Terbangun Menjadi Seorang Putri

Terbangun Menjadi Seorang Putri
~Twenty five


__ADS_3

Mai tengah berada dikamarnya Da xi sedang melipat pakaian nonanya itu. Matanya terus menerus hanya terfokus kesatu titik saja yaitu kearah sang majikan yang tengah selonjoran sambil makan di tepi jendela.


"Nona, apakah nona tidak bosan seperti itu terus?" tanya mai heran. Melihat sang nona yang hanya terus makan sambil melihat kearah luar.


Da xi berbalik dan menatap mai cukup lama. Lalu berbalik kembali dengan raut wajah malas.


"Gak usah tanya mai. Memangnya kau tidak lihat raut wajahku ini hah?" jawab Da xi dengan muka ditekuk penuh kekesalan.


"Hemm.." Mai cuma berdehem mendengarnya. Ia tak berani untuk berkomentar lagi. Karena ia tahu, nonanya itu tengah menahan kesal. Dia hanya terus berdiam diri saja dirumah, tidak boleh pergi.


Huh.., bosan sekali terus - terusan begini. Ternyata jadi anak orang kaya di zaman kuno tak ada gunanya. Buat apa harta berlimpah, mau foya - foya keluar pun ga bisa. Ini sih namanya burung pheonix disangkar emas. Huaa.. hiks.. hiks.., Da xi merengek dalam hati.


Disini salah, disana salah. Sebenarnya kau ini ingin hidup seperti apa sih Gracia..? Ucap batinya mengeluh.


Da xi hanya bisa meratapi nasibnya. Ia pikir hidup di zaman kuno akan seenak yang dia pikirkan, ternyata sama saja. Hidup disana salah, disini pun juga salah. Sudah terjadi, yah mau diapakan lagi?


Ketika ia tengah merenungkan nasib sialnya itu. Tiba - tiba dirinya teringat akan sesuatu, lalu segera berbalik kearah mai bertanya dengan antusias.


"Oh.. ya mai, dimana kamu menyimpan hadiah yang diberikan kak Dan yi untuku?" tanyanya pada mai.


"Oh.. kotak kecil itu, mai taruh di laci rias nona" jawabnya yang masih berkutik melipati baju.


Da xi pun segera bangun dan beranjak pergi ke meja rias miliknya. Kemudian duduk dan membuka laci untuk mengambil barang yang dicari.


"Ini dia," gumamnya mengambil kotak kecil itu.


Kira - kira isinya apa yah? aku hampir kelupaan dengan ini.


Sesegera mungkin Da xi membuka kotak tersebut. Karena di bungkus dengan sangat rapih, Da xi agak kesulitan untuk membukanya.


"Mai.." panggil Da xi pada pelayanya.


"Iya nona?"


"Ada gunting tidak?" tanya Da xi.


"Gunting?" ucapnya bingung.


Melihat raut wajah sang pelayan kebingungan, Da xi kelupaan mana mungkin mai tahu barang itu.


"Ehmm.. maksudku benda tajam yang bisa membantu membuka ini," Da xi mencoba menjelaskannya.


"Maksud nona seperti pedang?"

__ADS_1


"Akh.. iya iya seperti itu," jawabnya membenarkan.


Setelah mendengar ucapan sang majikan. Mai segera beranjak untuk pergi mengambil benda yang dimaksud. Namun tetapi, Da xi malah menghentikannya.


"Mai, kau mau pergi kemana?" tanya Da xi bingung melihat mai yang akan pergi.


"Mai mau mengambil pedang nona"


"Pedang?" Da xi bingung.


"Iya.., bukankah nona minta diambilkan itu? mai baru saja akan pergi meminjamnya dari pengawal," tanyanya heran.


"Iya sih memang itu. Tapi bukan pedang juga kali mai? itu terlalu kebesaran. Maksudku yang hampir mirip seperti pedang, tapi kecil." Ujar Da xi menjelaskan.


"Ahh begitu," serunya mengerti.


Mai pun terdiam lumayan lama untuk memimkirkan hal itu. Kemudian..


"Nona ! mai tahu apa yang nona maksud," seru mai dengan senyum sumringah.


"Memangnya apa?" tanyanya penasaran.


"Maksud nona yang hampir mirip dengan pedang itu adalah pisau kan?" ucap mai senang karena berhasil memecahkannya.


