
Hari ini adalah hari dimana kepulangan ayah dan juga kak Dan yi, setelah melakukan negosiasi perdagangan dengan desa sebelah. Saking senangnya mendengar sang ayah akan pulang hari ini. Untuk menyambut kedatangan mereka, Da xi segera berlari menuju pintu gerbang kediaman. Dia begitu tak sabar melihat mereka berdua tiba.
"Nona.. jangan la-ri, huh.." teriak mai terlambat memperingati nonanya itu.
Sedangkan itu, orang yang diteriaki sudah menghilang bagaikan ditelan bumi. Da xi saat itu larinya begitu cepat sampai mai tak sanggup untuk mengejarnya.
"Lama - lama diriku ini bisa - bisa kehilangan kewarasan ku..," gumam mai pada dirinya sendiri yang sudah lelah menghadapi tingkah ajaib nonanya itu.
Da xi berlari - lari dengan riang menuju pintu gerbang kediaman rumahnya. Namun ketika di persimpangan jalan menuju pintu gerbang, tak sengaja dia menabrak sesorang yang tak lain adalah kakak pertamanya Zouyu.
"Aduh.., uh.. kalau jalan liat - liat dong. Sakit tahu.." gerutunya kesal memarahi.
Namun orang yang dia marahi hanya diam saja tak menjawab.
"Gimana sih, kalau nambrak itu harusnya minta maaf kek, kalau tidak tanya keadaanya kek. Apakah ada yang terluka? mana yang sakit?" cerocosnya yang mulai mengomel tanpa melihat kearah orang yang menabraknya. Ia masih fokus dengan dahinya yang sakit kena tabrakan orang itu.
Karena tak ada sahutan sama sekali dari orang tersebut. Da xi pun akan mengomelinya kembali. Namun yang terjadi ketika melihat orang yang menabraknya, seketika dirinya itu menciut menatap orang itu sembari tersenyum cengengesan.
"Kau ini yaa..!" teriaknya belum sadar siapa orang yang tengah di omelinya. "Hehehe.. kak Zouyu?!" ucapnya setelah melihat orang tersebut.
Zouyu hanya diam dan menatap kearah Da xi tajam.
"Xixi yang salah, maaf ya.." meminta maaf sembari tersenyum cengengesan.
Dia tetap diam saja, tidak menyahuti atau menerima maafnya Da xi. Lalu pergi meninggalkan Da xi yang terdiam menatap kepergian Zouyu.
Zouyu sendiri berjalan pergi meninggalkan sang adik menuju kearah pintu gerbang. Sontak saja melihat itu Da xi berlari mengejarnya.
"Kakak.., tunggu aku.." teriaknya berlari mengejar Zouyu.
Setelah berhasil mengejar Zouyu, tanpa permisi dia langsung saja menggandeng lengan kakaknya itu sembari tersenyum. Sedangkan yang digandeng hanya diam tak menolak.
Tumben sekali dia tak mengomel, ucapnya dalam hati terheran - heran.
Sesampainya beberapa langkah lagi dipintu gerbang. Sorot matanya itu melihat sosok sang kakak yang tengah turun dari kereta kuda. Da xi langsung melepaskan gandengannya dan berlari menuju kearah kak Dan yi yang baru sampai.
Babang tamvanku.., ucap batinya senang kegirangan melihat Dan yi.
"Kakak...," panggilnya berteriak sambil berlari menuju kearah Dan yi.
"Hati - hati.." teriak Dan yi melihat adiknya yang tengah berlari menuju dirinya.
"Xixi kangen banget," memeluk Dan yi erat.
__ADS_1
Lebih tepatnya sih kangen aroma tubuhnya yang maskulin gini hihihi..., tersenyum cengengesan dalam hati.
Dan yi sekarang sudah terbiasa dengan pelukan tiba - tiba sang adik. Apalagi Da xi kalau memeluknya sambil mengendus - ngendus gitu. Awalnya tak terbiasa dan merasa risih, namun setelah Da xi menjelaskan alasanya ia tak mempermasalahkannya lagi dan mulai membiasakan diri.
"Sudah.., sesenang itu kah xixi melihatku? bukankah cuma berpisah sehari saja?" ucap Dan yi tersenyum melihat kelakuan sang adik.
"Tentu saja!" balasnya tersenyum juga.
"Dasar" ujar Dan yi tersenyum mendengarnya lalu mengelus kepala sang adik sayang.
Mendapat perlakuan seperti itu, Da xi semakin memeluk erat sang kakak.
"Apa kau tidak merindukan ayah?" tanya ayah Da xi tiba tiba turun dari kereta kuda.
Mendengar itu sontak Da xi menoleh padanya bingung. Sang ayah kecewa dengan ekspersi anaknya itu.
