
"Apaa..!!"
Orang itu berteriak marah karena terkejut, sambil menggeprakan meja yang ada di hadapanya. Melihat kemarahannya itu, seketika membuat seseorang didepanya menunduk ketakutan. Orang yang tengah marah itu tak lain adalah sang putra mahkota. Yang terkejut sekaligus marah setelah mendengar laporan pengawalnya tersebut.
Habislah sudah aku ini. lirih sang pengawal dalam hati sambil menyerengitkan matanya pasrah.
"Aku kan sudah menyuruhmu untuk menjaganya baik - baik. Amatilah setiap gerak - geriknya. Tapi bagaiman bisa kamu selalai itu!" bentak putra mahkota yang tengah marah.
Masih dalam keadaan menunduk, pengawal itu pun menjawabnya dengan takut - takut.
"Tapi.., maaf yang mulia. Bukankah anda menyuruh hamba untuk memperhatikannya dari kejauhan saja? dan juga.. anda bilang jangan sampai terlihat olehnya?" jawabnya takut - takut.
Putra mahkota berdecih, karena apa yang di katakan oleh pengawalnya itu benar.
"Lalu mengapa kau malah menghindar, bukan malah menangkapnya? bagaimana bisa kau melakukan hal sebodoh itu?" ucap putra mahkota mengalihkan.
Huh.., mereka berdua memang pasangan yang serasi. Sama - sama mengumpatiku bodoh. Decih pengawal dalam hatinya merasa kesal.
Flashback..
"Aaaaa...!!" teriak Da xi yang akan terjun bebas dari atas sana. Lalu ia menutup matanya ketakutan karena akan jatuh.
Sedangkan itu, pria itu langsung berlari secepat kilat kearah Da xi. Sepertinya pria itu akan menangkap da xi. Namun..,
Bruukkk!!!
Tiba - tiba terdengar dentuman sangat keras. Sehingga membuat mai yang berada di dalam kediaman berteriak histeris dan langsung berlari untuk keluar. Begitupula dengan si pria, dia pun begitu terkejut sampai - sampai membulatkan matanya keluar. Padahal saat itu ia sudah menangkapnya. Dan ternyata..,
Kini Da xi sudah terkapar mencium tanah, sambil berteriak kesakitan. Tak lupa, ia merutuki dirinya yang begitu sial.
"Aww.., badanku sakit semua" lirih da xi memegangi pinggulnya.
Kenapa aku begitu sial sih. Terlebih setelah hari pernikahanku di tetapkan, rutuknya dalam hati.
Da xi yang masih terkapar di tanah, mencoba untuk bangun. Namun tidak bisa, karena ia merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Nona, apa anda baik - baik saja?" tanya pria itu mendekat khawatir.
Seketika da xi menoleh kearah sumber suara itu. Lalu kemudian menatapnya tajam penuh kebencian. Yang di tatap menjadi risih dan juga ketakutan. Kemudian ia berjalan mundur beberapa langkah menjauhi da xi yang siap - siap seperti akan menerkamnya saat itu juga
"Cih..!" menatapnya tajam dengan raut wajah kesal. "Apakah aku terlihat baik - baik saja hah!," lanjutnya sinis.
__ADS_1
Pria tersebut hanya diam saja dengan tampang muka tanpa dosanya itu. Lalu da xi tak sengaja melihat apa yang tengah di pegang oleh si pria dengan sangat erat.
"Cih..!!" decihnya kembali, setelah melihatnya.
"Kau ini benar - benar bodoh ya. Bagaimana bisa kau berlari hanya untuk meyelamatkan benda mati itu!" ucap da xi mendengus kesal.
"Justru itu nona, kalau saya tidak menyelamatkannya nona tidak akan selamat" jawab pria itu tanpa berpikir panjang.
Mendengar jawaban pria itu, Da xi semakin kesal padanya. Bahkan ia hampir bangun untuk memukulnya saat itu juga. Tapi untung saja dia selamat, karena da xi tidak bisa bangun.
"Awas kau ya!!" ancam da xi pada pria itu.
Bagaimana da xi tidak kesal coba. Saat ia akan jatuh yang di tolong olehnya malah benda mati itu dan membuatnya terkapar di tanah kesakitan. Apalagi sampai sekarang dia masih memegangi tangga yang ditolonginya itu. Dan hal itu membuatnya menjadi tambah kesal. Saking kesalnya ia bahkan mencopot sendal yang dipakainya itu, untuk menimpugi dia.
