Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 3


__ADS_3

"Eh keponakan Uwak, belum pulang cantik?" tanyaku pada Sheila.


"Belum Uwak, kunci motoynya dak ada," jawab Sheila sedikit cadel. Mataku beralih menatap Adam, sinis.


"Gara-gara lo Dams, gue telat masuk kerja. Mana motornya habis bensin, gue tekor deh isiin bensin punya lo. Gue dihukum ngepel lantai pula," sungutku kesal.


"Yang ada gue nih yang bilang gitu. Gue gak kerja karena motor gue lo bawa. Motor lo kuncinya dibawa juga, pulang gak bisa. Males mau jalan kaki. Lo harus ganti gaji gue hari ini!" sosor Adam.


"Gue ganti nih pake ini!" aku mengepalkan tangan, meninju lengan Adam.


"Berani lo sama gue?" kami pun terlibat adu jotos, hingga saling menggelitik.


"Stoooooop!" teriak Emak. Menghentikan pertikaian kedua anaknya yang manis-manis ini. Aku dan Adam menghentikan aksi kami. Lalu semuanya tertawa.


Aku dan Adam memang terlihat tak akur, dan sering beradu mulut. Tapi kenyataannya, disitulah letak kedekatan kami. Kami hanya menganggapnya candaan semata.


Kini semuanya telah berkumpul, bersiap makan malam bersama. Adam, Nita dan Sheila memutuskan untuk menginap. Aku yang sudah membersihkan diri pun ikut bergabung.


Kami memulai acara makan dengan berdo'a, lalu menyantap makanan masing-masing. Bukan Nay dan Adam kalau tak melakukan kehebohan, kami berebut makanan layaknya anak kecil.


Yang lain tertawa melihat tingkah kami. Karena sudah kebiasaan, setiap bertemu ada saja yang diributkan. Hingga acara makan selesai pun, aku dan Adam masih terlibat adu mulut.


"Nay, Abah mau ngomong. Mumpung lagi kumpul begini," seruan Abah menghentikan aktivitas usil kakak beradik ini.


"Abah memutuskan untuk menjodohkan Nay dengan anak sahabat Abah dulu, namanya Arjuna. Dia masih muda, umurna ge 25 tahun," jelas Abah.


"Apa? Aku dijodohin sama brondong? Namanya Arjuna?" aku bicara terkaget-kaget.


"Iya, dia anaknya ganteng, baik dan udah punya usaha sendiri. Dijamin kamu teu bisa nolak Nay," ungkap Abah.


"Alah palingan juga tukang main perempuan. Namanya aja Arjuna, Arjuna Buaya pasti. Nay gak mau Bah," tolakku.


"Dijodohin gak mau, tapi teu laku-laku. Kumaha sih kamu teh ongkoh mau nikah. Pokokna harus mau, teu bisa nolak. Titik tanpa koma!" Abah melengos menuju ruang Tv,meninggalkanku yang hendak mengajukan protes.

__ADS_1


"Emak, Dams, Nit," kutatap ketiga orang itu secara bergantian. Namun, tak ada pembelaan dari mereka. Mereka setuju, dan membenarkan perkataan Abah.


Aku gelisah tak karuan, mengingat perkataan Abah yang berniat menjodohkanku. Aku tak bisa memejamkan mata barang sekejap. Guling kanan, guling kiri, jungkir balik, sampai sikap kayang sudah kulakukan. Namun, mata ini tetap setia terbuka.


'Nikah sama orang asing, berondong pula' batinku bergejolak antara setuju atau tidak. Tapi apa mau dikata jika Abah sudah berkehendak, takkan bisa dibantah. Bisa-bisa perang dingin terjadi.


Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidur. Dan bicara dengan abah, besok. Siapa tahu Abah berubah fikiran. Lalu aku pun berhasil pergi berkelana ke alam mimpi.


Aku berangkat kerja dengan lesu,setelah mencoba bernegosiasi dengan Abah tentang perjodohan semalam. Namun, Abah tetap pada pendiriannya.


Akhirnya aku memilih untuk pasrah, apa salahnya menerima perjodohan ini. Siapa tahu jalan ini memang yang terbaik untukku. Aku menghela nafas berat, mencoba berdamai dengan keadaan.


Aku pun menceritakannya pada Lusi, sahabatku itu ikut mendukung dan memberikan semangat. "Emang lo dijodohin sama siapa?" tanya Lusi.


