
"Pak Juna!" pekikku.
"Jangan keras-keras bicaranya, nanti ketahuan," ujarnya.
Aku sontak menutup mulut, rindu yang selama ini kutahan kini terbalas sudah. Karena Pak Juna sedang berdiri di hadapanku saat ini. Tapi apakah ini nyata atau hanya khayalanku semata?
"Nay!" Panggilan Pak Juna seketika mengagetkanku dari kebengongan.
"Ini beneran bapak? Aku gak lagi halusinasi kan?" cecarku.
"Iya ini beneran aku, Arjuna gak pake buaya," jawabnya. Lah, sejak kapan bos jutek itu jadi kocak begini?
"Bapak kok baru kesini?" tanyaku.
"Aku dikurung di sini selama berhari-hari sama si Pras, sampe sakit karena kangen sama bapak." Aku mengerucutkan bibir, mulai merajuk padanya.
"Apa jangan-jangan bapak gak nyariin aku? Seneng ya aku menghilang? Biar bapak bisa mesra-mesraan sama si Ang..." ucapanku terhenti tatkala Pak Juna mendaratkan kecupan di bibirku.
"Kamu gak capek ngomong terus?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala. Pak Juna berjongkok, tangannya terulur memegang tanganku. "Sayang, sekarang bukan waktunya menjelaskan. Aku harus pergi, waktuku tidak ba-" ucapan Pak Juna terpotong seiring suara ketukan di pintu. Aku dan Pak Juna saling melempar pandangan.
"Nay, apa kau ada di dalam?" tanya seseorang dari balik pintu. Aku yakin dia Pras.
"Pras, a ... aku sedang mandi. Jangan masuk! Kenapa kau masih disini?" tanyaku.
"Ah ya, aku ketinggalan sesuatu," jawabnya. Aku ber-oh ria.
"Ya. Aku pergi dulu," ujarnya. Lalu terdengar suara langkah kakinya menjauh.
"Haaacih!" Suara bersin Pak Juna yang sangat keras, membuat Pras kembali mendekat.
"Itu suara siapa Nay?" Pak Juna refleks menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Em ... itu aku Pras," jawabku.
"Tapi terdengar seperti suara laki-laki. Kau baik-baik saja Nay?" tanyanya.
"Jangan khawatir Pras, aku cuma kedinginan," balasku.
__ADS_1
"Ya sudah. Jangan lama-lama mandinya," ujarnya sambil berlalu.
Aku dan Pak Juna menghela nafas lega, lalu saling menatap. Tangan Pak Juna terulur menyentuh pipiku. "Sayang, aku harus pergi sekarang."
"Tapi Pa-" ucapanku terhenti saat Pak Juna mengecup bibir ini secara tiba-tiba. Suka betul menciumku secara tiba-tiba Pak.
"Pras gak tau aku kemari dia melarangku karena terlalu beresiko. Aku janji setelah semua masalahnya selesai, kita akan punya lebih banyak waktu. Kita habiskan sepanjang waktu untuk bersama," ujarnya.
Aku mengangguk pelan. Sedikit kecewa, namun Pak Juna benar. "Pergilah, aku akan menunggumu di sini."
Seulas senyum mengembang di bibir Pak Juna, ia mengacak gemas rambutku. "Aku pergi."
Pak Juna beranjak, mulai melangkah meninggalkanku yang tak henti memperhatikannya. Saat tangannya terulur memutar knop pintu, ia memutar badannya kembali menghadapku. "Nay," panggilnya.
Aku mendongak menatap wajahnya. "Apa Pak?"
"Tidak. Hanya ingin memanggilmu saja," ujarnya sambil berlalu dari hadapanku. Aku tersenyum menanggapinya.
"Segarnya," ucapku setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Aku melangkah menuju balkon berniat mencari udara segar. Aku dibuat kaget saat mataku tertuju pada sekelompok pria berbaju hitam tersebar di seluruh penjuru rumah ini. Sebanyak itu? Sebenarnya ada apa ini?
"Sinta!" panggilku saat mata ini tak sengaja melihatnya sedang berbincang dengan salah satu dari pria berbaju hitam. Mereka menoleh ke arahku.
Aku langsung mem berondongnya beberapa pertanyaan. "Orang-orang yang pake baju hitam itu siapa Sin? Apa penjaga rumah ini? Tapi kok banyak banget?"
"Kami anak buahnya Bos Juna," jawabnya.
"Anak buah?" tanyaku heran. Sinta mengangguk.
"Anak buah gimana Sin maksudnya? Aku gak ngerti," selidikku.
"Kami adalah anggota organisasi yang didirikan Bos Juna. Singkatnya kami mafia," jawab Sinta.
"Apa? Mafia?" mataku membulat sempurna. Yang kutahu mafia adalah sekelompok orang kriminal.
"Bukankah mafia adalah sekelompok orang yang menjalani bisnis dengan ilegal bahkan sampai berkelahi yang terkesan jahat dan kejam" tanyaku.
