
"Aduh, kepalaku sakit banget" gumam gracia merasa sakit di kepalanya.
Saat itu dirinya baru saja terbangun dari tidurnya, ketika bangun ia malah merasakan sakit di bagian kepala. Terlebih, ia terkejut dengan dirinya yang sudah berada di sebuah kamar, seperti kamar di rumah sakit.
Kenapa aku ada di sini lagi (rumah sakit) ?, pikir gracia dalam hati.
Sambil menahan sakit di bagian kepalanya, gracia mencoba untuk bangun. Agar ia bisa duduk dan bersandar di dipan ranjang. Namun tiba - tiba ibunya datang menghentikan dia agar tidak bangun dan menyuruhnya untuk terus berbaring di tempat tidur.
Kreakk
"Eeee.., apa yang kau lakukan?" tanya ibu yang saat itu membuka pintu.
Gracia menoleh dan terkejut ketika mendengar suara ibunya itu yang setengah berteriak.
"Apa yang kamu lakukan? sudah, tiduran saja" suruh ibu menghentikan gracia dan membaringkannya paksa.
"Aduh ibu apa - apaan sih, orang aku cuma mau bersandar aja kok" protes gracia.
"Yee ini anak di kasih tahu malah ngeyel ya! bener - bener deh," kata ibu tak kalah protes. "Kamu tahu gak, ini semua akibat kamu ga mau denger kata ibu. Jadi begini kan?" lanjutnya malah mulai mengomeli.
Gracia yang mendengar ibu mulai mengomelinya hanya diam saja dan tidur berbalik membelakangi ibu. Bahkan ketika ibunya mulai menggerutu ini itu tentang dirinya, gracia malah mengikuti gerutu ibunya itu tanpa suara.
Tepakk..
"Aduh.. ibu, ini itu udah termasuk penganiyayaan tahu!" ucap gracia marah.
"Suruh siapa orang tua lagi ngomong, malah di ledek - ledek begitu. Memangnya ibu gak tahu apa kamu lagi mengikuti gerutuannya ibu"
Merasa apa yang di ucapkan ibunya adalah kebenaran, gracia tak berani membantah. Ia hanya bisa menerima rasa sakit di pantatnya, karena di tepak keras oleh sang ibu. Habis itu hukuman dirinya, karena sudah berani mengikuti gerutuan sang ibu ketika sedang menggerutu mengomeli dirinya.
__ADS_1
"Harusnya kamu bersyukur bakalan nikah sama devano, bukankah kamu dulu menyukainya?" ucap ibu tiba - tiba.
Dih, siapa juga yang suka sama si om kunyuk. Iya sih kalau lihat kebelakang, pernah suka si om itu. Tapi kan sekarang sudah beda, aku juga sudah ber-revolusi kali. Memangnya di pikir aku ga bisa move on kali, batin gracia.
"Siapa juga yang suka sama si om kunyuk" sahut gracia tanpa berbalik dan terus membelakangi ibunya.
"Kamu kalau ngomong bener - bener ga bisa di jaga ya, setidaknya panggil dia kakak ke, mas ke, nama ke atau apa gitu yang bakalan enak di dengar. Jangan terus - terusan panggil dia om kunyuk, lagian umurnya dia ga beda jauh dari kamu."
Siska terus saja mencaramahi gracia anaknya itu, walaupun gracia menutupi telinganya dengan tangannya, ia sama sekali tak perduli dan terus mengomel. Saking bosennya terus - menerus ibu mengomeli dia, gracia akhirnya pun berbalik dan mulai berbicara.
"Teross aja ibu bela tuh si om, segitunya yah belain si om" cibir gracia protes.
"Tentu sajalah ibu bakalan belain calon menantu ibu," sahut siska mengucapkannya dengan bangga.
Mendengar itu gracia jadi semakin kesal dan menyunggingkan bibirnya ke atas, seolah - olah berkata tak suka. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa ibunya itu segitunya sama devano.
