Terbangun Menjadi Seorang Putri

Terbangun Menjadi Seorang Putri
~Nineteen


__ADS_3

Malam itu, mai berjalan di koridor dengan santai. Kedua tangannya memegangi sebuah nampan yang berisi banyak sekali makanan. Sambil berjalan, sesekali mai melihat sekelilingnya. Sepi, itulah gambaran keadaan saat itu. Namun tak berselang lama, matanya itu tiba - tiba melihat sesosok seseorang yang ia kenal. Lalu matanya membulat karena terkejut dan berlari dengan tergesa - gesa saat itu juga.


Gawat..!! , kata batinya saat itu.


Sedangkan itu, majikan mai sendiri tengah selonjoran cantik menghadap keluar jendela, menatap taman cantik tepat di hadapanya.


Sambil selonjoran, tangan kanannya meraih sesuatu dan langsung memasukannya kedalam mulut dengan cepat. Ternyata saat itu dia tengah memakan buah anggur dan makanan lainnya yang menumpuk di meja yang berada di sampingnya itu.


Dirinya begitu menikmati semua makanan yang ada. Apalagi saat itu, taman cantik di hadapannya membuat suasana semakin menenangkan. Namun ketenangannya itu tak berlangsung lama. Setelah pintu kamarnya di terebos tiba - tiba secara paksa. Hal itupun membuat dia terlonjak kaget dibuatnya.


Bruukk!!!


Pintu kamar da xi terbuka, ia pun langsung menoleh karena terkejut.


"Mai!?" gumamnya bingung sambil memicingkan mata.


Masih dengan nampan berisi makanan di tanganya. Mai langsung masuk kedalam kamar da xi tanpa mengetuk. Ia pun menaruh makanan yang ia bawa kemeja dan melaporkan sesuatu yang sangat penting pada nonanya itu.


"Nona.., nona.., gawat!!" ucap mai panik dengan napas terengah - engah karena berlari.


"Apa yang terjadi mai, mengapa kau sepanik itu?" tanyanya heran. Kebingungan melihat pelayannya yang datang dengan napas terengah - engah.


Namun saat itu, da xi tidak terlalu memperdulikannya dan melanjutkan kembali aktivitasnya yang tertunda itu.


"Aduh..., nona gawat!" ucap mai kembali.


Berbeda halnya dengan Da xi, Mai terlihat begitu panik. Bahkan saking paniknya dia sampai - sampai berjalan mondar - mandir di tempat yang sama. Da xi yang tengah bersantai ria menjadi risih melihat kelakuan pelayannya itu dan memarahinya.


"Mai, kau ini kenapa sih mondar - mandir begitu? Buat kepalaku pusing saja melihatnya" ucap da xi.


Mai yang tengah mondar - mandir dalam kamarnya da xi tiba - tiba berhenti, setelah mendengarnya. Lalu kemudian menatap nonanya itu lekat - lekat. Karena ditatap sampai segitunya sama mai, da xi menjadi tak nyaman dan memalingkan wajah.


Kenapa dia menatapku sampai segitunya? membuatku risih saja.


"Aduh.. nona, ini benar - benar gawat" ucap mai membuyarkan lamunan daxi.

__ADS_1


Daxi kemudian melirik kearah mai kembali, lalu bertanya apa yang membuatnya menjadi seperti itu?


"Mai, kau ini kenapa sih dari tadi bilang nona gawat, nona gawat. Memangnya ada apa?" tanyanya.


"Iya nona gawat," jawab mai mengulangi perkataan yang sama terus.


"Huft.." menghela napas karena mendengar mai yang terus berkata hal yang berulang - ulang.


"Iya aku tahu, tapi gawat apa mai..?" tanya Daxi dengan suara agak meninggi karena tak sabar.


"Itu.. nona.." jawab mai terjeda.


Da xi menjadi semakin tak sabaran mendengarnya.


"Itu nona.." berkata kembali.


Da xi mengangguk - angguk mendengarkannya. Seakan menyuruh mai untuk ceoat memberitahu.


"Itu nona. Tuan sedang menuju kesini," ucap mai berhasil mengatakannya.


Kemudian da xi melanjutkan kembali makannya dan mengambil apel untuk ia makan. Namun pas apel Itu akan ia gigit, ia melihat sesuatu yang membuat matanya terbelak di luar jendela.


"Ayah!" gumam da xi. Tapi raut wajahnya terlihat panik. Setelah itu, lalu menatap kearah mai. Mai pun mengagguk mengiyakan.


"Kenapa kau tidak bilang?," ucapnya pada mai dan langsung berdiri penuh kepanikan.


Mai hanya meresponnya dengan mengangkat kedua bahunya, seolah berkata "tadikan aku sudah bilang".