"Iya benar pisau. kenapa aku bisa terlupa akan hal itu ya?" seru Da xi.


"Pisau dapur kek atau pisau dagingpun tak apa, yang penting pisau. Cepat sana pergi mai, ku tunggu ya" perintahnya.


"Baik" jawab mai langsung sudah tak terlihat.


Sambil menunggu mai kembali membawa benda yang dia inginkan. Da xi mencoba untuk mengutak - atik kado yang diberikan Dan yi.


"Hadiah ini begitu kecil, tapi mengapa susah sekali untuk dibukanya? kira - kira hadiah apa yah yang ada didalam sini?" gumamnya bertanya - tanya.


Karena tingkat rasa penasarannya Da xi sangat tinggi. Ia terus mengamati kotak hadiah itu sambil mencoba - coba mencari cara untuk membukanya.


"Mai mana si? lama banget," ucap Da xi yang sudah mulai tak sabar.


Dan pada akhirnya, setelah mencoba berbagai cara. Tak sengaja kotak tersebut terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Sehingga membuat kotak sedikit terlepas.


"Aduh.. hadiahku" serunya khawatir dan segera mengambil kotak tersebut dari lantai.


"Jangan sampai isinya rusak," ucapnya kembali sembari mengelus - elus sayang.

__ADS_1


Namun tanpa sengaja ketika dia mengelusnya. Kota itu terbuka sedikit, sehingga membuat si empu terkejut dan segera untuk mencoba membukanya.


Ketika kotak itu berhasil dibuka dengan sepenuhnya. Respon yang diberikan Da xi adalah..


"Wahhhh..." ucapnya takjub.


Da xi begitu takjub melihat isi hadiah itu. Dan saking takjubnya ia tak bisa berhenti tersenyum sumringah karena takjub.


"Gila ini keren banget, cakep.." seru Da xi yang tak henti - henti dibuat takjub.


Ternyata isi kadonya adalah sebuah gelang giok berwarna hijau emerald. Da xi memang sangat menyukai yang seperti itu. Pantas saja Dan yi menghadiahkannya gelang giok tersebut.


"Woah.., kakakku yang satu itu memang sangat paham seleraku" ujarnya tersenyum sembari memakaikan gelang giok ke tangannya.


Tak lama dari itu mai masuk dengan membawa sebuah pisau.


"Nona ini pisaunya, mau diapakan?" seru mai setibanya dikamar sang majikan.


Belum juga sempat Da xi menjawab, mai sudah menyela ucapanya terlebih dahulu ketika melihat sang nona memakai gelang giok tersebut.


"Wah.. nona ini cantik sekali," seru mai langsung menghampiri dan memegang tangan nonanya.


"Cantik kan?" pamer Da xi pada mai.


"Iya.. cantik" mengangguk mengiyakan. "Nona dapat ini dari mana?" tanya mai saat itu juga penasaran.


"Ini dari hadiahnya kak Dan yi," jawabnya.


"Oh.. dapat dari tuan muda kedua. Tuan muda kedua memang memiliki penglihatan yang sangat bagus."


"Tentu saja mai, kakaknya siapa dulu" ucapnya bangga.


Mai hanya bisa mengiyakannya saja. Akhir - akhir ini Da xi selalu menyombongkan dirinya apabila berkaitan dengan sang kakak. Alih - alih bukannya menyombongkan diri akan menjadi istri putra mahkota. Dia malah bangga menyombongkan kakak keduanya yang sangat tampan itu. Bahkan selalu bercerita bahwa kakaknya sangat menyayanginya melebihi apapun. Tanpa dia bercerita pun semua orang tahu akan hal itu.


"Oh.. iya nona, bagaiman dengan ini?" tanya mai sambil menunjukan pisau yang dipegangnya.


"Kembalikan saja sana. Lagipula sekarang aku tak membutuhkan itu, kan kadonya sudah terbuka." Jawabnya.


"Yah.. sia - sia dong mai mengambil ini" keluh mai cemberut.


"Yaa.. mau bagaimana lagi?" saut Da xi tak perduli.


Mai terdiam mendengarnya, dia seperti sedang dipermainkan saja.

__ADS_1


"Merepotkan sekali," gumam mai cemberut.


Da xi hanya diam saja melihat muka mai ditekuk cemberut begitu dan melanjutkan kegiatanya melihat hadiah dari sang kakak tersenyum senang.


__ADS_2