"Apa bagusnya dia sih bu?" tanya gracia dengan sinis.
"Bilang aja kaya sih, apanya pekerja keras" seru gracia dengan wajah disinis - siniskan.
"Hmm.." ibu hanya berdehem mendengarnya.
Emang yah.., ga dimana - mana namanya setiap orang tua pasti akan menjadi mata duitan pada waktunya, gumam gracia dalam hati.
-------
Gracia kini sudah berada di dalam sebuah mobil dengan ibunya. Mobil yang mereka tumpangi terlihat mewah, karena mobil itu adalah milik devano yang dikirimnya khusus untuk menjemput gracia dan sang ibu mertua pulang. Karena hari ini adalah hari kepulangannya gracia setelah di rawat selama satu hari dirumah sakit. Memang sih, tidak lama seperti sebelumnya. Gracia cuma mengalami syok saja, sehingga bisa pulih dengan cepat dan di perbolehkan pulang dengan cepat juga.
Oh.. ini mobilnya si om, mayan juga. Pantesan ibu mau aku nikah sama dia, apa aku nikah aja ya? kan lumayan tuh hidup enak, bakalan terjamin, ucap batinya dalam hati yang mulai tergoda.
__ADS_1
Lagian si om juga ga jelek - jelek amat, tapi kalau liat muka si om malah buat gue jengkel. Mendingan ga usah deh, ntar malah ketarik lagi auranya gue. Secarakan si om lebih tua dari gue, batinya dalam hati ngomong sendiri.
Siska yang berada di samping gracia meliriknya, ia bingung melihat anaknya itu komat - kamit sambil berekspresi aneh. Karena hal itu ia menjadi sedikit khawatir akan mental anaknya itu, yang semakin hari semakin mengkhawatirkan kelakuannya.
Ih.., ga deh ga deh. Daripada nikah sama si om, mendingan aku nikah sama..
Gracia yang tengah bicara dalam hati, tiba - tiba terhenti. Ketika matanya bertatapan dengan sang ibu yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Apa perlu aku bawa kamu kerumah sakit gila ya?!" celoteh siska sambil menatap anaknya itu.
"Mulai deh!" ujarnya malas dan memalingkan wajahnya kearah jendela. Bisa - bisanya ibu berpikir seperti itu pada anaknya sendiri, ucapnya dalam hati cemberut.
Tak ada pembicaraan yang terjadi setelah itu. Bahkan saking heningnya, sang supir yang mengantarkan mereka terus - menerus melihat ke spion depan saking penasarannya. Tidak lama kemudian, akhirnya merekapun sampai didepan rumah.
Sesampainya di depan rumah, gracia langsung turun meninggalkan ibunya yang masih berada di dalam mobil. Siska hanya menggelengkan kepalanya melihat putrinya itu langsung keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Terima kasih ya pak sudah repot - repot nganter sampai rumah" kata siska dengan tersenyum ramah.
"Iya nyonya, ini kan memang sudah tugasnya saya" jawab pak supir tak kalah ramah.
Siska tersenyum mendengarnya, "kalau begitu saya permisi dulu. Bapak mau mampir dulu untuk sekedar minum teh?" tawarnya pada pak supir.
"Ah.. tidak usah nyonya, terima kasih. Lagipula saya harus segera kembali ke kediaman" tolak pak supir.
"Ohh begitu, kalau begitu tolong titip salam dan sampaikan ucapan terima kasih dari saya ya pak"
"Ah.. iya baik nyonya"
"Saya permisi dulu, sekali lagi terima kasih" pamit siska berlalu keluar dari mobil.
__ADS_1
Setelah turun, mobil itu pun langsung pergi. Siska menunggu di depan rumah mengantarkan kepergian pak supir sampai mobilnya menjauh ga kelihatan lagi. Ia langsung masuk kedalam rumahnya dengan menghelakan napas.
"Apa ku batalkan saja ya?" batin siska ketika masuk kedalam rumah.