Melihat itu, dirinya langsung kelabakan dan mengambil semua makanan di meja. Lalu memasukannya kedalam lemari.


"Mai, kenapa diam saja? cepat bantu aku" melihat kearah mai yang hanya diam tanpa melakukan apapun. Padahal saat itu dirinya tengah sibuk memindahkan makanan dari meja kedalam lemari.


"Oh.., baik nona" jawab mai dan langsung membantu.


Setelah semua dirasa aman dan masuk kedalam lemari. Langsung saja da xi beranjak naik keatas kasur dan mulai berbaring. Tak lupa dia memperingatkan mai agar tak melakukan kesalahan. Mai pun mengangguk mengerti atas permintaan majikannya itu. Setelah dirasa semuanya sudah sesuai dengan apa yang di inginkan, ia pun mulai melancarkan aksinya dan menutup matanya itu seolah - olah tengah tertidur.

__ADS_1


Ternyata oh ternyata, Wu da xi ini tengah membohongi semua kediaman terutama keluarganya. Bahwa dirinya tengah terbaring sakit, setelah jatuh dari atas tembok waktu itu. Ia bilang dirinya merasakan sakit disekujur tubuhnya, terlebih ia tidak bisa bangun karena hal itu. Ia bilang begitu agar tidak di omeli oleh ayahnya. Bisa - bisa nanti ia akan dikurung dan tidak di perbolehkan melakukan apapun.


Sebenarnya merasakan sakit disekujur tubuh itu adalah kebohongan. Da xi sendiri hanya merasakan sakit di pinggangnya saja, karena waktu itu dia mendarat dengan tidak benar. Namun entah kenapa dan darimana, tiba - tiba otaknya itu mendapatkan ide kebohongan seperti itu dibenaknya. Tak mau menyia - nyiakan kesempatan, akhirnya dia melakukannya. Apalagi setelah di pikir baik - baik dengan matang, bisa saja hal itu memberikannya peluang untuk tidak jadi menikah, hehehe.


Da xi sudah bersiap - siap menunggu kedatangan ayahnya, begitupula dengan mai yang dengan setia duduk disamping ranjangnya.


Ceklek!!


Pintu kamar Da xi dibuka dari arah luar dan masuklah tuan wu do ran beserta kedua anak laki - lakinya. Mai yang tengah duduk di samping nonanya itu langsung berdiri dan memberi hormat pada mereka.


Wu do ran yang terlihat panik itu, langsung menghampiri putri semata wayangnya dan duduk disamping putrinya. Memegang tangan Da xi penuh kekhawatiran. Sedangkan kedua putranya hanya melihat dari belakang.


"Da xi putriku..," lirihnya memegangi tangan sang putri.


Da xi yang tengah pura - pura tidur, berusaha untuk menahan kegeliannya. Dia paling gelian kalau tangannya di pegang oleh ayahnya. Namun sama kakanya tidak demikian, bukannya geli malah merasa nyaman dan ingin terus menempel. Mungkin karena ayahnya itu kurang tampan kali ya hehehe. Secarakan Da xi hanya menyukai orang - orang tampan. Apalagi melakukan kontak fisik, walaupun cuma sekedar digenggam tangannya atau berpelukan.


"Putriku yang malang," lirihnya kembali dan mengusap lembut kepalanya.


Bagaimana ini, aku benar - benar sudah tak tahan untuk menahannya. Rasanya ingin cepat - cepat ketawa kegelian, ucap batinya.


Karena sudah tak tahan lagi, akhirnya da xi pun membuka matanya dan berusaha untuk tidak ketawa saat itu juga.


"Ayah..," gumamnya sambil mengucek mata. Seolah - olah seperti orang yang baru saja bangun. Lalu dia melihat kearah lain, ternyata ada kedua kakanya juga. Kemudian tersenyum pada mereka.


Ayah membalas senyuman itu, begitupula dengan kakak keduanya Dan yi. Namun tidak dengan kakak pertamanya Zouyu. Dia hanya menatap kearah Da xi tanpa ekspresi dan penuh maksud.


Sudah kuduga, padanya akan sulit. Ucap batinya.


Menatap kearah Zouyu karena orang itu akan sulit dibohongi.


Masa bodolah, dia belakangan. Yang penting para malaikatku dulu ( ayah dan kakak ke-2). Soal iblis (kakak ke-1), entahlah? kalau dia memang ingin menjadi malaikat. Jangan hancurkan rencanaku, lanjut batinya.


tbc..


Hai semua...! jangan lupa like, komen, rate dan vote yah. Terima kasih sudah meluangkan waktu berharga kalian untuk membaca cerita novelku ini.

__ADS_1


Makasih, love you❤


__ADS_2