
Pak Juna turun, setelah kami sampai dihalaman rumah. Aku tersentak, saat ia membanting pintu mobil dengan sangat keras. Meninggalkanku yang terduduk diam, di dalam mobil.
Aku bergegas turun mengejarnya. Entah kenapa sikapnya tiba-tiba seperti itu. Aku berteriak-teriak memanggilnya, namun tak sedikit pun dia menoleh.
"Pak, tunggu!"
"Pak Juna!"
Saat aku menaiki tangga, terdengar suara pintu berdebum. Mungkin dibantingnya juga. Pak Juna kenapa sih?
Kuraih daun pintu, berniat membukanya. Sial! Dikunci. Kucoba mengetuk pintu, namun tak kunjung ia buka.
"Pak! Pak Juna!"
"Bapak kenapa?" teriakku.
Hati ini cemas, entah apa yang terjadi padanya. Hingga sikapnya menjadi aneh. Padahal tadi pagi, ia baik-baik saja.
Atau jangan-jangan ... Pak Juna mendengar percakapanku dengan Pras, pasti dia salah paham. Aku terduduk lesu dilantai, menyenderkan punggung ini pada pintu kamar. Ya Allah!
Aku terisak, seharusnya aku langsung lari tadi. Agar tak berbicara banyak dengan Pras. Sekarang Pak Juna mendiamkanku, entah apa penyebabnya.
Sudah beberapa jam aku tergugu disini, pintu tak kunjung terbuka. Mata ini berat sekali, membuatku terlelap begitu saja.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata, lali bangun ketika sadar aku sudah berada di atas ranjang. Bukannya tadi aku ketiduran didepan pintu? Apa mungkin Pak Juna yang memindahkanku kesini?
Aku celingak-celinguk mencari keberadaannya. Namun, nihil. Pak Juna tak ada disini. Kemana dia?
Kucoba mencarinya kesekeliling rumah, tetap tidak ada.
Aku menghela nafas berat, Pak Juna masih marah. Kutengok jam dinding, sudah masuk waktu dhuhur. Lalu bergegas ke kamar mandi, hendak berwudhu. Dan menunaikan kewajibanku pada Sang Pencipta. Aku berdo'a semoga semuanya baik-baik saja.
Saat aku sedang merapihkan sajadah, terdengar suara langkah kaki mendekat. Kulirik sekilas, ternyata Pak Juna yang memakai baju koko dan sarung. Dari masjid rupanya.
"Pak," sapaku.
"Kita ke rumah orang tuamu, sekarang," ujarnya.
'Deg'
Apa dia mau memulangkanku? Tidak! Apa kata dunia nanti. Ya Allah aku harus bagaimana?
"Tap ..." belum sempat bicara, matanya melotot tajam ke arahku. Aku menunduk, lalu pergi bersiap.
Sepanjang perjalanan, suasana masih seperti tadi pagi. Hening! Hanya suara jangkrik, eh! Suara deru mobil yang terdengar.
__ADS_1
"Pak," panggilku.
"Hmmm."
"Bapak kenapa jutek begitu?" tanyaku.
"Enggak!" jawabnya.
"Yakin Pak?" tanyaku sekali lagi.
"Enggak!" tegasnya.
"Terus kenapa Bapak ..." belum sempat melanjutkan, ia mendadak menghentikan mobil.
"Astaghfirulloh," gumamku.
Pak Juna mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibirku sekilas.
"Ini hukumanmu karena terus memanggilku dengan sebutan itu," ujarnya, lalu melajukan kembali mobilnya.
Pipi ini menghangat, dengan senyum mengembang di bibirku. Karena Pak Juna sudah tak semarah tadi.
Saat tiba didepan rumah, aku langsung berlari memeluk Emak yang sedang duduk diteras. "Pelan-pelan Nay! Bukannya ngucap salam," ucap Emak. Aku hanya nyengir.
Tiba-tiba Adam muncul dari balik pintu, lalu menyalami Pak Juna. "Gimana A udah goal belum?" tanyanya.
Aku langsung memukul lengan Adam. Apaan ini bocah? Pak Juna tersenyum menanggapinya.
"Eh, udah ayo masuk!" ajak Emak. Kami semua masuk ke dalam, lalu berbincang ringan.
"Nay, bereskan barang-barangmu. Nanti sore kita kembali kerumah," ujarnya ketika masuk ke kamarku.
"Iya Pak," jawabku.
