
Siang hari itu, kediaman wu da xi.
Mai berjalan tergesa - gesa, matanya melihat ke kanan ke kiri, celingak - celinguk seakan mencari sesuatu. "Aishh.. punya majikan, kerjanya selalu saja menghilang. Baru juga ditinggal mengambil makanan kedapur sudah tidak ada. Kalau semuanya tahu bisa heboh," ucapnya ngedumel. "Huft.., nona sebenarnya kau ada dimana?" gumam mai khawatir bercampur gelisah. Karena takut sang majikan akan melakukan hal yang konyol.
Sedangkan itu, si tersangka tengah mengangkat tangannya keatas ingin meraih sesuatu. Namun karena tak sampai, ia menjadi kesal sendiri. Kemudian dia mencoba kembali dan akhirnya dapat, walau setelah itu gagal kembali.
"Sial..!, kenapa susah sekali sih meraihnya. Padahal hampir saja," ucapnya kesal.
Entahlah apa yang akan dilakukan oleh dia saat itu. Namun ia terlihat begitu bekerja keras untuk mencapainya. Memang deh, wu da xi ini ada - ada saja tingkahnya setiap hari. Semoga kali ini ia tidak membuat kekacauan ya.
———
Kediaman putra mahkota
"Bagaimana?," tanya seseorang yang tengah berdiri tegak membelakangi seorang berbaju merah yang membungkuk padanya.
"Semuanya berjalan lancar tuan dan nona pun tidak melakukan hal - hal aneh. Walaupun..," jawabnya terhenti.
"Walaupun apa?!," meninggikan suara tiba - tiba.
"Walaupun..," mengatakan berulang - ulang karena ragu.
Orang tersebut pun menghela napas panjang, "tak apa, bicaralah" perintahnya untuk segera memberitahu.
Akhirnya setelah mendapat perintah, dia memberanikan diri untuk bicara.
"Walaupun.., nona sempat tak terima dan ingin membatalkannya. Terlebih dia juga memaki - maki tuan, mengatakan bahwa tuan adalah seorang impo..ten" mengatakan dengan lancar di awal dan tersendat di akhir.
Seketika dirinya menegang menahan marah karena emosi, setelah mendengar tuturan hal itu. Bisa - bisanya ada yang berani mengatakan hal itu mengenai dirinya. Apabila terdengar oleh orang lain, pasti orang yang berani mengatainya itu akan terkena masalah dan dijamin akan terkena hukuman mati. Kalaupun tidak, hidupnya akan tidak sesempurna seperti dulu.
Sedangkan itu, si pelapor harap - harap cemas setelah melihat tuannya murka. Apalagi disekelilingnya terlihat aura hitam yang membara. Karena ia tahu betul, bahwa tuannya itu dingin dan tak segan - segan akan menghukum orang yang sudah menghinanya. Namun ternyata..
__ADS_1
"Tolong rahasiakan hal ini dari orang lain," perintahnya tiba - tiba.
"Apa?" terkejut tak percaya tuanya akan membiarkannya begitu saja. Terlebih, dia pun menyuruhnya untuk merahasiakan hal ini dari orang - orang.
Ada apa dengan tuan?, batinya bertanya - tanya.
"Oh.. iya satu lagi, kau pastikan jangan sampai orang lain tahu bahwa dia mengataiku. Apa saat itu ada yang mendengarnya selain kamu?"
"Tidak tuan, hanya hamba yang mendengarnya. Adapun orang lain yang mendengar adalah pelayan pribadinya. Namun si pelayan biasa saja dan tidak mempermasalahkan hal itu, karena sudah terbiasa".
"Baiklah kalau begitu..," terhenti karena tiba - tiba mendengar langkah kaki seseorang datang.
Langsung saja dia berbalik, begitupula dengan orang yang masih berjongkok itu.
"Kasim yu?" terkejut.
"Salam putra mahkota, hamba kesini untuk menyampaikan titah raja. Bahwa anda di tunggu kehadiranya di istana siang ini," ucap kasim yu.
"Kalau begitu, hamba pamit undur diri" membungkuk memberi salam dan berjalan mundur.
Setelah kepergian kasim yu, putra mahkota memerintahkan pengawalnya pergi untuk melaksanakan tugasnya kembali.