"Hemm.., ternyata kamu tidak merindukan ayah yah.." ujar ayah menunduk sedih.
"Kata siapa aku tidak merindukan ayahku?" sautnya. Melepaskan pelukan dari Dan yi dan langsung memeluk sang ayah sayang. "Aku ini paling - paling, pal..ling... merindukan ayahku" lanjutnya memeluk erat.
Ayaha pun membalas pelukan putri semata wayangnya. "Kau ini paling bisa membuat ayah senang yah.." ucapnya gemas.
"Tentu saja, aku ini kan putri cantiknya ayah?" seru Da xi sembari menaik turunkan alisnya.
"Putri cantik apanya? yang ada buruk rupa," sela Zouyu nyinyir.
"Dih.. kak Zouyu sirik aja deh. Kalau tidak suka ya sudah, kenapa harus merusak kesenangan orang lain" sewot Da xi. "Jadi orang suka nyinyir mulu," lanjutnya bergumam.
Mendengar itu, Zouyu memasang wajah malas seolah - olah tak mendengarnya.
"Menyebalkan..," gumamnya menatap kesal kearah Zouyu.
"Sudah, sudah. Zouyu kau ini ya suka sekali mengganggu adikmu" tegur ayah.
Zouyu tak perduli dan hanya diam seperti tak terjadi apapun. Melihat itu ayah hanya bisa menghela napas panjangnya.
"Ayah, mana hadiahku?" melepaskan pelukan lalu mengadahkan keduangannya meminta hadiah.
"Dasar ada maunya," gumam Zouyu nyinyir.
Da xi berbalik menatap kakak pertamanya tak suka. Memangnya dia tidak mendengar gumamannya itu. Walaupun dia hanya bergumam, tapi suaranya itu terdengar sangat jelas.
"Ish.." decihnya melirik pada Zouyu tak perduli dan segera menatap kembali sang ayah tersenyum.
__ADS_1
"Ayah.. mana?" tanya Da xi berharap.
"Baiklah.." ucap sang ayah mengambil sesuatu dalam kantongnya. "Ini untuk putriku yang paling cantik" memberikannya pada Da xi.
Seketika mata Da xi langsung membukat takjub melihat itu.
"Wah..." takjub. "Ini untukku?" tanyanya tak percaya.
"Iya" jawab sang ayah meyakinkan.
"Makasih.." tersenyum sumringah senang.
Ayah pun tersenyum senang melihat senyuman kebahagiaan yang tersirat pada putrinya itu.
"Kakak lihat cantik kan?" tanya Da xi pada Dan yi antusias memamerkan sebuah kalung berliontin permata berwarna biru. "Dari kakak hadiah untuk ku mana?" tanyanya meminta hadiah.
Lalu Dan yi memberikan sebuah kotak kecil pada Da xi. Namun karena terlalu beremangat melihat kotak hadiah itu. Ia ingin segera cepat - cepat membukanya, tapi Dan yi langsung menghentikan.
"Bukanya nanti saja ya, kalau kamu sedang sendiri" pinta Dan yi.
"Oh.. baiklah" jawab Da xi tersenyum. Walaupun dia sedikit bingung dengan permintaan kakaknya itu.
Da xi tersenyum senang memandang kedua hadiahnya itu. Tetapi ketika ia tak sengaja memandang sekilas Kakak pertamanya, ia tersenyum kecut melihat itu.
Orang itu.., mana sudi dia akan memberiku hadiah. Kalaupun ia, semua itu bagaiakan sebuah keajaiban.
Zouyu tahu dipandangi oleh sang adik dan ia pun terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Namun entah apa yang dipikirkannya saat itu.
Karena merasa sudah terlalu lama berdiri disitu. Ayah mengajak semua anaknya untuk segera masuk kedalam kediaman.
"Kenapa hanya berdiri disini? ayo kita masuk," ajak ayah pada mereka semua.
Mereka pun segera beranjak pergi untuk masuk kedalam, mengikuti sang tuan rumah dari belakang.
Ketika semua orang sudah akan pergi. Mai malah baru datang menghampiri nonanya dengan keadaan sudah kehabisan napas. Sepertinya kali ini mai berlari lagi.
"Nona..," panggil mai menghampiri.
Namun orang yang dipanggil malah memberikan mai semua kadonya. "Mai tolong pegangkan untukku ya," ujar Da xi berlalu pergi.
"Huh.., kapan aku akan beristirahat kalau begini?" gumam mai mengeluh. Memandang punggung Da xi yang pergi meninggalkannya.
Mai pun segera menyusul nonanya, walaupun sebenarnya dia malas karena kelelahan.
__ADS_1
Bersambung..