Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 17


__ADS_3

Kumasukan sesendok bubur ke mulut, mengunyahnya, lalu menelannya. Kuulangi hingga beberapa kali, enak juga. Kebetulan aku juga lapar. 


"Nay kok malah kamu yang makan?" tanyanya.


"Kan bapak gak mau makan. Ya sudah buat Nay aja," jawabku sambil bersiap menyuapkan bubur kemulut. Tiba-tiba Pak Juna menyambar buburnya sebelum masuk kemulutku.


"Lagi!" pintanya. Aku pun menyuapinya sambil tersenyum. Sekali-sekali Pak Juna yang harus dikerjain.


"Ini Pak obatnya." aku menyodorkan beberapa butir obat ke telapak tangannya, setelah Pak Juna menandaskan sarapannya.


Setelah Pak Juna meminum obatnya, Mama mertua dan Tisha datang ditemani oleh Pras. Mereka langsung bertanya bagaimana keadaan Pak Juna. Kami pun terlibat obrolan ringan, sementara Pras hanya diam. Sesekali matanya melirik ke arahku.


"Loh Nay, wajahmu kenapa kok biru-biru gitu sayang?" tanya mama mertua.


"Eh ini, jatuh dari kamar mandi Ma," jawabku berbohong.


"Ya Allah, hati-hati dong sayang. Pras obatin gih adik iparmu!" Mama menyuruh Pras mengobati luka memarku. Waduh gawat ini.


Pras mengangguk, lalu menarik tanganku. Pak Juna hendak melayangkan protes, tapi urung karena ada Mama dan Tisha. Kulihat tatapannya tajam, hingga menusuk sanubari. Seakan mengatakan, 'Awas kau Nay.' Mati aku!


Kucoba melepaskan tangan yang dipegang Pras, tapi dia tak mau melepaskannya. "Lepasin Pras! Aku bisa jalan sendiri."


Ia tak menggubrisnya, malah semakin mempererat cekalan tangannya. "Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan deh," ucapku.


Dia menghentikan langkahnya sejenak, membalas ucapanku, "Aku tak peduli," 


Pras membawaku ke kantin, lalu duduk di salah satu bangku. "Tunggu disini," titahnya lalu melengos pergi.


Aku menghela nafas, kisah ini sungguh rumit. Kenapa pula harus ada mantan diantara aku dan Pak Juna.


Tak lama Pras datang, ia membawa baskom kecil berisi air dingin dan handuk kecil. Lalu mulai mengompres area pelipisku. "Aw, Pelan-pelan Pras!" 


"Udah, kita makan dulu," ujarnya setelah selesai mengompres pelipisku, lalu memesan makanan.


"Gak ah, mau nemenin Pak Juna," ujarku hendak beranjak. Tapi Pras menarik tanganku, membuatku duduk ditempat semula.


"Jangan ngeyel! Nanti sakit gimana? Aku gak mau lihat kamu sakit," ujarnya memaksa.


Baiklah, aku mengalah. Lagian perutku emang lapar sih. Tak lama pelayan membawa semangkuk bubur. Pras langsung mengaduknya, dan mulai menyendoknya.


"Loh Pras, kok cuma sa..." belum sempat mengakhiri ucapanku, Pras memasukkan sesendok nasi lembek itu ke mulutku. Ish!


"Biar aku saja," ucapku dengan mulut terus mengunyah. Lalu hendak mengambil alih mangkuk bubur di hadapannya. Namun niatku ditolak mentah-mentah, Pras menyuapiku lagi. Ia memang keras kepala, dasar tukang paksa.


Sebelum semangkuk bubur itu habis, perutku sudah menolak untuk diisi. "Udah Pras, aku kenyang," ucapku.


"Ya sudah, minum ini!" ia menyodorkan satu tablet obat pereda nyeri dan air mineral.


"Hmmm," aku bergumam lalu meminum obat sesuai perintahnya.

__ADS_1


Kukira Pras akan pergi setelahnya, tapi dia malah menghabiskan sisa bubur dimangkuk menggunakan sendok yang sama. Itu kan? Ah!


"Pras, itu bekasku. Kenapa kau makan? Beli aja lagi," protesku.


Pras tersenyum simpul, "Aku mau semangkuk berdua denganmu,"


Buset, ini bocah!


Aku dan Pras berjalan beriringan, menuju ruangan Pak Juna. Tapi ada yang janggal, orang-orang menatapku aneh. Kenapa mereka? Baru ya, lihat bidadari lewat.


Sesaat aku berfikir, ah iya semalam aku datang bulan. Jangan-jangan


... Aku sontak melihat bagian belakang celana. Ya Allah!


Aku menghentikan langkah, berusaha menutupi area belakangku. Pras menatapku heran, lalu bertanya, "Kenapa Nay?"


"Itu..., anu..., em...."


"Apa sih Nay? Ayo cepat!"