"Baiklah, kau juga pergi dan jaga dia baik - baik. Jangan lupa laporkan setiap gerak - geriknya padaku," ujar putra mahkota memerintah.
"Baik.., kalau begitu hamba juga pamit undur diri untuk menjalankan tugas."
Putra mahkota mengangguk mengerti. Tak lama dari kepergian pengawalnya, ia pun bergegas pergi untuk bertemu raja yang sudah menunggunya.
———
Da xi mengangkat tangannya tinggi - tinggi, kepalanya pun ia tanggahkan ke atas sampai ia merasa pegal di bagian leher. Sambil melompat - lompat untuk meraih sesuatu.
__ADS_1
"Aish.., sulit sekali. Benar - benar yah," da xi merasa frustasi dibuatnya.
Merasa usahanya selalu gagal dari tadi, membuat da xi sangat kesal. Namun bukan wu da xi namanya, kalau menyerah begitu saja. Tak lama dari itu, ia teringat akan sesuatu dan kemudian tersenyum memikirnya. Ia pun pergi begitu saja, entah mau apa?
*
"Sedikit lagi," ucap da xi mengadahkan kealanya dan menjulurkan tangan tinggi - tinggi untuk meraih sesuatu.
Huh.., akhirnya. Yeay.., aku bebas.
Da xi merasa senang sudah berhasil. Kini dirinya itu berada di atas. Ternyata yang ia lakukan tadi adalah berusaha memanjat tembok dikediaman rumahnya itu. Setelah sekian lama ia mencoba, akhirnya ia berhasil naik berkat dari tangga bambu yang ia ambil dari belakang pekarangan kediaman.
"Akhirnya aku bebas," tersenyum sembari merasakan angin diatas sana.
Untuk beberapa saat, da xi memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang bebas mengudara. Dia benar - benar merasa bebas saat itu, karena sudah beberapa hari ini ia terus terkurung dan tidak diperbolehkan keluar kediaman. Dengan dalih sebentar lagi dirinya yang akan menikah dan harus tetap berada dirumah agar tidak terjadi hal yang tidak menyenangkan. Apalagi setelah titah mengenai dirinya yang akan menjadi istri putra mahkota tersebar keseluruh negri.
Huft.., kapan lagi aku bisa begini. Pokoknya hari ini aku harus pergi keluar. Bisa - bisanya mereka terus mengurungku, memangnya aku ini burung apa. Diriku juga kan butuh yang namanya kebebasan. Argh.. aku benar - benar sial!!, ga disana ga disini benar - benar benci dengan namanya perjodohan.
Da xi membuka matanya dan terus - terusan ngedumel kesal dalam hati karena mengingat perjodohan itu. Gimana ia tak kesal coba, di dunia aslinya ia akan dijodohkan dengan devano oleh ibunya. Sedangkan disini, ia pun akan dijodohkan juga. Sudah senang - senang ia time travel dan akan memulai hidup yang baru. Tapi ujung - ujungnya ia malah berakhir sial.
Karena sudah terlanjur berada diatas, da xi tak menyia - nyiakan kesempatan itu untuk kabur. Apalagi saat itu dirinya sendirian tanpa kehadiran pelayannya mai yang selalu menempel padanya bagaikan perangko. Tentu saja ia bisa lepas dari mai karena dirinya melarikan diri, ketika mai sedang pergi kedapur untuk mengambil makanan untuknya.
Mumpung sudah begini, ya.. harus keluar dan pergi bersenang - senang. Kaburpun tak masalah, lagipula aku punya koin yang banyak di saku bajuku, tersenyum seringai.
Da xi langsung melancarkan aksinya dengan menempelkan tubuhnya pada tembok lekat - lekat. Tangan kananya ia julurkan kebawah mengambil sesuatu yang membantunya naik keatas. Ya.. dia akan mengambil sebuah tangga yang ada tepat dibawahnya. Karena tidak sampai, ia berusaha mengambil tangga itu melalu kaki kanannya. Dengan sekuat tenaga ia angkat tangga itu dan berhasil.
"Dapat!!," tersenyum puas.
tbc..
Haiiiii... jangan lupa kasih like, komen, rate dan kalau perlu vote juga yah.
__ADS_1
Makasih❤