
Dibawah cahaya rembulan malam, da xi terduduk diam menatap kearah luar jendela dengan tatapan sendu. Wajahnya begitu teramat sedih, siapapun yang melihatnya saat itu pasti akan merasa kasihan dan iba.
Kenapa hidupku sesial ini? yang aku inginkan kan, hanya sendiri dan menikmati kehidupan pengangguranku saja. Tapi yang terjadi malah tidak sesuai dengan yang ku inginkan.
Da xi menatap kearah luar dengan sedih dan saat itu kesunyian mendukung kesedihannya.
Kalau begitu percuma saja dong aku selama ini melarikan diri sampai time travel segala. Yang namanya perjodohan ternyata ada dimana - mana dan selalu menghantuiku. Aaaaargh... aku benar - benar sangat kesal bila memikirkannya.
Raut wajah sedihnya seketika berubah setelah batinya mengatakan hal itu dengan penuh kesal. Namun mai yang memperhatikan nonanya dari belakang malah semakin sedih dan iba. Ia begitu tidak tega melihat nonanya bersedih.
"Mai lebih suka nona yang bersikap tidak jelas daripada sedih begitu," gumam mai menatap punggung nonanya sedih.
Flashback
Da xi yang tengah berada diruang tamu keluarga di kediamannya itu. Begitu asik makan sambil mendengarkan ucapan dari tuan wu do ran, ayahnya. Disitu bukan hanya ada dia dan ayahnya saja. Namun ada juga kakak kedua, dan yi. Tapi raut wajah ka dan yi saat itu begitu serius mendengarkan setiap perkataan yang terlontar dari mulut ayah mereka. Sangat berbeda dengan da xi, dia mendengarkan namun tidak menyimak setiap ucapan ayahnya. Ia hanya sibuk mengunyah sambil pura - pura mendengarkan.
Tiba - tiba ayahnya berhenti bicara dan melihat kearah da xi yang tengah asik makan. Begitupula dengan dan yi. Mereka berdua lalu saling melirik satu sama lain. Tapi da xi tidak tahu, karena ia masih sibuk dengan acara makannya. Lalu dan yi menatap kearah ayahnya, seolah -olah mengatakan "ayah saja". Do ran pun menghela napas pasrah, sebenarnya ia tidak ingin melakukan itu. Tapi mau bagaimana lagi, tak ada pilihan.
Eumm enak, benar - benar deh hidup didunia ini tak ada tandingannya. Sudah hidup enak, jadi pengangguran kaya pula. Hem.., sebenarnya aku juga merasa bersalah pada ibu. Bisa - bisanya aku tidak merindukannya sama sekali. Tapi.. ya mau bagaimana lagi, toh nanti juga aku akan kembali kedunia asalku ini.
Da xi sibuk mengunyah makanannya, sekali - kali ia tersenyum dengan pikirannya sendiri. Dia benar - benar seperti manusia yang tidak mengkhawatirkan dirnya sendiri. Padahal kini dia lagi di dunia orang, bukan dunianya. Namun dia begitu santai dan cepat beradaptasi. Apa mungkin itu efek karena dia benar - benar ingin lari dari perjodohannya dengan devano?
"Kau saja," tunjuk ayah pada dan yi.
Dan yi menggeleng tidak mau. Ayah menghela napas, lalu menatap putrinya.
Eumm.. nyam, nyam, nyam. Enak banget gila, lama kelamaan bisa nambah gendut ni aku.
Da xi terus sibuk memakan makanannya. Sedangkan dua pria bapak dan anak itu tengah saling melemparkan, siapa yang akan memberitahukanya. Namun karena dan yi selalu menolak, dengan terpaksa ayahpun yang harus melakukannya.
"Ekhem.." ayah berdehem untuk menghilangkan kegugup yang ada.
__ADS_1
Mendengar itu, da xi yang tengah makan pun menoleh.
Ada apa dengan ayah, kenapa dia terlihat gugup begitu. Ditambah lagi dia menatapku terus, bingung.
"Da xi, putriku.." panggil ayah lembut.
"Eumm.. ya," jawabnya sambil terus mengunyah.
"Ee..e..em.. begini," lanjut ayah tersendat.
Ayah aneh sekali, tumben - tumbennya dia bicaranya gagap begitu. batin da xi merasa aneh.
"Mmm.. da xi," panggil ayah kembali gugup.
