
Kami pun berjalan beriringan menuju kamar, yang berada di lantai atas. Saat melewati salah satu kamar, aku mendengar erangan. Aku menoleh pada Pak Juna. "Itu kamar Bang Pras," ucapnya.
"Kenapa dia berteriak?" tanyaku.
Ia mengedikkan bahu. Lalu kami sampai dikamar Pak Juna, yang bersebelahan dengan kamar Pras. Ia membukakan pintu, lalu mengajakku masuk.
"Kita menginap disini" ucapnya.
"Berapa lama?" tanyaku.
"Malam ini saja. Besok kita pulang ke rumah," jawabnya.
Aku menghela nafas lega. Untung saja cuma sehari. Kalau tidak, bagaimana bisa aku tinggal di atap yang sama dengan mantan?
"Pak bagaimana aku tidur dengan menggunakan gaun seperti ini?" tanyaku.
Ia memicingkan mata, lalu tersenyum licik. Aduh! Perasaanku tak enak. "Kalau begitu, lepas saja!" ujarnya.
"Pak Juna!" aku berteriak, kesal.
"Iya, iya. Tunggu disini, aku pinjamkan baju Tisha," ucapnya. Aku mengangguk, lalu ia pergi ke kamar Tisha.
Sambil menunggunya, aku duduk disisi ranjang. Aku melihat sebingkai foto, disana terlihat Pak Juna, Tisha dan Pras saling merangkul sambil tersenyum lebar. Ternyata hubungan persaudaraan mereka sedekat ini. Sama sepertiku dan Adam.
Tiba-tiba mata ini melihat bingkai foto kecil disebelahnya. Foto perempuan yang setelah kuamati, begitu mirip denganku. Tanganku terulur mengambilnya. Memang benar itu fotoku. Kenapa Pak Juna punya foto ini?
Suara pintu berdecit, aku buru-buru menyimpan foto itu kembali. Kulihat Pak Juna membawakan sepasang piyama tidur, dan memberikannya padaku.
"Ini pasti muat, ukuran kalian sama," ujarnya.
Aku menerimanya, lalu bertanya, "Kamar mandinya dimana, Pak?"
"Untuk apa?" ia balik bertanya.
"Ganti baju lah Pak," ucapku.
"Disini saja!" titahnya.
"Apa Pak?" tanyaku kaget.
"Kamar mandinya disana," ia menunjuk letak kamar mandi, yang ternyata berada di dalam kamar. Aku pun masuk, lalu mengganti pakaian.
Aku keluar, lalu ikut berbaring disamping Pak Juna yang sudah tertidur menggunakan pakaian santai. Walaupun tak bisa kupungkiri, hati ini terus berdebar. Takut jika nanti terjadi sesuatu yang diinginkan.
Kucoba menyentuh pundaknya, mengetes apa dia sudah terlelap atau hanya pura-pura tidur. Aman! Pak Juna tak bereaksi. Aku bisa tertidur dengan tenang.
Aku pun memejamkan mata. Lalu bergumam, "Good night, Bos."
__ADS_1
Kurasakan sentuhan lembut di pipi, lalu beralih mencubit hidung hingga aku kesulitan bernafas. Aku menyingkirkan tangan itu dan bergegas bangun.
"Pak Juna, kalau Nay mati gimana?" omelku.
"Kamu saya bangunin dari tadi juga, gak bangun-bangun. Cepat mandi! Kita sholat berjamaah," tuturnya.
Entah kenapa, hati ini mendadak sejuk mendengar penuturannya.
"Malah bengong lagi, ayo keburu habis waktu. Saya tunggu disini," sambungnya.
Aku mengangguk, lantas pergi membersihkan diri. Setelah selesai, aku menghampiri Pak Juna yang sudah menunggu di atas sajadah. Ternyata disana sudah tersedia mukena, aku pun memakainya. Kami pun sholat, dengan Pak Juna sebagai imam.
"Assalamu'alaikum warrohmatullah ..." setelah mengucap salam, kami berdoa dalam hati masing-masing.
Setelah itu, aku mencium punggung tangannya takzim. Tapi ia tak membalas mencium keningku, romantis seperti yang kubaca dinovel. Ia malah langsung melipat sajadahnya. Ah nyebelin!
Aku pun melepas mukena, dan melipatnya. Lalu menyimpannya dalam lemari. Ketika badan ini berbalik ...
'Cup'
Terasa sentuhan hangat di keningku. So sweet! Aku yang selalu mendapat serangan fajar secara tiba-tiba, hanya bisa melongo. Padahal gak perlu sembunyi-sembunyi gitu Pak, aku mau dengan senang hati kok. Eh!
Pak Juna tersenyum, lalu beranjak pergi. Sebelum menutup pintu ia berujar, "Aku tunggu dibawah,"
Kubalas dengan senyuman serta anggukan kecil. Pak Juna diam-diam menghanyutkan deh. Aku pun bersiap-siap dengan menggunakan gaun semalam. Lalu beranjak, berniat turun menyusul Pak Juna.
Baru saja membuka pintu, aku dikejutkan oleh sosok seorang yang telah mengoyak-ngoyak hati ini. Pras, dia berdiri diambang pintu sambil menatapku sendu. Ia menarik tanganku.
