ada sahutan, ia mencoba memanggilnya kembali "Ciaaa," panggilnya untuk yang kedua kali.


Wahh yang jadi tokoh cowonya ganteng, namanya dia siapa ya? coba nanti gue cari.


"Ciaaaa," teriak siska memanggilnya. Namun lagi - lagi tidak ada sahutan. Karena hal itu, ia mulai merasa kesal dan menghampirinya lebih dekat.


"Heh, pantesan ga nyaut. Pake headset ternyata" gumamnya dalam hati.


Karena sudah jelas kalau memanggilnya lagi tak akan mungkin disahut, jadi siska menepuk punggungnya.


Weh gila, di banding dengan si om. cowok ini (aktor c-drama) lebih ganteng darinya, tapi kalau dibandingkan dengan babang tamvan. Jelas babang tamvan juaranya, ucap batinya tersenyum memikirkan hal itu.


"Astaga!!"


Gracia terlonjak kaget, karena tiba - tiba bahunya di tepuk. Apalagi saat itu ia tengah fokus dengan imajinasinya sendiri.


"Ibu, bikin kaget aja deh. Nanti kalau jantungan gimana?!" teriakku marah.


"Abisnya dipanggil - panggil dari tadi ngga nyaut - nyaut" tutur ibu.


Gracia hanya memandang ibunya itu kesal, namun tak bisa meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Jangan nonton terus, cepet turun abis itu makan" suruh ibu.


"Ini juga aku sedang makan bu," jawabnya sambil mengangkat snack - snack yang sedang ia makan.


Ibu menghela napas, "aish.. kau ini, buruan turun terus makan" suruh ibu kembali. Lalu pergi meninggalkan gracia.


"Biak bu," jawabku dengan malas.


....


Gracia kini berada dimeja makan bersama dengan ibunya. Ia sudah selesai menghabiskan makan malamnya itu, lalu pamit pergi untuk kembali ke kamarnya.


"Bu, aku kekamar dulu"


Gracia melangkahkan kakinya satu persatu menaiki anak tangga. Ia begitu terlihat tak bersemangat dalam langkahnya itu. Pikirannya penuh dengan dirinya yang pernah menjalani time travel, namun kembali dengan begitu cepat. Dirinya masih menyayangkan hal itu, karena ia baru saja bisa menikmati kehidupan kuno penganggurannya itu.


Gracia duduk dipinggiran jendela kamarnya, menatap langit malam dengan rembulan bulat sempurna yang terlihat indah itu.


Untung saja, hari itu aku tidak pakai baju warna kuning. Kalau iya, bisa - bisa aku yang mengambang itu dikira t*i, lanjutnya sambil menatap kearah langit.


"Aku ingin kembali," gumam gracia. Menundukan kepalanya bersandar kejendela dan menutup mata karena mulai mengantuk. Tiba - tiba sebuah cahaya turun dari langit dengan sangat cepat, namun gracia tak melihatnya karena tertidur.


****


Pagi itu, di kediaman mantan perdana mentri wu do ran. Para pengurus rumah dan para pelayan di kediaman itu tengah sibuk mempersiapkan sesuatu. Sepertinya di kediaman mantan perdana mentri akan di adakan acara, namun belum diketahui acara apa yang akan terjadi. Tapi apabila dilihat dari sibuknya para penghuni di kediaman itu. Terlihat para pelayan tengah mempersiapkan bermacam - macam hidangan dan menghias ruangan utama kediaman itu. Apa mungkin, mereka semua tengah merayakan hari peringatan kematiannya wu da xi? secarakan beberapa waktu yang lalu, nona satu - satunya dikediaman itu jatuh kesungai. Apalagi saat itu, pelayan pribadi nona terlihat seperti orang gila. Merengek menangis tanpa mengeluarkan air mata sambil memanggil - manggil nama nonanya itu. Namun pelayan lain, hanya diam saja tanpa memperdulikannya dan menatapnya iba.


"Huft.., kasihan xio mai" ucap salah satu pelayan menatapnya iba. Pelayan yang lain pun mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Nona, nona, huhuhu.. nona daxi," teriak mai memanggil nonanya. Penampilannya saat itu terlihat kacau dan gelisah.


Sedangkan itu, seseorang dengan pakaian ala ksatria tengah menunggangi kuda menuju suatu tempat. Orang yang menunggangi kuda tersebut terlihat gagah dari belakang. Namun rupanya saat itu tidak terlihat, karena ia memakai selendang penutup diwajahnya.


Pria itu menunggangi kuda melewati permukiman warga hingga pasar dan sampai di pusat kota tersebut. Lalu ia berhenti di sebuah gerbang rumah dengan nama kediaman tuan pedagang wu do ran. Tanpa bicara, penjaga kediaman rumah itu langsung membukakan gerbang dan pria itupun langsung masuk. Sesampainya di halaman depan kediaman, ia langsung turun dan meninggalkan kudanya itu.


Sepertinya pria itu sering berada dikediaman mantan perdana mentri, terlihat dari para pelayan yang memberinya hormat ketika sedang berpapasan, walaupun ia saat itu tidak memperlihatkan wajahnya itu. Pria itu terus berjalan dengan santai melewati setiap para pelayan yang menyapanya. Ia sama sekali tak perduli atau bahkan menyapa balik para pelayan dan dia memilih terus melanjutkan perjalanannya menuju ruang utama kediaman itu.


Namun, sesampainya dia di ruang utama kediaman itu. Dia berhenti, karena melihat seorang pelayan yang tengah berlari kesana - kemari berteriak memanggil nama daxi. Apalagi ia melihat si pelayan dengan raut wajah yang kacau dan histeris. Dengan segera ia mempercepat langkah kakinya menuju sang pelayan.


"Huhuhu.. nona, nona daxi" teriak mai. Mai terus berlari kesana kemari memanggil - manggil nama nonanya itu. Bahkan setiap bertemu pelayan lain dia memanggil - manggil nama nonanya.


"Nona daxi?," ucap mai menghentikan seorang pelayan, pelayan itu mnggeleng dan mai sedih karenanya. Mai terus melakukan hal itu kepada pelayan yang lain, bahkan mai juga begitu kepada penjaga dikediaman.


Ketika mai tengah akan bertanya ke pelayan di dekay pintu, tiba - tiba tangannya ditarik. Dan ia terkejut saat melihat orang yang menariknya. "Tuan!," kata mai kaget.


....


Dibawah teriknya sinar matahari yang bersinar terang siang ini. Dibawah rindangnya pohon yang tertiup angin menyejukkan pada saat itu. Dengan diiringi suara kicauan burung yang tengah berterbangan sekedar lewat tanpa tujuan. Seseorang yang begitu kita kenali yaitu tokoh utama kita gracia aka daxi. Tengah terbaring tidur di bawah pohon yang terkena sinar matahari itu.


Dengan menutup matanya tertidur, da xi mengambil kue yang berada disampingnya. Lalu memasukan kue itu langsung kedalam mulutnya sekali lahap, "kehidupan mana lagi yang kau dustakan? menjadi pengangguran sepertiku memang pilihan yang tepat" kata daxi menyunggingkan bibirnya itu senang.


Daxi benar - benar sangat menikmatinya, bahkan ia terus tak bisa berhenti menyunggingkan senyumnya itu. Saking senangnya menikmati kehidupannya menjadi seorang penganguran. Namun baru saja ia merasakan senang dan tenang, tiba - tiba sesorang memanggil namanya.


"Wu da xi," panggil orang tersebut dingin.


Aish.., siapa sih yang mengangguku kali ini?!, ucap batinya kesal.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2