"Tembus," ucapku.


"Apanya yang tembus?" tanya Pras.


"Anu, semalam aku datang bulan. Belum sempat pake pembalut," jawabku nyengir sambil menggaruk tengkuk.


"Kau harus mengganti pakaianmu. Ayo!" ajaknya sambil berlalu.


"Tapi aku harus minta izin Pak Juna dulu," ujarku, mengikuti langkahnya.


Pras mendecih, "Tak perlu,"


"Pokokny harus!" tegasku. Kami pun masuk ke ruang rawat Pak Juna.


"Pak, Nay izin ke rumah dulu. Mau ganti pakaian," ucapku pada Pak Juna.


Pak Juna memperhatikanku dari atas sampai bawah, lalu mengernyitkan dahinya. Ia menunjuk jas yang melilit di pinggangku, "Itu..."


Pras meyerobot, "Jasku. Celananya kotor,"


"Iya Pak, semalan kan aku lagi... Datang bulan," imbuhku sambil menghela nafas.


"Lalu kamu pulang naik apa?" tanyanya.


"Aku..." belum sempat menjawab, Pras memotong ucapanku.


"Denganku." Dasar orang ini suka sekali menyerobot perkataan orang. Huh!


"Tak boleh!" bentak Pak Juna.

__ADS_1


Mama mertua menatap kami heran, "Loh kenapa? Pras kan abangmu, Nay akan aman bersamanya. Iya kan Pras?"


Pras mengangguk, sambil tersenyum puas. Pak Juna geram, matanya mendelik tajam. Lalu mencoba bangun, melepas selang infus di tangannya.


"Astagfirulloh, Pak. Pak Juna ngapain?" pekikku. Kami semua kaget, melihat tangan Pak Juna mengeluarkan darah. Aku langsung menyambar tisu, lalu membersihkannya.


"Ayo pulang!" ajaknya, dengan langkah terseok Pak Juna menarik tanganku.


"Tapi, bapak masih sakit. Aku bisa pulang naik taksi kok," tolakku halus.


"Iya Jun. Lagian kamu masih lemes itu," Mama pun ikut membujuk Pak Juna, begitupun dengan Tisha.


"Aku mau pulang sekarang!" kekeuhnya.


Kami pun mengalah dengan menurutinya. Aku dan Tisha membantu memapah Pak Juna. Sedangkan Mama dan Pras, pergi mengurus administrasi.


Kami menunggu di dalam mobil Pras. Walaupun Pak Juna sempat menolak, dan mengajakku naik taksi. Tapi Tisha berhasil membujuk kakaknya.


Tak berselang lama, Pras dan Mama ikut masuk ke mobil. Mama duduk dengan Pras di depan, sedangkan aku dan Tisha duduk di sebelah Pak Juna. Pras mulai melajukan mobilnya.


"Jun, mau pulang ke rumah kamu atau mau ikut mama?" tanya Mama, sambil menengok ke belakang.


"Juna mau pulang ke rumah saja ma," jawab Pak Juna.


"Kasihan Nay harus rawat kamu sendirian. Kalau di rumah mama kan nanti banyak yang nemenin. Pulang ke rumah mama dulu ya?" bujuk Mama.


"Gak! Aku mau pulang ke rumah, dengan Nay saja." Pak Juna meremas tangnku, tetap pada pendiriannya.


"Biarkan saja ma. Nay bisa ngurus Pak Juna sendirian," ujarku.


"Kamu yakin sayang?" tanya Mama.


Aku mengangguk, meyakinkan Mama. Kalau kemauannya gak dituruti bisa gawat. Pasti Pak Juna bakal memarahiku habis-habisan nanti.


Akhirnya mama mengalah, "Baiklah, tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi mama ya,"


"Iya ma." setelah itu, tak ada lagi obrolan diantara kami. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Sempat kulihat Pras memandangku lewat kaca diatas, tapi segera kubuang pandangan. Takut pada Pak Juna yang telah menatapku tajam sedari tadi.


"Kami gak bisa mampir, sayang. Gak apa-apa kan tinggal berdua?" tanya mama padaku setelah mobil ini berhenti didepan rumah.


"Gapapa kok ma," jawabku. Lalu memapah Pak Juna turun dari mobil.


"Mentang-mentang pengantin baru ya ma?" ejek Tisha. Mereka tertawa kecuali Pras, mukanya merah padam.


Pak Juna merangkulku, lalu mencium pipiku sekilas. Ia berujar sambil menaik turunkan alisnya, "Pengantin baru kan harus nempel terus. Iya kan sayang?"


"I... Iya," jawabku terbata. Malu dicium didepan umum. Ah Pak Juna pasti sengaja mau manas-manasin Pras yang tengah memandang kami kesal.


"Ya sudah kami pulang dulu ya," pamit mama sambil melambaikan tangan. Tanpa berkata apapun Pras melajukan kembali mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2