
Istana utama
Putra mahkota kini berada di istana utama untuk menghadap ayahnya sekaligus penguasa tertinggi negri ini yaitu kaisar lin hua dong. Pertemuan ini berlangsung cukup lama, entah apa yang dibicarakan oleh ayah dan anak itu. Namun tampak terlihat raut wajah kaisar begitu sumringah dalam pembicaraannya. Begitupula dengan sang istri yang berada disampingnya yaitu permaisuri ratu yiyang.
"Baiklah ayahanda, kalau begitu saya pamit undur diri" membukuk hormat kepada orangtuanya.
"Baiklah, baiklah, baiklah.. putraku. Kau ini di goda sedikit langsung akan pergi," tertawa ketika mengatakannya.
Putra mahkota hanya merespon dengan senyuman saja, karena merasa tak nyaman. Permaisuri yang melihat putranya merasa tak nyaman dengan godaan sang suami, mencoba untuk menghentikannya.
"Sudahlah suamiku, jangan terus menggoda putramu. Kau ini yah dasar ayah yang kejam," ujar permaisuri sembari memukul kecil lengan sang suami.
Namun sang kaisar tak menggubrisnya dan tak henti - henti tertawa. Melihat itu permaisuri hanya bisa menghela napas dengan kasar melihat tingkah laku suaminya itu.
"Yasudah.., pergilah. Lihat, ibumu akan marah padaku nanti apabila terus menggoda putra kesayanganya" ucap kaisar pada putra mahkota.
Karena sudah di ijinkan, putra mahkota pun lansung pergi. Tak lupa ia memberi hormat kembali sebelum meninggalkan istana.
————
Mai yang masih belum menemukan nonanya menjadi gelisah. Ia pun berpikir tak seharusnya ia meninggalkan nonanya itu dan akhirnya ia harus kecolongan.
"Aduh.. nona kau berada dimana sih, nona benar - benar deh membuat mai jadi pusing" ujar mai bedecak pinggang karena kesal tidak bisa menemukan nonanya.
"Bisa gawat nih, kalau tidak ketemu. Bisa - bisa satu kediaman dibuat heboh dengan menghilangnya nona," lanjutnya.
Mai terus menelusuri setiap ruangan di kediaman yang begitu luas itu. Namun dalam pencariannya ia tak berani menanyakan apakah ada yang melihat nona pada pekerja lain. Karena mai takut hal itu membuat kegaduhan satu kediaman.
Aduh.. nona daxi, kau ada dimana sih. Aish.. benar - benar deh nona itu, uuuhhh membuat mai frustasi saja.
"Kemana lagi aku harus mencarinya?," tanya mai pada dirinya sendiri.
Mai terlihat kebingungan, bahkan ia bulak - balik ditempat ia berdiri. Sehingga gelagatnya itu membuat salah satu pelayan dapur yang mengenalinya, menatapnya aneh dan menghampiri mai.
"Xio mai," panggilnya.
Mai menoleh karena terpanggil, " yixin?".
"Mai ada apa? sepertinya kau terlihat kebingungan? apa terjadi sesuatu pada nona?" cecar yixin dengan banyak pertanyaan.
Deg!
__ADS_1
Seketika pertanyaan itu membuat mai menjadi panik, namun ia berusaha menutupi kepanikannya itu.
"Aaa... hahaha, kau ini yixin. Tidak kok, tidak ada apa - apa. Tidak ada yang terjadi pada nona, tidak ada. Haha.. kau ini," jawab mai dengan tawa canggung.
Yixin memicingkan matanya seolah tak percaya dengan perkataan mai.
"Mai.., kau ini aneh. Aku yakin ada yang kau sembunyikan?" duganya penuh selidik.
Aish.., dia tak mempercayaiku lagi. Bagaimana ini? aduh.. nona kumohon kembalilah. Tega sekali, merengek dalam hati.
"Tidak kok yixin, kau ini curiga sekali. Kalau tak percaya, kau datang saja kekamar nona."
Mai terus mencoba meyakinkan yixin dengan jawabannya. Tak segan - segan ia memperlihatkan raut wajah meyakinkannya itu.
Yixin yang masih tak percaya dengan ucapan mai, mengerucutkan bibirnya tak percaya. Kemudian bertanya kembali.
"Lalu apa yang kau lakukan disitu? mondar - mandir penuh gelisah?"
"Memangnya tidak boleh?" jawab mai mulai sinis.
"Boleh.., hanya aneh saja. Men..cu..riga..kan," ujar yixin penuh penekanan di akhir.
