
"Tidak! Siapa yang mau nangis?" elakku. Berusaha menyembunyikan kerapuhanku, agar tak terlihat lemah di hadapannya. Tetapi mata ini tidak bisa diajak kompromi, satu bulir bening jatuh tanpa permisi. Laku diikuti bulir-bulir yang lainnya.
Pras segera menghapus air mata ini dengan jemarinya. "Aku disini untuk menghapus kesedihanmu," ujarnya berusaha menenangkanku.
Kugenggam tangannya yang berada dipipi ini. "Terima kasih, Pras."
Ia mengangguk, sudut bibirnya terangkat menyunggingkan senyuman. "Kamu jelek kalau nangis begini," ledeknya.
Mataku melotot memandanginya, lalu kudaratkan pukulan bertubi-tubi di lengannya. "Sialan kau!"
Ia meringis, minta ampun. Tapi tak ku gubris sama sekali, aku terus menghajarnya. Tiba-tiba ia menahan tanganku, hingga pandangan mata kami beradu.
'Deg deg deg'
Hati ini berdebar kencang. Jangan sampai rasa itu muncul kembali disaat seperti ini.
"Nay!" seseorang berteriak memanggilku. Aku tersentak kaget, lalu segera melepaskan pegangan tangan Pras.
Aku berdiri, menoleh ke asal suara. "Pak Juna..." gumamku.
Pak Juna menghampiriku, lalu menarik tanganku kasar. Aku meringis kesakitan. "Sakit Pak," keluhku.
Pak Juna tak menggubris perkataanku, ia terus berjalan cepat hingga aku terseok mengimbangi langkah kakinya. Ia melepas cengkramannya di tanganku, lalu menaiki motornya. "Naik!" titahnya.
Aku pun menuruti perintahnya. Tanpa banyak bicara, Pak Juna langsung melajukan motornya kencang. Kulihat, Pras tengah berdiri mematung dibawah pohon tadi. Ia mengangguk sambil tersenyum, seolah mengatakan semuanya baik-baik saja.
Dia memelukku erat, ketika kami baru sampai dirumah. "Jangan salah paham Nay. Ini tak seperti yang kau pikirkan," ujarnya memelas.
"Memang apa yang aku pikirkan?" tanyaku acuh.
"Aku dan Angel tak ada hubungan apa-apa. Dia memang selalu mrngejarku, tapi aku selalu menolaknya," jelasny.
Oh jadi perempuan itu namanya Angel. Dasar malaikat berhati iblis kau. Nama saja yang bagus, kelakuan begitu. Aku tersenyum sinis, "Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, Pak. Tak usah mengelak, bahkan bapak hanya diam saat dicium olehnya,"
"Bukan begitu Nay. Dia muncul tiba-tiba, aku tak sempat menghindarinya," imbuhnya.
"Sudahlah Pak, Nay mau istirahat. Besok masuk kerja," aku melengos pergi meninggalkannya.
Saat kaki ini melangkahi anak tangga satu persatu, ucapan Pak Juna menghentikan langkahku. "Apa itu artinya kau cemburu?" tanyanya sedikit berteriak.
"Dih, siapa yang cemburu," elakku. Lalu kembali melanjutkan langkahku menuju kamar. Sebelum menutup pintu, aku sempat mendengar pria itu tertawa kecil.
Keterlaluan! Kau bahagia diatas penderitaanku, Pak.
Aku langsung menjatuhkan badan di ranjang, dan berusaha memejamkan mata. Tapi tak berhasil, mata ini tak bisa diajak kompromi dari tadi.
Aku buru-buru menutup mata dan menutup diri dengan selimut, saat pintu terbuka. Terdengar suara langkah kaki mendekat, yang kuyakini adalah Pak Juna. Karena memang hanya ada kami berdua dirumah ini.
Pak Juna menepuk pipiku pelan, "Nay!" tak kuhiraukan panggilannya, dan terus berpura-pura tidur.
Sampai kudengar helaan nafasnya, ia mengusap rambutku pelan. "Mimpi indah sayang," lirihnya lalu beranjak pergi.
Tak lama kemudian, terdengar suara gemericik air. Mungkin Pak Juna sedang membersihkan diri. Hingga Pak Juna selesai mandi, mata ini masih tetap terjaga.
Aku mencoba mengintipnya dari balik selimut, karena tak terdengar lagi suara gerak-geriknya. Dan...
Ternyata dia sedang sholat dengan khusyuk. Pak Juna memang lelaki idaman, tapi aku harus memberinya pelajaran kali ini. Enak saja, dia mesra-mesraan dengan gadis itu tepat didepan mataku.
Tak terasa aku memperhatikannya, hingga kantuk pun mulai menyerang.
__ADS_1
Aku menggeliat saat mata ini terbuka. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Menoleh ke sekeliling, tak kutemukan keberadaan Pak Juna.
Aku beranjak, mencoba mencarinya di kamar mandi. Tapi tak ada siapapun disana. Kusambar handuk yang menggantung, lalu membersihkan diri.
Saat aku sedang berhias diri didepan cermin, terdengar suara pintu dibuka juga suara langkah kaki mendekat. Pak Juna datang, dengan menggunakan baju koko serta peci di kepalanya.
"Nay," sapanya lalu menyodorkan tangan, aku pun mencium punggung tangannya takzim.
"Bapak abis sholat berjamaah di masjid?" tanyaku tanpa menolehnya. Aku tetap fokus mempercantik diri.
Aku mencoba bersikap seperti biasa, karena tak tega jika terus mendiamkannya.
"Iya Nay," jawabnya. Lalu ia melangkah menuju lemari, mengambil pakaian kerjanya.
"Mau ke hotel?" tanyanya sambil mengancingkan kemeja.
