Terbangun Menjadi Seorang Putri

Terbangun Menjadi Seorang Putri
~Thirty three


__ADS_3

Sedangkan itu, Mai didalam kereta yang sama dengan nonanya masih saja terus merengek menangis, meratapi dirinya yang kini harus ikut nonanya tinggal diistana nanti. Padahal Mai sebelumya sudah berangan - angan akan lepas dari sang nona. Dan melanjutkan kehidupannya yang sudah ia rencanakan itu. Namun nyatanya semua itu hanya angin lalu saja.


" Sampai kapan kau akan merengek seperti itu Mai ? " ujar Da xi heran. " Tidak bisakah kau berhenti ? semua orang yang berada diluar menjadi salah paham karena tangisan mu itu tau. " Lanjutnya, sampai alisnya terangkat keheranan.


Mai yang mendengar itu mendengus kesal. Lalu menatap sang nona tajam tanpa merasa takut sama sekali.


" Hei.. ! matamu itu ingin ku colok yah ! " Sewot Da xi mendapat tatapan tajam dari dayangnya itu.


Mai hanya masabodo merespon sang majikan yang sewot terhadapnya. Saat itu dia benar - benar sudah kehilangan akal terhadap dirinya yang harus ikut bersama sang nona. Sedangkan itu Da xi yang melihat mai terlihat tidak masabodo. Hanya bisa menghela napas panjang. Dia sebenarnya tahu, apa yang membuat Mai kesal begitu. Tapi ya mau bagaimana lagi, cuma Mai saja yang ia percayai. Mau tidak mau dia harus melakukannya.


Keretapun terus melaju tanpa henti dan haripun sudah semakin siang. Perjalana dari kediaman tuan mantan perdana mentri Wu menuju istana lumayan cukup jauh. Untuk sampai kesana, mereka harus melewati setidaknya satu hutan dan tiga desa.


Tak terasa kini mereka sudah melalui dua desa. Dan kini tinggalah desa terakhir yang mereka lalui. Desa terakhir ini adalah desa terdekat dengan istana. Tak lama kemudian mereka pun sampai digerbang istana.


" Mai " panggil Da xi. Namun orang yang dipanggil hanya diam saja tidak menoleh.


" Mai " panggilnya lagi.


Tidak ada respon dari Mai.


" Mai.. Mai.. Mai.. Mai.. " panggilnya terus menerus.


" Nona ! jangan konyol ! " saut Mai menoleh.

__ADS_1


Mendapat omelan dari Mai, Da xi malah tersenyum senang.


" Jangan senyum begitu ! Memangnya ada yang lucu, hmph ! " sinis Mai.


" Ti..da..kk.." ledeknya.


" Hish.. "


Da xi berusaha menyembunyikan tawanya. Karena Mai saat itu terlihat lucu ketika sedang marah. Apalagi Mai selalu berekspresi berlebihan begitu. Benar - benar membuat moodnya terasa baik.


" Huft.. " menghela napas melihat kearah mai yang masih marah.


" Mai ! Aku tau kamu tak suka. Tapi ada satu hal yang harus kamu tau mai. Hanya kamu saja yang paling dekat denganku. Kamu dulu pernah berkata padaku kan? bahwa aku dan kau itu sudah bersama sejak kecil. Bahkan kau menjadi teman mainku dari dulu sampai sekarang. Asal kau tau saja, aku itu sudah menganggapmu seperti saudara perempuanku sendiri. Setiap kali bersamamu, aku merasa kau itu seperti seorang kakak perempuan bagiku. Selalu menceramahiku, mengomeliku, menasihatiku bahkan melarangku. Karena sikapmu itu, aku benar - benar seperti merasakan memiliki seorang kakak perempuan. Yah.. walaupun sebenarnya kita itu masih seumuran. Hanya saja kau yang lahir terlebih dulu dariku. " Ujar Da xi sambi melirik kearah mai.


" Mai aku harap kita selalu bersama. Tapi bukan berarti aku menyuruhmu untuk selalu bersamaku. Maksudku, walaupun suatu saat nanti kau pergi dan pasti kau nanti akan menikah juga. Aku harap kita selalu menjalin hubungan yang baik, seperti sampai sekarang ini. Jadi.., aku mohon kau jangan marah lagi ya mai. " Bujuk Da xi.


Mai masih tak berkutik sekalipun. Dia masih diam seribu bahasa. Melihat hal itu Da xi merasa sedih.,


" Baiklah.., aku rasa hubungan yang kita jalin dari kita kecil sudah tidak ada artinya lagi. Kau boleh pergi mai, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menghadapi hidupku di dalam istana nanti sendirian. Dan memulai kehidupan kemasyarakatanku seorang diri sana. Sepertinya aku memang sudah ditakdirkan sendirian. " Ucapnya dengan nada sedih.


Da xi lalu mengintip keluar jendela kereta. Ternyata mereka sudah berada di gerbang pintu masuk istana. Dan dia melihat seorang utusan kerajaan tengah melaporkan kedatangan mereka kepada penjaga gerbang.


" Mai cepatlah turun. Aku tak akan memaksamu lagi. Cepatlah turun sebelum kereta ini akan memasuki isatana. " Suruhnya pada Mai.

__ADS_1


Namun Mai hanya diam saja. Tidak menyahut ataupun bergerak sedikitpun dari tempatnya sekarang ini.


" Mai ayo cepatlah, nanti keburu kereta ini jalan kembali. "


Melihat Mai tak merespon. Da xi pun meraih tangan Mai untuk mengantarkannya turun dari kereta. Namun Mai malah menariknya. Lalu menatap Da xi lekat - lekat. Da xi menjadi bingung mendapat tatapan seperti dari Mai. Kemudian tak ada angin tak ada hujan. Mai tiba - tiba saja mata Mai memerah menahan tangis, sebelum wajahnya itu basah terkena air terjun matanya sendiri.


" Huaa.. nona..., maafkan Mai nona. Mai sudah keterlaluan karena Mai memikirkan diri sendiri. Seharusnya Mai mengerti kesulitan nona. Tapi Mai malah sebaliknya. Mai benar - benar egois nona, huaaa. Mai benar - benar jahat, padahal nona selama ini sudah sangat baik terhadap Mai. Huaaa... haa.." tangis mai.


Tangisan Mai membuat para pengawal diluar panik dan sponta membuka jendela kereta tanpa izin terlebih dahulu.


" Nana, apa kau baik - baik saja nona? " tanya salah satu pengawal panik.


" I-iya, aku baik - baik saja" jawab Da xi tersenyum dibalik cadar pengantinnya.


Setelah melihat nona nya baik - baik saja. Pengawal itu merasa tenang. Lalu dia tak sengaja melihat kearah Mai yang menangis. Ternyata yang menangis itu bukan nona mereka. Melainkan pelayannya. Tapi pengawal itu seketika menjadi bingung dan melihat kearah sang nona. Menyadari hal itu, Da xi pun segera menjelaskannya.


" Ngh, dia menangis karena terlalu senang bisa datang dan tinggal di istana nanti, hehe. Jadi harap dimaklumi.." Ujarnya.


Pengawal itupun mengangguk mengerti. Lalu segera menutup kembali jendela kereta.


" Hufth.. " menghela napas lega.


" Mai berhentilah menangis. Sudah dua kali kau membuat para pengawal itu menjadi salah paham karena tangisanmu itu. Berhentilah, dan senyumlah mulai sekarang." Bujuk Da xi sembari ikut tersenyum juga.

__ADS_1


Mai menatap nona nya dalam. Lalu ikut tersenyum juga. Melihat hal itu, Da xi pub tersenyum.


__ADS_2