
Hari ini aku tengah sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan, pernikahan Pak Jordan. Dia adalah manajer hotel tempat aku bekerja. Acara ini akan diselenggarakan nanti malam.
"Ya Allah Nay kapan?" lirihku.
"Kerja woy! Ngelamun mulu," teriakan seseorang dari belakang mengagetkanku. Dia sahabatku, Lusi.
"Ganggu aja lo," ucapku sinis.
"Apa? Lo ngiri lihat orang nikah," selorohnya,
"Mentang-mentang lo udah nikah," aku mendelik sebal, lalu melanjutkan pekerjaan.
"Iri? Bilang bos. Dasar jomblo akut!" ejeknya.
Aku yang tak terima disebut jomblo akut, walaupun benar adanya. Sontak berlari ke arah Lusi, lalu menjitak kepalanya. Lusi meringis memegang kepalanya yang ditutupi jilbab.
"Jaga mulut lo! Udah tahu iya," hardikku. Tawa kami pecah seketika.
Tiba-tiba Lusi menghentikan tawanya. "N... Nay," panggilnya terbata. Mulutnya monyong-monyong, sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.
"Apa sih? Bibir lo udah monyong kali, gak usah digituin," tawaku semakin meledak. Namun Lusi masih saja bertingkah aneh.
"Lo kenapa sih? Cacingan?" aku membalikkan badan berniat melanjutkan pekerjaan, dengan mulut tak henti tertawa.
"Ekhem!" Mendengar suara deheman seorang pria, aku menghentikan tawa seketika lalu menundukan kepala. Kakiku melangkah mundur, mensejajarkan diri dengan Lusi. Aku mencolek-colek tangannya.
"Itu si bos?" tanyaku pelan tanpa menatap pria pemilik suara itu, Lusi mengangguk.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih?" bisikku.
"Gue udah isyaratin lo juga, lo nya aja yang telmi," jawabnya.
"Mati gue si," cetusku
"Udah ketawanya?" aku dan Lusi terdiam beku.
"Udah ngerumpinya?" aku dan Lusi mengangguk.
__ADS_1
"Kerja balik!" seru pria yang merupakan pemilik hotel ini. Lalu melengos meninggalkan dua karyawannya yang pecicilan ini.
Aku dan Lusi saling berpandangan, lalu bergegas melanjutkan pekerjaan. Takut si bos marah lagi, bisa-bisa aku dipecat.
Aku menghembuskan napas lega. Setelah sibuk seharian dari awal hingga akhir acara, aku pulang lewat tengah malam. Karena pesta baru usai pukul 12 malam. Aku langsung menyambar handuk, lalu membersihkan diri. Karena badan ini terasa lengket dan bau.
Setelah merasa segar, aku langsung merebahkan diri di ranjang. Lalu berselancar sekejap di dunia maya, hingga tak terasa mata ini terlelap begitu saja.
'Saya terima nikahnya Anayla Tansha binti Abdul Toyib dengan mas kawin emas 100 gram di bayar tunai'
Sebelum para saksi mengucapkan 'SAH', tiba-tiba hujan mengguyur panggung pernikahan yang diadakan di alam terbuka.
'Byur!'
"Astagfirullah!" teriakku. Ternyata itu hanya mimpi. Aku terbangun, lalu meraba-raba badan ini. Basah! Berarti ini hujannya beneran, cuma nikahnya saja yang enggak.
Mata ini membulat, saat melihat --Rina Rose-- ibuku yang paling bar-bar memegang sebuah gayung. Berarti ini kerjaan...
"Emaaak!" teriakku. Emak menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Lalu memukul pelan kepalaku menggunakan gayung yang dipegangnya.
"Lagian kamu Emak bangunin dari tadi gak nyaut-nyaut, malah senyum-senyum gak jelas. Emak kira kesambet kamu tuh," balas Emak dengan polosnya.
"Ya Allah, Mak!" aku merengek sambil guling-guling di lantai.