Ia tak mendengarkanku, malah terus menarikku ke sudut ruangan. Aku menghentakkan tangannya kasar. "Pras, apa yang kamu lakukan? Kalau semua orang lihat gimana? Aku ini istri Pak Juna," cecarku.
"Kenapa kamu harus menikah dengannya? Dengan Juna, adikku sendiri," tanyanya lirih.
"Itu bukan urusanmu!" tegasku. Aku hendak pergi, namun Pras mencekal tanganku.
"Kenapa kita bertemu dalam kondisi seperti ini? Bertahun-tahun aku mencari informasi tentangmu, tapi tak kunjung kutemukan. Sudah kutemui Lusi dan bertanya padanya, dia bilang tak tahu. Tapi kemarin dia hadir dipernikahanmu. Kenapa takdir begitu mempermainkanku?"
Aku diam tak bergeming. "Kumohon Nay, maafkan aku. Aku masih sangat mencintaimu," ujarnya memelas.
"Jangan katakan itu di hadapanku! Aku muak. Bukankah dulu kau yang meninggalkanku dan memilih Tina? Oh ya, kemana dia? Seharusnya kalian sudah memiliki anak berusia 6 tahun."
"Maaf, seharusnya aku tak usah peduli," sambungku.
"Pernikahan kami tak bertahan lama Nay, kami sudah bercerai. Dia telah menipuku, anak yang di kandungnya ternyata benih dari orang lain. Dia bahkan menjebakku saat itu, dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku. Sehingga kesalahan itu terjadi," jelasnya.
'Deg'
Ya Allah, senekat itukah Tina demi mendapatkan Pras. Aku sungguh tak menyangka. Tapi, aku tak boleh terbuai omongannya. Ingat Pak Juna, Nay!
__ADS_1
Aku tersenyum kecut. "Tapi kau menikmatinya bukan?"
"Tidak seperti itu, Nay. Aku terpaksa, karena dia terus mengancamku akan menyebarkan video mesum kami," terangnya.
"Sudahlah Pras, semua yang terjadi diantara kita hanyalah masalalu. Sekarang aku adik iparmu. Lupakan aku!" tegasku. Sebenarnya aku tengah menahan sesak didada, kejadian beberapa tahun silam kembali mengusik ketenanganku.
"Tapi kalian hanya dijodohkan. Kembalilah padaku, Nay!" ia terus memohon, "Aku masih mencintaimu, Nay. Katakan kamu juga sama kan?"
"Cukup Pras! Aku sudah tidak mencintaimu bahkan sejak saat kalian mengkhianatiku." akhirnya cairan bening lolos begitu saja.
"Sekarang yang akuu cintai adalah Pak Juna," ujarku.
"Bohong!" hardiknya. "Kau bohong, Nay."
"Tidak! Aku mencintai Pak Juna," tegasku, walau hati ini belum yakin sepenuhnya akan perasaan ini.
"Nay ..." dia berusaha meraih tanganku, tapi segera kutepis.
"Aku harus pergi. Suamiku sudah menunggu dibawah," ucapku. Lalu.melangkah, berjalan melewatinya yang terdiam beku. Aku menghapus bekas cairan bening di pipi ini. Mereka tak boleh sampai melihatnya.
Tak kuhiraukan Pras yang terus memanggil namaku. Aku terus berjalan, sampai kata terakhir darinya yang kudengar, "Aku takkan menyerah Nay!"
Aku sontak menghentikan langkah. Lalu bergumam, "Lakukanlah itu dalam mimpimu! Takkan kubiarkan kau menghancurkanku untuk yang kedua kalinya,"
Lalu kulanjutkan langkah, menuruni tangga. Kulihat Pak Juna tengah duduk di sofa bersama Papa, Mama dan Tisha sedang tertawa bersama.
Ia tersenyum saat pandangannya menuju ke arahku. Aku pun membalas senyumannya. Lalu bergegas duduk disampingnya.
"Perempuan kalau dandan lama sekali. Tapi cuma begini aja," selorohnya.
"Juna!" Mama memelototkan matanya.
Kulihat Pras menuruni tangga, lalu melewati kami begitu saja. "Pras, sarapan dulu!" teriak Mama. Namun Pras tak menoleh sedikitpun, ia terus melanjutkan langkahnya. Hingga suara deru mobilnya terdengar menjauh.
"Dari kemarin sikap Pras jadi aneh, Pa. Ada apa ya?" Mama bertanya pada Papa.
Papa mengedikkan bahu. "Biarkan saja Ma."
"Ayo kita sarapan!" ajaknya.
Suasana sarapan hening, hanya terdengar suara denting sendok beradu. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Setelah menyelesaikan sarapan, aku dan Pak Juna pamit pulang. Mereka melepas kepergian kami dengan pelukan. Lalu kami mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya!" mereka melambaikan tangan. Lalu kami masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Pandanganku lurus tanpa ekspresi, bayangan bersama Pras tadi sungguh mengganggu pikiran ini. Hingga tak sadar, saat Pak Juna memasangkan sabuk pengaman untukku.
Pak Juna melajukan mobilnya kencang Keheningan tercipta sepanjang perjalanan. Tak ada yang berniat memulai obrolan.