Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 18


__ADS_3

"Ayo Pak masuk," ajakku. Ia hanya membalasnya dengan deheman. Bersiap-siaplah untuk perang dunia ketujuh Nay!


"Nay!" Pak Juna menarik tanganku, ketika aku hendak beranjak ke kamar mandi. Aku berniat mengganti pakaian dan pembalut, karena tak nyaman rasanya tembus semalaman.


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku ala-ala operator.


"Tidak. Pergilah, bersihkan badanmu!" aku mengangguk mendengar perintahnya, lalu mulai melangkah.


Baru saja dua langkah maju, Pak Juna sedikit berteriak, "Pastikan bekas tangan Pras menghilang dari tanganmu!"


Aku berbalik, menoleh kearahnya. Menaruh telapak tangan didahi, berseru, "Siap Bos!" 


Ia terkekeh melihat kelakuanku, lalu memberi isyarat menggunakan tangannya agar aku segera pergi. Ada-ada saja pria itu, kukira ia akan sangat marah. 


Aku menghela nafas lega, selamat. Perang dunia ketujuh tidak terjadi. Sikapnya memang sulit ditebak.


Ketidak nyamanan yang merasuki sedari tadi, membuatku terburu-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 


Sikap Pras tadi membuat kenangan beberapa tahun silam itu, terbuka kembali. Ia masih sama seperti dulu, hatiku merasakan suatu getaran kecil. 


Aku menggeleng, tak boleh baper. Ada Pak Juna yang telah mengisi relung hati ini. 


Baru saja hendak membuka pakaian, terdengar suara suara Pak Juna berteriak memanggil namaku.


Tak kuhiraukan panggilannya, aku kembali melanjutkan aktivitas mandi. Palingan dia cuma iseng. Kuguyur badan ini menggunakan shower, segar menembus lapisan kulit. 


Tapi lagi-lagi Pak Juna berteriak, dan panggilan itu berlangsung beberapa kali.


"Nay!"

__ADS_1


Itu orang baru saja ditinggal sebentar udah teriak manggil-manggil. Rindu ya Pak? Tapi si Dilan bilang, jangan rindu. Berat!


"Nay buka pintunya!" titahnya sambil menggedor-gedor pintu.


"Apa sih Pak? Orang lagi mandi juga," teriakku dari dalam, sambil tetap melanjutkan mandi. Bukan Pak Juna namanya jika menyerah begitu saja, ia semakin keras memanggilku.


Aku yang geram bukan main, langsung membuka pintu kasar. "Ada apa sih Pak berisik banget? Kangen sama Nay? Bisa tunggu bentar gak? Nay tanggung lagi mandi," cerocosku.


Dahiku mengernyit, heran dengan ekspresi wajah Pak Juna. Ia melongo sambil menelan ludah, lalu menutup wajahnya dengan kelima.jari. Namun tidak dengan bagian matanya, ia tak berkedip melihatku.


"Huwaaaaaaaaa!" teriakku saat menyadari diri ini dalam keadaan tanpa busana. Aku kembali masuk ke kamar mandi, membanting pintu lalu menguncinya. Mau disimpan dimana wajahku yang imut ini? 


"Nay apa kau lupa membawa barang yang semalam?" tanyanya dari luar.


"Eh, iya Pak. Gantung saja dipintu nanti aku ambil," ujarku sambil menepuk jidat. Dasar pelupa!


"Oke," sahutnya. Lalu terdengar suara langkah kaki menjauh. Aku pun pelan-pelan membuka pintu, takut dia masih berada didepan pintu.


Setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian lengkap, aku memegang knop pintu bersiap membukanya. Namu segera kuurungkan, mengingat kejadian tadi. Aku tak siap bertemu dengan Pak Juna, malu. Tapi jika terus-terusan disini, bisa mati kedinginan.


Aku terus berperang dengan ego, dan akhirnya memilih untuk keluar. "Bismillah." Kuputar knop pintu, sambil menghela nafas berat. Dan ...


Pak Juna tengah berdiri mematung, tepat dihadapanku. "Bapak ngapain disini?" tanyaku.


Bukannya menjawab, Pak Juna menarikku kedalam pelukan. Hatiku berdesir, getaran-getaran halus menelusup ke dasar jiwa. Nyaman, itu yang kurasa.


'Berada dipelukanmu menyadarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta.' 


Lagu salah satu penyanyi muda, seakan mengiringi suasana syahdu ini. Romantis!

__ADS_1


Ia melerai pelukannya, lalu memegang kedua bahuku. "Lama banget sih mandinya," protesnya merengut kesal. 


Aku menggaruk tengkuk tak gatal, cengengesan. Pak Juna menarik tanganku lembut, membawaku duduk dikursi panjang yang berada di balkon.


"Tangan mana yang tadi dipegang Pras?" tanyanya. Aku sedikit mengangkat tangan sebelah kanan yang ditarik oleh Pras tadi, menunjukkannya pada Pak Juna.


Pak Juna menggenggamnya, lalu menciumnya. "Akan kuhilangkan bekas sentuhan tangannya ditanganmu. Hanya aku saja yang boleh menyentuhmu," ujarnya. Hati ini meleleh, Pak Juna selalu bisa membuatku baper.


Mata kami saling bertautan, menatap dalam. Rambut lembutnya beterbangan diterpa angin, membuat ketampanannya semakin terpancar. Apalagi bibirnya yang tengah meengkungkan senyum, membuatku mabuk kepayang. Pak Juna adalah anugerah Tuhan yang paling indah.


Ia beralih mengusap pelipisku yang memar terkena pukulannya, yang tidak sengaja melayang ke arahku. Lalu mengecupnya lembut. Kulihat raut mukanya menunjukkan penyesalan. "Sakit ya?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Maaf, Nay. Seharusnya aku bisa mengendalikan emosi. Mungkin aku tidak akan sampai menyakitimu begini," ujarnya.


"Nay gak apa-apa kok Pak. Nay juga minta maaf, seharusnya menolak saat Pras menarik tanganku. Tapi..." ucapanku terpotong saat ia tiba-tiba mengecup bibirku sekilas. 


"Sudah Nay, tak perlu diteruskan. Aku mengerti, kau tak ingin ada keributan didepan Mama dan Tisha kan?" aku mengangguk.


"Aku pun ingin marah saat itu, tapi kutahan. Agar mereka tak mengetahui tengtang masalah kita bertiga," sambungnya.


Pak Juna tersenyum, lalu beranjak meninggalkanku yang terdiam kaku. Mendapat perlakuan manis darinya, membuatki tak bisa berkata apa-apa. 


Selang beberapa detik, ia mengetuk kaca tepat dibelakang kursi tempatku duduk. Membuatku terperanjat kaget. Pak Juna tertawa kecil. "Kenapa masih duduk disitu?" tanyanya. 


Aku menoleh ke arahnya, lalu ia bertanya lagi, "Kamu gak mau ikut jalan-jalan?"


"Kemana Pak?" tanyaku. "Bapak kan masih sakit."


Ia menggeleng santai, "Ayo!" ajaknya. "Aku tunggu dibawah," ujarnya lalu melenggang pergi.

__ADS_1


Dengan bersemangat aku berjalan menuju meja rias. Memoleskan riasan tipis ke wajah, lalu menata rambutku sedemikian rupa agar terlihat mempesona. Walaupun aku memang sudah cantik dari sananya.


Finish, aku sudah siap jalan bareng suamiku tercinta. Lets go!


__ADS_2