Pak Juna menempelkan tubuhku pada pintu yang sudah tertutup. Lalu mengunci pergerakanku dengan tangannya. Jantung ini berdegup kencang. Ia ******* bibirku lembut, lalu melepasnya.
"Sudah kubilang kan." ia tersenyum licik lalu menjauh, duduk disisi ranjang.
"Ayo cepat!" titahnya mengagetkanku yang tengah menahan gejolak di dalam dada.
"Iya." aku langsung membereskam baju dan barang-barang yang kuperlukan. Tak lupa memasukan ponsel dalam tas selempang kecil yang kubawa.
Tiba-tiba ponselku berdering, aku langsung mengambilnya. Tertera nomor tanpa nama, kutekan tombol hijau.
"Hallo, Nay ini aku Pras." terdengar suara diseberang sana, ia Pras. Aku buru-buru mematikan panggilan, lalu kumasukan kembali ke dalam tas.
__ADS_1
Kulihat Pak Juna mengernyitkan dahi. Lalu bertanya, "Siapa Nay?"
"Emh itu... Itu... Pras," jawabku terbata.
"Abang?" terlihat kilatan tajam dimatanya.
Ia beranjak menarik koperku. "Ayo pulang!" ajaknya dengan ekspresi dingin.
Pak Juna melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dengan lihai menyalip kendaraan lain. Membuatku spot jantung.
Ketika sampai di rumah, Pak Juna dengan kasar menarik tanganku menuju kamar. Lalu dengan kasar menggigit leherku, sehingga meninggalkan bekas. Aku meronta meminta dilepaskan, tapi Pak Juna malah semakin menjadi.
"Pak, sudah cukup. Aku mohon," ujarku memelas. Tapi ia malah membanting tubuhku ke atas ranjang.
Aku terisak, saat ia hendak menyentuhku. Pak Juna pun menghentikan aksinya, ia mengacak rambut frustasi. "Arghhh," erangnya. Lalu ia keluar meninggalkanku.
Aku terus terisak, meringis menahan sakit di pergelangan tangan bekas cengkramannya. Sungguh tak menyangka Pak Juna akan sekasar ini. Padahal jika ia memintanya baik-baik, dengan senang hati aku akan melayaninya.
Ya Allah! Apa yang terjadi padanya? Sikap lembutnya seolah hilang. Entah sampai kapan aku berhenti menangis. Bahkan tak sadar, saat mata berat ini terlelap.
Sebuah tepukan kecil di pipi, membangunkanku. Pak Juna! Aku langsung mengubah posisiku, menjadi duduk.
"Sudah maghrib, aku ke masjid dulu," ujarnya. Sebelum berlalu, ia sempat mengacak rambutku pelan.
Aku sungguh tak mengerti akan sikapnya yang gampang berubah-ubah. Tapi disisi lain, aku senang dengan perlakuan lembutnya. Semoga seterusnya ia bersikap lembut, walaupun ikrar cinta belum terucap diantara kami.
Setelah selesai melaksanakan sholat, aku turun ke bawah menuju dapur. Mungkin aku harus memasak sesuatu untuk makan malam nanti. Baru saja hendak membuka kulkas, aku dikejutkan oleh sepasang tangan melingkar diperut.
Desiran halus menjalar di seluruh tubuh, hingga ke relung hati. Ada perasaan senang, namun mengingat bagaimana ia tadi... Ah!
"Nay, maafkan aku," lirihnya lalu membalik tubuh ini hingga kami berhadapan.
"Kenapa?" tanyaku dengan cairan bening menggenang di pelupuk mata.
"Entahlah, Nay. Saat aku mendengar yang Bang Pras katakan, bahwa dia mencintaimu. Hati ini dikuasai amarah. Dan saat dia menelponmu tadi ku kira kalian punya hubungan," ujarnya. Ternyata benar, Pak Juna mendengar percakapanku dengan Pras.
Dengan satu kedipan saja, cairan itu lolos membanjiri pipiku. Aku mendongkak, "Jadi kamu mendengarnya?"
"Mungkin tak semuanya. Itulah salahku, tanpa tahu apa-apa aku marah padamu," jawabnya. Jadi itu yang membuatnya marah dan salah paham.
Air mata ini semakin deras, namun Pak Juna menghapusnya dengan lembut. Lalu merengkuhku ke dalam pelukan. "Jangan menangis, Nay."
"Kamu jahat!" aku memukul-mukul dadanya.
"Tenanglah Nay," ia membawaku duduk dikursi.
__ADS_1