
"Nona.., ayolah nona. Nona.. nona..," teriak mai meneriaki nonanya agar segera turun.
"Huh..," membuang napas dengan kasar karena mai terus meneriakinya.
Mai terus berteriak tak henti - henti, sehingga membuat da xi menjadi tambah kesal padanya. Kesabarannya habis setelah mendengar teriakannya mai. Lalu ia pun menoleh kearah mai dengan kesal dan menatapnya tajam.
Seketika mai berhenti berteriak, ia bergidig ngeri di tatap tajam seperti itu oleh da xi. lalu tersenyum canggung menutupi ketakutanya.
"Apa.., apa..?!" teriak da xi mengandahkan kepalanya kedepan sambil melotot.
"Hehehe..," mai hanya tertawa kikuk sambil menggarukan kepalanya yang tidak gatal.
Da xi kembali menghela napas dengan kasar, melihat mai yang salah tingkah karena dirinya. Lalu memalingkan pandangannya dari mai, menatap tangga yang terkapar ditanah.
"Nona.., ayolah jangan marah. Mai kan hanya mengkhawatirkanmu. Lagipula nona ada - ada aja deh naik keatas tembok tinggi itu, bahaya tahu. Nanti kalau terjadi sesuatu pada nona bagaimana? pasti tuan akan khawatir dan marah. Dan juga.., bukankah sebentar lagi nona akan menikah dengan putra mahkota. Kan kasihan nanti putra mahkota gagal menikah dan jadi duma (duda muda)," oceh mai.
Da xi yang tengah menatap sedih tangganya yang terkapar ditanah itu. Seketika berpaling, setelah mendengar ocehan mai.
Apa - apaan sih, si mai ini. Awas aja ya nanti kalau aku sudah turun, Habis kamu! dumel da xi dalam hati.
"Coba kamu katakan sekali lagi, awas ya ma.." marah da xi dan hampir oleng.
"Nona.. nonaaa..," teriak mai panik melihat nonanya hampir jatuh.
Untung saja hal itu tak terjadi, dan mereka berduapun lega.
"Mai..!!! gara - gara kamu nih, aku hampir mau jatuh kan. Awas ya..!!" marahnya malah menyalahkan pelayannya itu.
"Kok nona menyalahkan mai, kan nona sendiri yang cari bahaya dengan naik keatas sana," jawab mai tak terima.
Da xi diam saja mendengar ucapanya mai, memang karena yang diucapkan mai adalah kebenaran.
"Nona sudah, ayo turun. Bahaya..," kata mai.
"Tidak mau," jawab da xi.
__ADS_1
Aish.., nona da xi buat masalah saja. Benar - benar deh..
"Nona.. ayo turun, jangan manja. Nona kan sudah besar, bukan bayi lagi yang nakalnya ga masuk akal."
"Dih.. bicara aja terus mai, memangnya aku perduli dengan perkataanmu. Lagian aku ini bosen tahu di kurung terus, ga bisa pergi kemana - mana."
"Aish.. nona ini yah," ujar mai berdecak pinggang gereget dengan kelakuan nonanya. "Nona mengapa bisa punya pikiran seperti itu sih. Kata siapa nona dikurung, lagipula nona masih bebas pergi ke setiap sudut kediaman kan?" lanjut mai
"Itu sih apaan, yang ku maksud itu pergi keluar kediaman. Lagian ini semua gara - gara si putra mahkota impoten itu. Gara - gara dia aku jadi tidak bisa pergi kemana - mana. Jiwaku itu butuh kebebasan tahu! huh kalau saja aku tidak akan menikah dengannya, hal ini tidak akan terjadi tahu! " ocehnya kesal.
Mai yang mendengar nonanya itu mengumpati putra mahkota, menjadi panik dan membentaknya.
"Nona diam!!!," bentak mai marah.
Seketika da xi menjadi takut melihat kemarahan mai.
"Nona ini yah, kalau ada yang dengar nona mengumpati putra mahkota bagaimana? Nona akan dipenggal tahu," ujar mai memperingati. Namun da xi acuh tak acuh mendengar peringatan itu.
Mai kebingungan, karena nonanya tak mengindahkan peringatanya. Apalagi dia tidak mau turun dari atas sana. Benar - benar deh semenjak nonanya kecelakaan, sifatnya berubah total dan berakibat dirinya menjadi kewalahan dengan tingkah nonanya itu yang tidak ada obatnya.
