
"Nona, sudahlah. Lihat! apa yang terjadi pada mata nona sekarang?" celoteh mai. Melihat kearah mata nonanya yang menghitam membentuk lingkaran seperti mata panda.
Da xi yang dari tadi hanya diam tak merespon. Seketika langsung melihat kearah pelayannya itu dengan tatapan tajam.
"Hehe.." Mai hanya tersenyum cengengesan ditatap seperti itu.
"Cih.., benar - benar kau ini mai! " ketus Da xi terkekeh dengan pelayannya itu. "Ini juga kan gara - garamu," sindirnya.
"Maaf deh nona. Lagipula mai juga kan tidak sengaja. Coba saja nona waktu itu tidak buat mai takut dan panik, pasti hal itu tidak akan terjadi. Lagian itu kan ulahnya nona sendiri. Bukan sepenuhnya salah mai." Kata mai masih bisa tersenyum walaupun sudah ditatap sinis begitu.
"Ngomong! ngomong!" sela Da xi penuh emosi.
Da xi kesal dengan pelayannya itu. Lingkaran matanya yang menghitam itu tak lain disebabkan oleh pelayannya sendiri. Semalam ia tidak bisa tidur akibat masih memikirkan kejadian yang memalukan yang terjadi padanya. Entahlah bagaimana hidupnya setelah menahan malu akibat kejadian waktu itu yang menimpa padanya.
Kemudian Da xi beranjak dari tidurnya dan pergi menuju kamar mandi. Mai yang melihat itu langsung mengekor dan akan ikut masuk juga. Namun keburu Da xi berbalik dan menghentikannya.
"Mau kemana kau?" tanya Da xi dengan sinis sambil berdecak pinggang.
"Mau ikut masuk bersama nona," jawab Mai enteng.
"Untuk apa!?"
"Untuk membantu nona mandilah.."
Mendengar pernyataan itu, seketika Da xi menghenuskan badan menjaga pintu membuat pertahanan, agar Mai tak ikut masuk bersamanya.
"Tidak, tidak, tidak, tidak.." ujar Da xi menolak. "Aku tak mengijinkanmu untuk ikut bersamaku!" tolaknya dengan tegas.
"Memangnya kenapa nona?" tanyanya bingung.
Da xi kesal, karena mai tak mengingat kejadian kemarin yang menimpanya. Ulah siapa itu kalau bukan ulahnya mai. Bahkan karena ulahnya mai itu hampir saja ia mati mengenaskan. Lebih tepatnya sih mati dengan memalukan. Apalagi saat itu ia tengah tidak memakai sehelai benangpun pada tubuhnya, dikarenakan tengah mandi.
"Pakai tanya lagi! apa kau lupa dengan kejadian kemarin? karena ulahmu itu aku hampir koit tau!" ucapnya sewot.
Mai terdiam bingung dan juga merasa bersalah.
"Sudahlah, terlepas dari kejadian kemarin. Tetap saja aku tidak mengijinkanmu untuk masuk kedalam sana dan membantuku mandi. Aku tidak mau kejadian kemarin menimpaku lagi."
"Tapi.. nona?" tutur mai. "Hari ini kan.." ucapnya namun disela.
"Tidak ada tapi - tapian. Tidak tetap sa-ja ti-dak!" sela Da xi penuh penekanan.
Mai terdiam begitu lama setelah mendengar itu.
__ADS_1
*Bagaimana ini, nona tidak mengijinkanku untuk masuk dengannya?
Tapi.., hari ini kan?
Masa bodo ah yang penting kan aku harus masuk ikut kedalam bagaimanapun caranya. Soal nona yang akan mengamuk nanti, biarkan saja. Yang penting tugas kenegaraan ini harus tetap berlangsung dilaksanakan*.
Mai dalam diam menatap nonanya penuh tanda tanya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Da xi penuh selidik.
Mai masih diam saja, lalu mengarahkan matanya menuju pintu. Melihat gerak - gerik mata pelayannya itu membuat Da xi semakin curiga. Kemudian..
"Eh.. eh.. eh..! apa yang kau lakukan Mai! Mai.. berhenti tidak! Mai awas kau ya..!" teriak Da xi heboh meneriaki mai yang mencoba menerobos masuk.
"Maafkan Mai nona. Ini perintah, jadi mai harus masuk." Sautnya tak perduli dan memaksakan untuk masuk. Walaupun saat itu sang nona menghadangnya dengan sangat kuat. Namun tetap saja mai memaksa masuk dan menerobosnya begitu saja. Bahkan ia pun hampir terjungkal akibat menahan mai.
"Mai kubilang berhenti tidak! Mai..! Mai..!!!" teriak Da xi kencang karena melihat mai yang berhasil masuk kedalam.
Melihat itu, Da xi kesal dan juga emosi setengah mati. Lalu menyusul Mai dengan amarah yang sudah memuncak.
"Awas kau ya Mai!" ancam Da xi dalam hati mendumel kesal.
