Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 8


__ADS_3

Saat makan malam pun aku tetap mengurung diri dikamar. Tiba-tiba si Adam masuk membawa sepiring makanan. Perhatian banget adikku yang usil itu. Ah jadi sayang!


"Dams," panggilku.


"Lo kenapa gak keluar makan malam bareng?" tanyanya. Lalu duduk di sisi ranjang.


"Gue galau nih Dams," jawabku.


"Ya sudah nih makan dulu!" titahnya.


Aku menggeleng, menolak makanan yang disodorkan Adam. "Gak nafsu gue," tolakku.


"Elah, kalau galau tuh harus makan yang banyak biar gak tepos," ucapnya sambil melirik dua tabung gas milikku.


"Sialan! Mana ada gue tepos. Ini seksi tau," aku bersungut sebal.


"Ya sudah makan!" Adam menyodorkan nasi ke mulutku. Aku jadi terharu.


"Lo tuh harus banyak makan. Biar sehat, banyak tenaga. Orang kawin itu, butuh tenaga ekstra buat nanti malamnya," cerocosnya, sambil terus menyuapiku.


"Apaan?" tanyaku polos.


"Masa lo gak tau sih? Itu, bercocok tanam. Bikin anak," jawabnya usil.


Mataku melotot, lalu memberikan serangan bantal bertubi-tubi pada Adam. "Gelo!"


Ia tertawa. "Haha. Tuh si Sheila buktinya."


"Emang enak Dams?" tanyaku penasaran.


"Umur udah tua masih aja polos. Rasain aja sendiri," jawabnya, sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutku. Begitu kukunyah, kok gini ya rasanya? Ini lengkuas!


"Adaaaaaaaaaams!" teriakku. Dia lari terbirit-birit, sambil tertawa puas. Ternyata niat baik lo busuk Dams. Pantas saja tumben-tumbenan dia perhatian, akal punya akal ternyata menyimpan siasat. Awas lo!

__ADS_1


Udah mah kesel sama si bos, ditambah si Adam lagi. Ya Allah kuatkan hamba! Iseng, kubuka aplikasi berwarna hijau. Ternyata ada pesan dari Lusi juga kontak bernama Bos Sayang. Lah ngapain?


'Jaga kesehatan Nay. Sebentar lagi kita akan menikah.' Nyebelin banget kan. Udah tahu iya kita mau nikah, nikah sama orang yang berbeda. Dia sama perempuan itu, aku sama si Arjuna buaya. Tak kubalas pesan darinya, kadung sebal.


Beralih pada pesan dari Lusi yang isinya mengingatkanku untuk terus berdo'a yang terbaik, semoga dilancarkan sampai pada waktunya. Ah sahabatku itu paling bisa deh bikin aku terharu.


"Siap sayang. Besok nginep disini ya, izin sama suami lo!" kukirim balasan pada Lusi. Tak berselang lama Ia membalas dengan emoticon love, berarti dia setuju.


Lega rasanya, walaupun hati dag dig dug. Semoga saja kenyataan sesuai dengan harapan. Aku pun merebahkan diri, lantas segera menutup mata. Badanku harus tetap fit, karena besok akan sangat sibuk. Meskipun hanya acara akad sederhana, kami harus menjamu keluarga calon suamiku dengan istimewa. Katanya setelah akad dilaksanakan, acara resepsi baru akan ditentukan. Kami menurut saja usul mereka.


Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang, aku lekas membuka mata. Lantas beranjak pergi, membersihkan diri dan berwudhu. Kuambil mukena dan sajadah yang terlipat rapi, di dalam lemari. Kuhampiri Abah, Emak, Adam, Nita juga Sheila. Ah anak manis itu bahkan telah menungguku di ruang sholat. Kami pun sholat subuh berjamaah. Setelah selesai, Abah memanjatkan do'a terbaik untuk kami semua.


Tak lupa kuselipkan juga sebait do'a, semoga acara pernikahanku lancar sampai hari yang telah ditentukan. Aku harus belajar ikhlas dan menerima Arjuna sebagai suamiku nanti. Meskipun, hati ini telah terjebak cinta bos imut. Jika memang tidak berjodoh, maka jodohkanlah. Eh! Astagfirullah. Aku harus bisa melupakannya. Semangat Nay!