Namun bertetapan ketika ia akan melempar sendalnya. Tiba - tiba teriakan mai terdengar, sehingga membuat da xi melempar asal kearah pria itu dan spontan menoleh ke arah mai yang tengah berlari.
"Nona kau baik - baik saja kan? apakah nona ada yang terluka? Disini atau disini? sakit tidak nona?" tanya mai cerocos tanpa henti. Membolak - balikan tubuh nonanya itu karena panik dan khawatir.
Namun orang yang di khawatirkan malah diam saja tanpa meresponnya sama sekali. Lalu memalingkan wajahnya mencari pria itu yang sudah menghilang tanpa jejak bagaikan ditelan oleh bumi.
Flashback end
Kembali lagi kedalam percakapan putra mahkota dengan pengawalnya.
Mendengar hal itu, putra mahkotapun sudah tak bisa berbuat apa - apa. Karena yang sudah terjadi tidak bisa kembali
"Sudahlah.., tapi dia baik - baik saja kan?" tanya putra mahkota.
"Nona baik - baik saja tuan," jawabnya. "Bahkan saking baik - baik sajanya dia masih bisa mengumpatiku dengan lancar" gumamnya pelan agar tidak.
Putra mahkota pun bisa bernapas lega setelah mendengar dia baik - baik saja, lalu kembali duduk.
"Baiklah kau bisa pergi sekarang," ucap putra mahkota.
Namun si pengawal diam saja dan tidak langsung pergi. Sehingga membuat putra mahkota menjadi bingung. Apalagi setelah pengawalnya itu memberikan sebuah sendal wanita padanya.
"Mengapa kau memberikan ini padaku?" tanya putra mahkota dengan menatapnya penuh keanehan.
"Huft..," menghela napas karena mengingat sesuatu.
"Buang saja sana," perintah putra mahkota.
__ADS_1
Belum sadar sendal ini milik siapa, pengawal pun mengingatkanya.
"Pangeran tidak bisa membuangnya," ujar si pengawal.
"Memangnya kenapa?" menatap dengan bingung.
"Karena sendal itu milik nona pangeran."
"Apa!!??"
Langsung mengambil sendal itu dari pengawalnya dan mendekapnya dengan erat.
"Bagaimana ini bisa ada padamu?" tanya pangeran penuh selidik.
"Errrr.." menggaruk kepala yang tak gatal.
Sebenarnya pengawal itu merasa malu apabila mengatakannya. Apalagi itu adalah aib bagi dirinya yang sebagai pengawal gagah perkasa. Namun semua itu rasanya tidak mungkin, karena ia harus selalu setia dan jujur pada atasanya.
"Errr.. itu.., itu..," jawabnya ragu - ragu.
Pangeran menatap bingung pengawalnya. Tak biasanya pengawalnya itu bicara dengan ragu - ragu.
Memantapkan hati dan menahan rasa malu. Akhirnya dia pun bicara, "itu... karena.. hamba ditimbuk olehnya pakai sendal pangeran" jawabnya tertunduk malu sambil meletakan tangannya kebelakang leher.
Huft.., hancur sudah wibawaku. lirihnya sedikit kesal.
" Apa!?" tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "Kau ditimbuk?" lanjutnya bertanya untuk memastikan.
"Iya.."
"Hahahaha.." putra mahkota tertawa sampai terpingkal - pingkal memegang perutnya.
Saat itu, rasanya dia ingin sekali memukul putra mahkota yang tengah tertawa puas padanya. Namun hal itu tidak mungkin terjadi. Mana bisa dia melakukan hal itu pada seorang putra mahkota yang akan menjadi kaisar selanjutnya. Bisa - bisa dia akan di tuduh atas penganiyayaan terhadap anggota kerajaan dan di hukum penggal hingga mati. Hukuman itupun akan terus berlanjut hingga 7 turunan.
Karena hal itu, dia hanya bisa meratapi dirinya sendiri dan merutuk dalam hatinya kesal.
Puas sekali dia menertawakanku. Kalau bukan atasan, sudah ku pukul dia. rutuknya dalam hati.
tbc..
Hai semua, jangan lupa kasih supportnya dengan like, komen, rate dan juga vote yah:)
__ADS_1
Makasih❤