Benar - benar yah si yixin ini ingin tahu saja urusan orang lain. Kalau kata nona, ke.. ke apa yah lupa. Oh.. iya, ke...poo.
"Sudahlah.. kau pergi saja yixin. Kau benar aku memang sedang terlihat mencurigakan. Karena aku sedang menghindar dari kemarahannya nona," ujar mai beralasan. "Oh.. iya, di dapur sudah membuat makanan yang nona inginkan belum? jangan sampai kau pun akan terkena damprat kemarahannya nona".
Mendengar pernyataan itu, yixin pun ingat. Dan lansung pergi dengan kesal meninggalkan mai yang tersenyum penuh ejekan.
"Cih.., awas saja kau ya mai" gumam yixin berdecih kesal meninggalkan mai.
Huft.., selamat.
Mengelus dada karena merasa lega.
Nona.., kau dimana? lirihnya dalam hati.
———
Dengan sangat hati - hati da xi berusaha mengangkatnya. Sebenarnya saat itu ada rasa ngeri pada dirinya, karena ia hampir kehilangan keseimbangan. Namun ia berusaha untuk tetap tenang, agar dirinya tak jaduh kebawah. Apalagi tembok yang di naikinya itu lumayan cukup tinggi. Kalau di perkirakan mungkin sekitar 2,5 meteran. Dan dirinya hanya memiliki tinggi 163 cm. Apabila jatuh, akan lumayan sakit.
"Huh.., berat sekali. Butuh perjuangan banget," lirihnya mengangkat tangga.
__ADS_1
Setelah tangga itu sudah ia angkat, da xi pun akan menurunkan tangganya kembali. Tapi tangga itu diturunkan ke sisi yang lain yaitu diluar tembok kediamannya. Agar tangga tak langsung merosot kebawah ketika di turunkan. Da xi pun berusaha dengan sangat hati - hati menurunkan tangga itu.
"Sulit sekali," ujar da xi dengan wajah sangat serius.
Karena menurunkan menggunakan tangan tidak sampai kebawah. Apalagi jaraknya kalau pakai tangan cukup jauh mengenai tanah. Ia pun kembali menggunakan kakinya untuk menurunkan tangga itu.
"Susahnya," sampai berkeringat. "Apalagi punyaku yang dibawah ga nyaman banget lama - kelamaan kena tembok yang lumayan kasar ini," gumamnya merasa tak nyaman dengan area bawah miliknya. Karena posisi duduknya seperti duduk saat naik motor.
Tak menyerah dan terus berusaha, akhirnya tangga sedikit lagi akan turun dengan sempurna. Namun, harapannya musnah seketika ketika ia terkejut mendengar teriakan mai yang tiba - tiba.
"Nona...," teriak mai sangat nyaring dari kejauhan. Karena terkejut melihat nonanya berada diatas sana.
Bruuk!!
Terdengar suara jatuh, bersamaan dengan teriakan mai.
"Akh.. sial!," umpat da xi kesal. Melihat tangganya jatuh dan terkapar di tanah tiduran.
Mai yang panik melihat nonanya diatas, berlari menghampirinya.
"Nona.. nona.., apa yang nona lakukan diatas sana. Ayok.. nona cepat turun, kalau nona jatuh bagaimana? nanti nona akan terluka?," cerocos mai tak berhenti, karena sangat mengkhawatirkan nonanya itu.
Da xi yang saat itu sangat kesal melihat tangganya gagal mendarat dengan mulus, menjadi sangat kesal lagi setelah mendengar ocehan mai yang mengkhawatirkannya.
"Nona.., ayolah turun dari atas sana. Kalau tuan besar dan tuan muda melihat, pasti mereka akan sangat khawatir" bujuk mai.
Da xi yang masih tidak perduli dengan kekhawatirannya mai berusaha untuk menstabilkan kekesalannya dulu. Karena saat itu ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia meluapkan kekesalannya saat itu juga.
"Nona.., ayolah. kumohon.. nona cepat turun dari atas sana. Itu sangat berbahaya nona," bujuknya kembali.
"Nona.., ayo nona. Nona... nona..." teriak mai terus menerus meneriaki nonanya.
"Huh..," membuang napas dengan kasar karena mendengar mai yang terus meneriakinya.
Lalu saat itu juga da xi menoleh pada mai dengan raut wajah menahan emosi karena kesal.
tbc..
Gak bosen - bosen untuk mengingatkan, jangan lupa kasih like, komen ,rate dan kalau perlu di vote juga yah kalau sehabis selesai membaca ini.
Makasih❤
__ADS_1