"Ya pada umumnya begitu. Tapi Bos Juna tidak seperti itu dia mafia baik, dia justru banyak membantu orang. Termasuk kami semua, sebagian dari kami adalah orang-orang yang terlunta-lunta di jalanan. Kami berasal dari daerah dan agama yang berbeda. Bos Juna merangkul kami dan memberi tempat tinggal. Tak hanya itu, dia melatih kami bela diri dan memberi kami pekerjaan. Dan dia adalah seorang hacker," terangnya.
"Jadi Pak Juna bukan seorang kriminal?" tanyaku.
__ADS_1
"Tentu saja bukan, yang kami lakukan semuanya legal. Tapi terkadang kami berkelahi untuk melindungi orang yang tertindas dan melindungi diri sendiri. Kemampuan meretas pun hanya kami gunakan untuk keadaan genting yang bermanfaat dan tidak merugikan siapapun," jelasnya.
Aku menghela nafas lega. "Syukurlah, aku takut jika nanti kalian akan berurusan dengan polisi dan berakhir dipenjara."
"Tenang saja, semua itu tidak akan…" ucapan Sinta terpotong seiring terdengarnya suara tembakan yang nyaring dari luar. Aku dan Sinta terkejut, dia bergegas melihat situasi dari balkon.
"Sial!" umpatnya.
"Ada apa Sin?" tanyaku cemas.
"Nay kamu tunggu disini, kunci pintunya dan jangan keluar," titahnya sambil meninggalkanku dengan tergesa. Aku pun mengunci semua pintu sesuai perintah Sinta, lalu aku duduk di sofa dengan gusar. Rasa takut semakin menyeruak mendengar suara saling bersahutan orang berkelahi. Bagaimana ini?
"Aaaaaaah," aku berteriak ketika seseorang berhasil membobol pintu dan merangsek masuk. Seorang pria bertubuh tegap yang menyeramkan berjalan mendekatiku sambil mengacungkan sebuah pistol dan mengarahkannya padaku.Aku bersingkut mundur hingga berada di pojok ruangan, namun pria itu semakin dekat. Aku takut tak tahu harus apa.
Pria itu menyeringai, bersiap melancarkan tembakan. Aku pasrah menutup mata. Mungkin inilah akhir hidupku. Ya Allah ampuni hamba.
"Dor! Dor! Dor!" terdengar suara tembakan tiga kali. Apakah nyawaku sudah terpisah dari ragaku? Aku sontak membuka mata saat seseorang memanggilku. Pak Juna dengan pakaian berlumuran darah.
"Nay kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Aku mengangguk lalu memeluknya dan menangis. "Aku takut, Pak. Pria itu mau menembakku."
"Tenanglah dia sudah dilumpuhkan," ucapnya menenangkanku. Aku melerai pelukan dan menatapnya sendu, kusentuh wajahnya yang penuh luka lebam.
"Aku baik-baik saja sayang," ucapnya.
"Ayo kita pulang," ajaknya. Aku mengangguk lemah tanpa mengeluarkan sepatah katapun, masih syok atas apa yang baru saja kualami. Hampir saja aku meregang nyawa.
"Terima kasih atas kerjasamanya, berkat anda kami dapat menangkap dan membuktikan aktivitas ilegal yang mereka lakukan," ucap salah seorang pria berseragam polisi sambil menjabat tangan Pak Juna.
"Sama-sama Pak, dengan senang hati," ucap suamiku itu. Kami pun pulang diiringi beberapa mobil polisi yang membawa gerombolan penjahat dan anak buah Pak Juna yang terluka untuk dibawa ke rumah sakit. Perlahan kesadaranku mulai hilang.
"Satu… Dua… Tiga… Huuuuu!" Semua orang bersorak gembira saat aku dan Pak Juna melempar buket bunga, mereka berebut untuk menangkapnya. Ya, ini hari yang sangat spesial untukku. Kami melakukan resepsi pernikahan yang digelar mewah di hotel milik Pak Juna sebulan kemudian setelah kejadian di villa itu.
Seorang gadis tengah terpaku dengan sebuah buket dalam genggamannya, dia Sinta. "Selamat! Kamu akan mendapatkan jodohmu setelah ini gadis cantik," ucap seorang pembawa acara ternama yang berada dalam naungan agensi Arp Entertainment, sengaja Pak Juna yang mengundangnya.
Tiba-tiba seorang pria muncul melemparkan senyum dan menggandeng mesra tangan Sinta, orang itu Pras. Akhirnya dia menemukan tambatan hati dan mendapatkan perempuan yang cantik, baik juga jago beladiri. Kebahagiaanku rasanya berlipat-lipat ganda.
Para tamu berdatangan dan memberi ucapan selamat dan mendoakan kebahagiaan kami. Tak lupa untuk mengabadikan momen sekali seumur hidup ini, kami melakukan sesi foto bersama. Akhirnya kisah ini berakhir bahagia. Terima kasih Ya Allah.
__ADS_1