"Sama berondong," jawabku sekenanya.


Lusi terlihat menahan tawa, karena pelototan dariku membuatnya urung mengeluarkan suara. "Si bos ganteng ya, imut lagi Nay," ucapnya mengalihkan topik.


"Iya sih dia imut, tapi galak. Gue udah berapa kali kena damprat. Kemarin juga gue dihukum gegara telat," ocehku tanpa menolehnya.


"Pak Juna," gumamku. Aku mundur, berniat menjauh dari Pak Juna.


Namun, Pak Juna maju mengikutiku dengan senyum menyeringai. Aku yang ketakutan terus mundur hingga punggungku menyentuh dinding, terjebak di pojok ruangan.


'Tamatlah riwayatmu Nay' batinku.


"Mau kemana? Hem," tanya Pak Juna.


"Eh, P... Pak," ucapku terbata.


Pak Juna merapatkan badannya, mengunci pergerakanku. Hingga aku tak bisa lari kemana-mana lagi. Pak Juna mendekatkan wajahnya, hingga bibir kami nyaris bersentuhan.


Bersamaan dengan dadaku yang berdegup kencang, aku memejamkan kedua bola mata.

__ADS_1


"Gadis berotak mesum!" bisik Pak Juna di telingaku. Aku refleks membuka mata. Kulihat Pak Juna tersenyum puas, sedangkan diri ini tengah menahan malu setengah mati.


Pak Juna menyentuh pipiku, "Jangan terlalu banyak mengoleskan perona di pipimu, Sayang. Pipimu merah sekali."


Seluruh tubuhku seolah beku, mulut ini terkatup rapat. Tak mampu mengeluarkan suara walau hanya sepatah kata.


"Kamu Lucu," ujarnya. Pak Juna Juna berlalu pergi meninggalkanku yang berdiri mematung.


Selepas kepergian Pak Juna, aku melanjutkan pekerjaan dengan perasaan kacau. Pikiran tak fokus, kejadian tadi membuatku tak bisa hidup dengan tenang. Bahkan sampai di rumah pun, aku yang biasa cerewet kini bungkam seribu bahasa.


Aku merebahkan diri di ranjang, setelah Abah memberitahu tanggal pernikahan telah ditentukan. Pikiranku menerawang, mengingat kejadian tadi siang sungguh memalukan. Bagaimana bisa pikiranku sangat liar, dan mengira Pak Juna akan menciumku.


Setelah kejadian itu, Aku berusaha untuk tidak bertemu dengan Pak Juna. Akan sangat malu jika harus bertatap muka dengannya.


Aku juga tak berani menceritakannya pada siapapun, termasuk Lusi. Tapi niatku itu tak berjalan mulus, pria itu malah semakin sering muncul dihadapanku.


Tak hanya itu, Pak Juna kerap memamerkan senyum manisnya padaku. Entah perasaan apa yang kurasa, ada yang berdesir di dalam dada ini.


"Nay, lo punya masalah apa sama si bos?" tanya Lusi saat kami bertemu di lobi hotel.


Aku menggeleng. "Emang kenapa Si?" aku balik bertanya.


"Lo dipanggil ke ruangannya sekarang. Apa lo ada main sama Pak Juna?" selidik Lusi.


"Mana ada," elakku berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang ada.


Lusi menatapku heran, tatapannya seolah meminta penjelasan. Aku yang mengerti tingkah perempuan usil itu, langsung beranjak.


"Udah ah, gue ke ruangan Pak Juna dulu," pamitku pada Lusi. Tak ingin kalau sampai Lusi bertanya lebih jauh.


Lusi menganggukkan kepalanya, "Ya, sana!"


'Apakah Pak Juna akan membuat perhitungan denganku?' batinku.

__ADS_1


Langkah demi langkah kupijak, menyusuri lorong demi lorong untuk sampai di ruangan Pak Juna. Tapi sebenarnya, jarak ruangan Pak Juna dari lobi tidak sejauh itu.


Karena takut, aku sengaja berputar-putar agar lama. Tapi tetap saja, aku tak bisa menghindar berlama-lama. Mau tidak mau aku harus menemui Pak Juna, yang akhirnya aku sampai di depan pintu ruangan Pak Juna. Kurapal do'a didalam hati sebelum mengetuk pintunya.


__ADS_2