Malaikat penolong datang dari depan, dengan tubuh masih dibungkus kain sarung. Dia yang sudah disebut namanya dalam mimpiku tadi. Pria yang kupanggil Abah itu bertanya, "Aya naon ini teh ribut-ribut?"
Mataku berbinar, lalu berdiri menghampiri Abah. "Abah, aku disiram air segayung sama Emak. Nay kira hujan," rengekku dengan nada yang dimanja-manjakan.
"Oh. Harusnya seember itu Mak," jawab Abah sambil berlalu.
Aku melongo, harapanku mendapat pembelaan dari Abah pupus sudah. Mata yang tadi kian bersinar, kini redup. Emak tertawa melihat kekonyolan anak perempuannya yang paling lucu ini, lalu keluar mengikuti kekasihnya.
"Pada jahat ih sama Nay," rutukku sambil berlalu menghentakkan kaki berjalan menuju kamar mandi.
Setelah sarapan, aku berpamitan pada Emak dan Abah. Lalu berangkat kerja menaiki sepeda motor kesayanganku.
__ADS_1
"Nay!" Lusi memanggilku dari depan pintu masuk, sambil melambaikan tangan. Aku yang baru saja selesai memarkirkan motor, langsung menghampirinya. Lalu kami berjalan beriringan.
"Tumben lama banget, untung gak telat. Kalau telat bisa gawat, kena amukan si bos. Soalnya Pak Jordan cuti bulan madu, jadi yang menghandle pekerjaan disini pemilik hotelnya langsung. Itu loh yang kemarin mergokin kita lagi ketawa-ketiwi. Udah ganteng, masih muda, punya hotel lagi, anugerah banget deh," cerocosnya.
Aku menjitak kepala Lusi. "Inget suami woy!"
"Lagian, gue udah tahu kali. Cuma belum lihat mukanya," ujarku.
"Kebiasaan lo tuh jitak kepala orang ini kepala di fitrahin emak gue. Pantesan jomblo mulu, galak begini," ujarnya. Aku nyengir, memamerkan gigi gingsulku.
"Eh lo dipanggil ke ruangan si bos, tadi udah dipanggil lo nya belum datang," sambungnya.
"Lah mau ngapain?" tanyaku.
"Meneketehe. Udah sana!" Lusi mendorong tubuhku, hingga kepala ini membentur pintu.
Aku mengelus-elus kepala yang sakit, lalu mendongkak. Membaca tulisan yang ada di pintu 'Ruangan General Manager'. "Sial!" umpatku.
"Masuk!" perintah dari dalam ruangan mengagetkanku. Aku pun segera masuk ke ruangan si bos.
"Kamu Anayla Tansha? Bagian Housekeeping, 29 tahun dan belum menikah," ujarnya tanpa melihatku. Karena posisi duduknya tepat membelakangiku. Sombong banget!
"Iya, Pak. Ada apa memanggil saya?" tanyaku.
"Tak ada. Lanjutkan pekerjaanmu!" Lalu si bos memberi isyarat agar aku meninggalkan ruangannya.
Aku keluar dengan hati kesal, untuk apa dipanggil hanya untuk ditanyai begitu. Kejombloanku pun disebut-sebut pula, bikin malu. Padahal tinggal baca saja di CV. "Dasar bos aneh!" rutukku.
"Kamu bilang apa?" suara si bos menyahut dari belakang. Alamak bisa bencana ini!
"Tidak, Pak. Saya permisi dulu," aku pun langsung kabur secepat kilat, takut kena amukannya.
Aku berjalan dengan perasaan dongkol, hingga tak sadar menabrak seseorang.
"Aduh!" pekikku.
"Lo kenapa Nay? Jalan kok gak lihat-lihat. Jadi nabrak gue kan, gue jadi jatuh kan," cerocos Lusi. Karena ternyata orang yang kutabrak barusan adalah perempuan kaleng rombeng itu.
__ADS_1
Aku tak menjawab ocehannya. Lalu berjalan menghentak-hentakkan kaki, mendahului Lusi.
Bersambung...