
"Apaan sih Nay teriak-teriak?" tanya Pak Juna.
"Ini bener udah hampir maghrib Pak?" aku balik bertanya padanya.
"Yup," jawabnya singkat sambil terus berjalan menuju salah satu restoran cepat saji. Lalu kami duduk berhdapan, disalah satu meja yang kosong.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya sambil melihat-lihat buku menu.
"Bapak mau makan apa?" tanyaku yang dibalas sentilan dikening ini.
"Ish, sakit tahu," rutukku. Lalu mendelik sebal padanya.
"Orang ditanya malah balik nanya," ujarnya.
"Terserah bapak deh mau makan apa. Aku ngikut aja," ucapku.
Pak Juna memanggil pramusaji, lalu memesan makanan yang dipilihnya. Sambil menunggu makanan datang, sebuah pikiran melintas di kepalaku. Aku lupa bahwa masa cutiku telah habis, dan harus kembali masuk kerja.
"Pak sebenarnya masa cutiku sudah habis beberapa hari lalu, kapan Nay boleh masuk kerja?" tanyaku.
"Kapanpun, aku kan bosnya," jawabnya.
"Ya gak bisa gitu dong Pak. Aku kan tetap karyawan, jangan karena pengaruh bapak aku bisa seenaknya. Itu kan contoh yang buruk," pungkasku.
"Pinter, besok aja bareng. Sekalian urus pengunduran diri kamu," ujarnya.
"Jadi aku gak boleh kerja pak?" tanyaku.
"Boleh sih, tapi jangan jadi housekeeping lagi," jawabnya.
Aku mengernyitkan dahi, lalu bertanya, "Terus jadi apa?"
"Aku gak mau ya kalau cuma nemenin bapak, bosan tahu," sungutku.
"Ya enggaklah. Kan ada si Jordan yang handle sekarang. Jadi aku tak perlu turun tangan," imbuhnya.
"Jadi ibu buat anak-anakku aja. Gimana?" tanyanya sambil mengerling nakal.
"Eaaaaaak. Gombal mulu." kami tertawa bersama. Lalu pesanan kami datang, dua piring spageti dan dua gelas orange juice.
__ADS_1
Baru saja hendak memasukan makanan panjang ini ke mulut, kantung kemihku terasa penuh minta dikeluarkan. Aku pun pamit pada Pak Juna untuk pergi ke toilet. Ia pun mengizinkanku, dan melahap makanannya duluan.
Saat hendak membuka pintu toilet, seseorang menabrakku. Gadis cantik, bertubuh tinggi yang kutaksir usianya lebih muda di bawahku. Gadis itu terburu-buru pergi, tanpa.mengucapkan kalimat maaf sedikitpun. Cantik kok? Ah sudahlah. Aku pun segera masuk ke dalam.
Setelah menuntaskan hajat kecilku, aku keluar berniat melanjutkan acara makan dengan Pak Juna. Namun, langkahku terhenti ketika melihat pemandangan tak mengelokkan didepan sana.
Kulihat gadis yang menabrakku tadi tengah mencium pipi Pak Juna, lalu memeluknya. Dan yang lebih parahnya, Pak Juna pun tak menolak sedikitpun.
Emang dasar laki-laki itu buaya. Tak pernah cukup dengan satu wanita. Kurang imut apa aku ini?
Aku pun menghampiri mereka dengan kesal. Lalu menyambar tas kecilku di meja. "Aku pulang," pamitku, lalu segera pergi dari hadapannya. Muak melihat perempuan itu tersenyum sinis ke arahku.
Tak kugubris teriakkan dari Pak Juna, untuk menunggunya. Karena kudengar juga perempuan itu menahan Pak Juna, agar tak pergi mengejarku.
Kupercepat langkahku, ingin segera pulang ke rumah. Namun saat melewati pintu keluar, aku bertabrakan dengan seorang pria. Dengan sigap dia merengkuhku, dan mataku melebar saat bertatapan dengannya. Dia adalah Pras.
Seketika aku melepaskan rengkuhannya, lalu berjalan melewatinya. Namun, tangan ini dicekal olehnya. "Mau kemana?" tanyanya.
"Pulang," jawabku singkat.
"Juna mana?" tanyanya sambil melihat kiri kanan.