Sedangkan itu da xi masa bodo melihat mai yang sudah cape meladeninya. Ia lebih memilih melihat kearah luar yang tercium kebebasan. Ia begitu tak sabar untuk segera pergi dan kabur dari tempat ini.
aaahhh.., aroma kebebasan semakin dekat.
Tak sabar untuk segera turun dan bebas. Sesegera mungkin ia akan turun dari atas tembok. Namun ia kelupaan, bagaimana caranya ia akan turun dari atas sini tanpa tangga atau sebagainya yang bisa membuatnya turun.
Tapi.., bagaimana caranya aku akan turun dari atas sini? sedangkan tangga itu berada dibawah sana.
Untuk beberapa saat da xi terdiam memikirkannya. Bukan da xi namanya kalau tidak berpikir nekat.
"Apa aku lompat saja yah??," gumam da xi yang terdengar oleh mai.
"Apa!!!," teriak mai kaget dengan gumaman nonanya itu. "Nona ini yah! kalau nona lomoat dari atas sini, apa nona pikir nona akan turun dengan baik - baik saja hah? jangan berpikir aneh - aneh deh nona," ucap mai.
Benar juga, aish.. mana mungkin aku akan baik - baik saja setelah itu. Tapi.. tidak ada cara lain, pikirnya dalam hati.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? aku ini kan juga pernah jatuh dengan selamat ketika naik keatas pohon?" saut da xi enteng.
"Aish.., nona sepertinya tidak waras" gumam mai.
"Apa kamu bilang?!," ucapnya marah.
"Akhh.., tidak.. tidak.." jawab mai kelabakan.
Setelah itu, percakapan diantara mereka tak berujung. Yang ada hanyalah saling adu mulut. Sang pelayan terus membujuk majikannya untuk segera turun. Sedangkan sang majikan, masih bepegang teguh dengan pendirianya. Disela - sela perdebatan itu, sang majikan pun berusaha nekat dan akan lompat. Sehingga pelayannya menjadi kelabakan dan panik karena itu.
"Nona...," teriak mai sekencang - kencangnya. Karena sang nona akan lompat dan berdiri diatas tembok yang tinggi itu tanpa rasa takut.
Wuuuh.., gila tinggi banget. Ternyata ngeri juga berdiri di atas tembok. Tapi kalau duduk kembali gengsi, kan mau nakut - nakutin mai. Kok malah aku yang jadi takut sendiri.
"Aduh.. nona, jangan berdiri. Aduh.. bagaimana ini?" ujar mai kebingungan. "Nona.. ayo, jangan berdiri disitu bahaya. Aduhhh dudukpun bahaya, apalagi berdiri" bingung sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mai yang saat itu sangat panik, sudah tidak bisa berbuat apapun. Apalagi nonanya itu semakin menjadi - jadi. Bahkan gara - gara mai yang terus berteriak memanggil nonanya. Membuat dua orang pengawal kediaman yang tengah lewat, mendengar teriakan mai menjadi datang dengan berlari tergesa - gesa dan seketika pengawal itupun terkejut melihatnya.
"Nona da xi?!" kata dua pengawal secara bersamaan.
"Nona da xi, mengapa nona ada diatas sana. Ayo turun nona, itu berbahaya" kata salah satu pengawal yang panik melihat nona mereka diatas sana.
Melihat para bawahannya sedang kepanikan dibawah sana, da xi tak perduli dan terus saja bertengger di atas sana. Namun karena mereka sangat berisik, sehingga membuat da xi menjadi kesal.
"Kalian ini bisa diam tidak!?, berisik tahu. Mengganggu saja," teriak da xi kesal.
"Kalau kalian terus berisik, aku lompat nih.., lompat nih.." ujarnya kembali pura - pura akan lompat.
Melihat hal itu, mereka malah menjadi semakin panik dan tambah berteriak histeris memanggil majikannya yang akan berbuat nekat.
Aish.., kenapa malah jadi begini? benar - benar deh, di ancam malah tambah berisik. ucapnya dalam hati, tak sesuai ekspetasi.
tbc..
Jangan lupa like, komen ,rate dan juga vote ya..
__ADS_1
Makasih❤