Aku menoleh padanya, lalu bertanya, "Bapak juga?"
Dia mengangguk, "Kita berangkat bersama,"
"Ah enggak Pak. Nay mau naik taksi saja," tolakku.
"Gak bisa. Kau harus pergi denganku," tegasnya.
"Pokoknya Nay mau naik taksi," ucapku.
"Jangan ngeyel! Atau kamu ingin pergi dengan Bang Pras?" selorohnya.
Mataku membulat, "Em... mana ada Pak. Eng... gak kok," ucapku terbata.
Pak Juna memicingkan mata, "Awas kalau berani macam-macam!"
Tepat saat aku melewatinya, Pak Juna menarik tanganku hingga tubuhku berbalik memeluknya. Kenapa setiap dekat dengannya, badanku terasa panas. Juga hatiku yang selalu berdebar-debar.
Pak Juna mengangkat daguku, lalu mulai mendekatkan wajahnya. Mataku terpejam, lantas ia mengulum bibirku. Entah dorongam dari mana, aku balas menciumnya.
"Sudah kubilang, jangan memanggilku begitu. Aku bukan bapakmu," ujarnya setelah melepas pagutannya.
"Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu, Pak," ucapku.
"Kau juga sudah mulai nakal," sambungnya.
Aku menunduk malu, "Maaf Pak,"
"Tapi aku menyukainya. Bagaimana kalau kita melakukannya lagi?" Pak Juna tersenyum menyeringai.
Aduh gawat, bisa-bisa aku khilaf nih. "Jangan Pak, ini masih pagi," tolakku.
"Jadi, nanti malam boleh? Boleh sekalian menabur benih kan?" tanyanya.
Makin gawat, Pak Juna malah menagih jatah malam. "Eh, masih gak boleh Pak."
Ia mengernyitkan dahi, "Kenapa? Kita kan pasangan halal,"
"Nay kan masih datang bulan Pak," ucapku.
"Kalau udah enggak, berarti boleh ya?" Pak Juna terus memojokkanku. Bagaimana ini?
Aku bingung harus menjawab apa. Disatu sisi, naluri kewanitaanku bergejolak menginginkannya. Disisi lain, rasa malu selalu menyelimuti.
__ADS_1
"Kuanggap kebisuanmu itu sebagai tanda, kau memperbolehkannya." Pak Juna tersenyum puas.
"Mana ada. Jangan ngarep deh Pak," hardikku.
"Tapi kamu yang ngarep kan?" tanyanya.
Refleks, aku menganggukan kepala. Omg hello! Kenapa aku mengiyakannya? Kan jadi terbongkar rahasiaku.
Pak Juna tertawa, dalam hati aku terus merutuki kepolosanku. Ah lagi-lagi aku bersikap konyol dihadapannya.
Aku buru-buru meninggalkannya yang masih menertawakanku. Lalu turun menuju dapur, berniat membuat sarapan. Saat melewati ruang tamu, kulihat tumpukan paper bag berjejer diatas sofa. Mungkin itu belanjaan yang kemarin.
Aku melanjutkan langkahku menuju dapur, dan kulihat juga semua bahan masakan telah berjejer rapi ditempatnya.
Lantas aku mengambil beberapa potong roti, lalu memanggangnya. Setelah matang, aku meletakkannya dipiring dan membawanya ke meja makan.
Pak Juna menghampiriku, lalu duduk di kursi. Ia bertanya, "Bikin apa Nay?"
"Roti panggang. Kalau masak makanan berat takut lama," jawabku. Lalu mulai mengolesi roti dengan selai blueberry.
"Bapak mau pakai selai apa?" tanyaku.
"Selai kacang," jawabnya. Aku pun mengolesi roti bagiannya dengan selai kacang sesuai permintaannya.
Aku menyodorkan piring berisi roti itu padanya, lalu duduk dan mulai memakannya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Pak Juna.
"Nay," panggilnya.
"Hem," aku berdehem, sementara bibirku terus mengunyah roti.
"Hari ini kamu akan mengajukan resign kan?" tanyanya.
Aku menghentikan aktivitas makanku, menghela nafas berat. "Pak, tolong izinkan Nay tetap bekerja sementara waktu. Nay akan bosan bila terus berada di rumah ini sendirian, bila bapak pergi bekerja nanti," ujarku lanjut memasukan roti ke dalam mulutku.
"Makanya kamu harus segera punya anak biar ada kamu gak sendirian," ucapnya yang membuatku tersedak secara tiba-tiba.
Kusambar gelas berisi air minum, lalu meneguknya hingga tandas. "Pelan-pelan Nay makannya," ujarnya.
Mataku melotot ke arahnya, lalu mendelik sebal, "Ini bukan karena makan. Ini gara-gara ucapan bapak,"
"Lah apanya yang salah?" tanyanya polos.
"Au ah gelap," ucapku.
Pak Juna beranjak, lalu mendekatiku, "Oke, aku izinkan. Tapi ingat, jangan terlalu capek ya," ia mengusap pucuk kepalaku pelan.
Aku mengangguk senang. Pak Juna berbisik di telingaku, "Tapi ada syaratnya,"
"Syaratnya apa?" tanyaku antusias.
Pak Juna melengos, berjalan menjauhiku. "Menabur benih," teriaknya.
Mataku membulat, lantas menyudahi acara sarapanku. Lalu kukejar Pak Juna yang sudah berada di depan pintu.
"Bapak!" teriakku.
Ia tertawa kecil, sambil berlalu mengambil motor di garasi. Seperti kemarin, ia memasangkan helm di kepalaku. Betapa romantisnya suamiku ini.
Lalu aku naik, duduk dibelakangnya. "Lest go!" seruku.
__ADS_1