Pras memicingkan mata, "Ya sudah. Biar aku antar,"
"Tak perlu," tolakku.
"Ayo!" Pras menarikku masuk ke dalam mobilnya.
"Kubilang gak usah," protesku.
"Jangan membantah! Aku tahu kalau suasana hatimu sedang kacau," imbuhnya lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari area Mall.
Aku pun tak berkata apa-apa lagi, yang kulakukan hanya duduk diam di sampingnya yang tengah mengemudi. Dengan perasaan kesal memenuhi seluruh rongga dadaku.
Gak kakaknya, gak adiknya, mereka sama saja.
*Author PoV*
Dengan langkah tergesa, Nay keluar dari dalam Mall. Namun tiba-tiba, ia bertabrakan dengan seorang pria yang ternyata adalah Pras. Dengan sigap Pras merengkuh tubuh Nay, membuat tubuh mereka berhimpitan.
__ADS_1
Lalu, Pras membawa Nay masuk ke mobilnya. Berniat mengantarkan adik iparnya itu pulang.
Sedangkan di balik pintu yang terbuat dari kaca itu, seseorang tengah mengepalkan tangan. Disertai dengan nafas memburu, dan hati yang dibakar cemburu. Dialah Arjuna.
Lalu datang seorang gadis yang bergelayut manja ditangannya. Siapakah dia?
---
Pov Nay
Sepanjang perjalanan, hati ini masih diselimuti rasa kesal pada Pak Juna. Aku terus merutuk dalam hati, 'Lihat aku sama Pras dia marah. Sedangkan dia sendiri, dengan entengnya pelukan sama perempuan itu di depan umum. Pakai acara cium-cium pipi segala lagi. Dasar arjuna buaya!"
"Loh kok kesini Pras?" tanyaku pada Pras ketika meyadari mobil ini berhenti bukan di rumah. Melainkan di tepian danau tempat kami menghabiskan waktu bersama, dulu. "Ini kan sudah malam," sambungku.
"Ayo turun!" ajaknya. Ia pun turun, lalu membukakan pintu untukku. Dengan terpaksa, aku pun ikut turun.
"Kau bisa menenangkan pikiranmu disini," ujarnya lalu menarik tanganku. Pras membawaku duduk dibawah pohon besar. Ia duduk sambil memeluk lutut, kebiasaannya dari dulu.
Pras menoleh, "Dulu, di tempat ini kita selalu menghabiskan waktu bersama," aku mengangguk kecil.
"Tempat kita selalu berbagi dalam segala hal," sambungnya.
"Ya. Sebelum kau bermain api di belakangku," ujarku sinis.
Pras menghela nafas berat, "Dan itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku menyesal, karena telah terjebak oleh tipuan perempuan itu hingga menyakitimu. Maafkan aku Nay,"
"Ya. Sudah kumaafkan," ucapku datar. Mata ini tak henti memandang keindahan danau yang diterpa sinar rembulan.
Entah kenapa, dari dulu aku selalu meyukai tempat ini. Airnya yang jernih, membuat hati ini merasa tenang. Dihiasi hamparan bunga teratai di atasnya, membuat danau ini semakin terlihat cantik. Disepanjang sisi, terdapat lampu berwarna-warni. Sehingga walaupun di malam hari, tempat ini sangat terang benderang.
Pras kenapa kau membawaku kesini? Setelah sekian lama aku tak menginjakkan kakiku ditempat ini. Aku takut semua kenangan bersamamu kembali mengusik hatiku. Dan kini, kau yang sudah membuatku mengingatnya.
Meskipun sudah bertahun-tahun aku melupakannya, tapi perasaan itu tak mudah hilang sepenuhnya. Mungkin rasa itu masih ada, tapi bukan lagi cinta seperti yang dulu.
"Aku tahu, suasana hatimu sedang tidak bagus. Makanya aku membawamu kesini. Kau boleh meluapkan keresahanmu padaku," ucapnya.
Aku tak membalas ucapannya, mana mungkin aku menceritakan masalahku dengan Pak Juna padanya.
"Jika kau tak bisa membagi masalahmu denganku, tak apa. Menangislah, jika itu mampu meringankan semua beban di hatimu," ucapannya yang lembut mampu menenangkan perasaanku. Dari dulu, Pras selalu mengerti diriku.
__ADS_1