"Iya ayah, ada apa?" tanyanya penasaran. Lalu menatap kearah dan yi, namun dan yi mengandahkan bahunya seolah - olah tidak tahu.
Ketika da xi masih fokus menatap kakaknya, bertanya ada apa dengan ayah mereka. Tiba - tiba wu do ran (ayah), mengatakan sesuatu yang membuat da xi terlonjak kaget tak percaya. Apalagi ia saat itu tengah mengunyah makanan. Sontak saja, ia pun hampir tersedak karena makanannya tersebut.
Da xi tersedak oleh makanan yang sedang ia makan.
"Uhuk.., uhuk.., apa maksud ayah tadi?" tanya da xi memastikan perkataan ayahnya.
Melihat da xi sampai terkejut begitu, ayah merasa tak enak dengannya. Begitupula dengan dan yi, harap - harap cemas.
"Ayah..., coba ayah katakan sekali lagi. Itu tidak benar kan? pasti aku salah dengar" da xi berusha menyagkal.
Ayah hanya menghela napas dengan raut wajah yang seolah membenarkan.
Melihat respon ayahnya itu, da xi yang tadinya duduk anteng sambil makan langsung berdiri tak percaya. Dan menghampiri kakaknya untuk bertanya kembali, memastikan perkataan ayah adalah hanya bualan saja.
"Kakak dan yi, pasti hal itu tidak benarkan? pasti ayah cuman bicara omong kosong belaka kan?" cecar da xi, terus bertanya dengan memegang bahu kakanya dan menatapnya tepat dibola hitam matanya itu.
__ADS_1
Ketika dan yi ditatap segitunya oleh sang adik, matanya malah menatap kearah lain. Karena tidak berani menatapnya balik ataupun menjawab pertanyaan sang adik.
Huh!!!
Menghela napas kesal, tak percaya.
Kekesalannya bertambah, setelah sang ayah bicara kembali dan membenarkan semuanya. Sehingga da xi tak bisa menyangkal ataupun pura - pura tidak paham.
"Da xi, putriku. Apa yang barusan kau dengar itu benar. Kamu akan menikah dengan putra mahkota" ucap sang ayah membenarkan. "Maafkan ayah," gumamnya dalam hati.
Raut wajahnya yang menegang karena kesal. Seketika melunak, sehingga membuatnya terkulai di lantai. Melihat itu ayah maupun dan yi langsung akan menopangnya. Tentu saja mereka merasa bersalah, namun mau bagaimana lagi, semua itu sudah kehendak yang mulia raja.
Aaarrghhh..., benar - benar sial. Kata batinya kesal.
Flashback end
Da xi yang masih terdiam sembari melihat kearah luar jendela, semakin membuat mai khawatir. Apalagi saat itu angin malam yang masuk begitu dingin.
"Nona, ayolah sudah jangan begitu. Mai tahu nona sedang sedih. Tapi mau bagaimana lagi? semua itu sudah mutlak. Namun begitu kan nona pun tak akan rugi. Apalagi putra mahkota sangat tampan. Dijamin deh sesuai dengan selera nona. Bukankah nona bilang, nona menyukai pria tampan?" ujar mai berusaha menghibur nonanya.
Da xi melirik kan matanya pada mai dan tersenyum seringai. Seakan tak percaya mai sedang menghibur dirinya mengenai putra mahkota yang tampan yang akan menjadi suaminya kelak.
Heh.., si xio mai ini ternyata sedang menghibur diriku. Tapi.. yang di ucapkannya ada benarnya juga. Eh.. tidak, tidak, tetap saja diriku masih sangat kesal. Terlebih dengan yang namanya perjodohan. Memangnya mereka pikir ini zamannya siti nurbaya apa? kuno sekali. Tapi.., aku ini kan memang sedang berada di zaman kuno. Namun versi chinese, huaa.. hiks.." sedih dengan yang di alaminya sekarang.
Mai yang hanya bisa memperhatikan itu dengan sedih. Apalagi nonanya hanya diam tanpa menyahut ucapan penghibur darinya.
tbc..
Hai semua, apa kabar. Semoga baik - baik aja ya. Setelah baca ini, aku harap kalian biasakan like, komen, rate dan juga vote. Dengan begitu aku akan merasa sangat berterima kasih.
Makasih❤
__ADS_1