Kami serempak mengucapkan, "Aamiin!" Lalu kami saling bersalaman.


"Nay, mulai besok kamu bukan tanggung jawab Abah lagi. Tanggung jawab itu akan berpindah ke bahu suamimu. Abah harap kamu bisa menjadi istri dan menantu yang baik," ujar Abah, mengelus lembut kepalaku. Aku mengangguk lantas memeluk Abah, terharu banget.


Emak menimpali, "Betul kata Abah, Nay. Kamu harus senantiasa berbakti pada suamimu. Selama berada dalam kebaikan, kamu wajib menuruti semua perintahnya. Jika suatu saat ada masalah, lalu bertengkar. Jangan sekali-kali menginjakkan kaki keluar dari rumah, meninggalkannya. Perbanyaklah sabar, kamu harus bisa jadi penyejuk untuk suamimu, Nay."


"Sini peluk gue!" Adam merentangkan tangannya.


"Ogah!" tolakku lalu menghambur memeluknya. "Dams, doain gue ya!"


"Selalu, Nay. Semoga lo mendapatkan suami yang baik, macam gue ini," ujarnyam


"Pede amat!" Aku melepas pelukan Adam, bergantian memeluk Nita dan Sheila.


"Eh, calon suami lo ganteng banget,," ucap Adam.


"Sumpah lo?" tanyaku antusias, dengan mata berbinar.


Adam mengangguk. "Tapi boong!"

__ADS_1


Kupukul badannya berkali-kali, sampai dia meringis minta ampun. Rasain!


"Ampun, Nay! Kalau gue babak belur begini, gak bisa kasih Sheila adik dong."


Kami melepas tawa bersama, begini kalau sudah berkumpul. Suasana ini akan sangat dirindukan, setelah aku menikah nanti. Lalu kami larut dalam suasana haru, setelah Emak dan Abah memberi wejangan-wejangan tentang rumah tangga padaku.


Hari ini melelahkan sekali, semua orang sibuk mempersiapkan pernikahanku. Para lelaki tugasnya mempercantik seisi rumah. Sedangkan, para wanita fokus berkutat di dapur. Membuat aneka camilan dan olahan masakan. Tak sedikit juga, tetangga yang ikut membantu.


Hingga sore hari, semua pekerjaan telah rampung. Kami semua berkumpul di ruang depan yang sudah didesain sedemikian rupa, untuk acara akad nanti. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Nita lekas membukakan pintu. Terlihat Lusi, masih mengenakan pakaian kerja.


Nita menyuruhnya masuk, "Eh Teh Lusi, ayo masuk!"


"Iya. Assalamu'alaikum," Lusi mengucapkan salam, lalu menyalami kami bergantian.


"Gue kira lo lupa," ucapku lalu memeluknya.


"Ya enggak lah. Ini aja gue dari hotel langsung kesini. Mana gue dihukum sama si Bos. Semenjak gak ada lo dia jadi uring-uringan gak jelas. Gue aja gak salah apa-apa dihukum," cerocosnya.


Mulutnya tak bisa di rem banget sih. Ngomongin Pak Juna depan Emak dan Abah, bisa mati aku. Aku memberinya isyarat untuk tutup mulut. Lusi membekap mulutnya, lalu senyum cengengesan.


"Gimana kabarnya Neng? Udah isi belum?" tanya Emak pada Lusi.


"Alhamdulillah baik Mak, sedang berusaha. Doakan saja semoga cepat isi," jawabnya.


"Aamiin Neng. Ya sudah, mandi dulu atuh lalu istirahat. Nanti kita makan malam sama-sama," ujar Emak.


"Iya, Mak. Lusi kebelakang dulu ya sama Nay," pamit Lusi. Aku pun menggandengnya menuju kamar.


"Lo tuh kalo ngomong di rem dikit kenapa," cecarku.


"Hehe, ya maaf," jawabnya.


"Ya udah sana mandi! Bau tau," titahku.

__ADS_1


"Siap, nona!" Lusi membungkukkan badan ala-ala pelayan istana, yang memberi hormat pada tuan putri. Lalu kami tertawa. Lusi langsung menyambar handuk, pergi ke kamar mandi.


__ADS_2