—–—–
Dia didandani begitu bukan tanpa sebab, karena hari ini adalah hari yang ditunggu - tunggu yaitu hari pernikahannya dengan putra mahkota. Mai yang tengah mendandaninya itu terlihat begitu bahagia melihat sang nona akhirnya menikah. Namun kebahagiaan mai berbanding terbalik dengan sipengantin wanita. Da xi sendiri terlihat kesal dan terus cemberut. Ia begitu tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Namun yang terjadi malah sebaliknya dan dia rasa untuk mencoba kaburpun sudah tidak bisa lagi.
Cih.. Lihat! apa - apaan dia itu.
Melihat pantulan mai dicermin dan mencibirnya sinis karena melihat mai begitu terlihat bahagia.
Enak sekali dia tersenyum begitu. Sedangkan nonanya sendiri tengah cemberut tak suka. Kalau dia sebahagia begitu aku menikah dengam putra mahkota yang dianggapnya sangat tampan itu. Kenapa tidak dia saja yang menggantikanku menikah?
Da xi masih saja terus mencibir pelayannya itu tak suka. Karena melihat sang pelayan malah tersenyum bahagia dengan pernikahanya.
Mai yang tengah sibuk mendandani sang nona tiba - tiba melirik kearah cermin. Dan melihat tatapan tak suka nonanya itu. Mai sebenarnya tahu apa yang tengah dipikirkan oleh sang nona. Namun ia bersikap biasa saja, karena sifat nonanya memang begitu.
Menyadari mai menatapnya balik, Da xi langsung memalingkan wajahnya cemberutnya.
*Apa - apaan dia itu, heh benar - benar deh.
Tapi ngomong - ngomong.., kenapa aku malah menghindar tatapannya itu? Dia kan yang menyebalkan*..
Da xi langsung mengalihkan pandangannya kembali dan berani menatap mai dicermin.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku dengan begitu mai?" tanya Da xi dengan sinis.
"Tidak.." kilah mai. "Mai tidak sedang menatap nona" kilahnya kembali saat itu juga.
"Tidak? lalu itu apa?" tanyanya menunjuk kearah cermin.
"Itu..?" bingung. "Itukan cermin..?" melihat kearah yang ditunjuk.
"Bukan itu bodoh!"
"..?.."
"Tuh.. lihat baik - baik" tunjuknya.
"..?.."
"Ahh.. sudahlah, bicara denganmu hanya buatku tambah kesal saja.. huh!" ujar Da xi menyerah karena kesal.
Mai yang melihat kekesalan sang nona terdiam. Namun dibalik diamnya ia tersenyum menertawai sang nona. Sebenarnya dia tahu, namun pura - pura tidak tahu saja.
Hehehe.. maaf ya nona.., tawa batinya mai.
Satu persatu riasan pada wajahnya Da xi terpoles. Setelah selesai dirias, Da xi langsung diarahkan ketempat ganti baju dan memakai baju pengantin yang berwana merah khas pengantin tradisional china. Namun dalam proses pemakaian baju pengantin, Da xi terlihat sedikit protes dengan banyaknya lapisan dalaman baju. Tapi untungnya mai bisa menghendel protesannya itu dengan cara memaksa sang nona.
Tidak hanya sampai situ saja Da xi protes. Ketika Da xi tengah dipakaikan pernak - pernik dikepalanya. Dia protes, karena pernak - pernik dikepalanya itu sangat berat. Ditambah dengan memakai seperti sebuah tirai yang menjuntai yang menutupi mukanya (btw aku gak tau itu namanya). Sehingga pengelihatanya sedikit terganggu, tidak bisa melihat dengan jelas karena tertutup itu.
"Mai ini apa - apaan sih! ribet sekali, aku kan jadi tidak bisa melihat dengan jelas!" protesnya marah - marah tak suka.
"Nona yang ini wajib dipakai. Semua pengantin wanita juga memakai ini saat pernikahan. Jadi nona pun harus pakai" saut mai menjelaskan dengan terus memakaikan sang nona penutup itu.
"Aish.. benar - benar aneh," serunya kesal.
Perasaan di drama - drama kerajaan yang aku tonton tidak sampai segininya deh. Apa jangan - jangan kalau didrama pakaiannya dimodifikasi dengan sebaik mungkin, jadi tidak seberat dan seribet ini? pikirnya dalam hati.
Aish.. berarti selama ini aku tidak boleh terlalu percaya dengan drama. Semuanya tak sesuai ekspetasi. Ucap batinya tak percaya.
Huaa... ibu aku ingin pulang. Maafkan aku deh sudah menolak dan tak percaya perkataannya ibu.. huaa.... rengeknya dalam hati menyesal.
Da xi hanya bisa pasrah dan merengek dalam hatinya, menerima semua yang akan terjadi padanya disini. Sekarang mau balik ke kehidupannya yang sebenarnya pun sudah tidak mungkin. Apalagi dirinya itu tidak tahu bagaimana caranya bisa kembali.
❤❤❤
Jangan lupa like, komen, rate dan juga vote. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karyaku ini.
__ADS_1
Makasih😘