
Aku terperanjat duduk sesaat setelah mata ini terbuka. "Aw!" pekikku saat tangan ini tak sengaja menyentuh kening yang terluka. Ini gara-gara manusia gak ada akhlak itu.
Tapi kok ada yang aneh ya? Aku melihat ke sekeliling, ternyata aku berada diatas ranjang berukuran king size disebuah kamar. Ini dimana ya? Jangan-jangan preman itu yang membawaku kesini, lalu tubuhku...
"Huaaaaaaaa!" aku berteriak histeris sambil meraba-raba seluruh tubuhku.
Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit, menandakan seseorang akan masuk kesini. Aku langsung turun dan bersembunyi dikolong ranjang.
"Nay! Nay!" kudengar orang itu memanggilku dengan nada panik, "Kamu dimana Nay?"
Tunggu, aku seperti mengenal suaranya, tapi siapa ya? Ah iya, itu suara Pras.
"Aduh!" pekikku saat kepala ini terangkat lalu menjedot papan bawah ranjang.
Kulihat Pras melongokkan kepalanya ke kolong ranjang, matanya terbelalak kaget. "Nay! Ngapain kamu disitu?" tanyanya, "Ayo keluar!"
Aku pun pelan-pelan mengeluarkan diri dari tempat persembunyian, lalu berdiri dihadapan Pras. "Pras, kenapa aku ada disini?" tanyaku.
"Obati dulu lukamu," ujarnya sambil membawaku duduk disisi ranjang.
Aku meringis saat Pras mengusap keningku dengan kapas yang sudah diberi alkohol, sambil meniupnya. Lalu memberi perban pada lukaku.
"Maaf tadi aku terlambat membawamu, hingga kau terluka seperti ini. Aku ingin tahu dulu siapa dalang dari semua ini," ujarnya, "Ternyata perempuan centil itu."
"Jadi kau tahu kalau aku diculik?" tanyaku.
"Ya, saat itu aku sedang berada dalam mobil. Lalu kulihat seseorang membekapmu dan membawamu masuk kedalam mobil, akupun mengikutinya. Saat aku hendak menolongmu, aku melihat Angel datang ketempat itu. Jadi aku bersembunyi dulu," jelasnya.
"Terima kasih kalau bukan karena kamu, aku sudah habis dilahap orang itu," ujarku, "Ah iya, mana Pak Juna?"
Raut wajah Pras berubah kesal saat aku menyebut nama Pak Juna. Giginya gemelutuk seperti menahan amarah. "Kenapa kau malah menanyakan dia?" tanyanya.
"Pak Juna suamiku Pras," jawabku.
Pras mendecih, "Ck, suami macam apa dia yang membiarkan istrinya diculik?"
"Tapi Pak Juna tak tahu kalau aku diculik. Dia sedang membeli es krim," terangku.
Pras tersenyum miring, lalu berucap, "Tadinya, aku akan belajar melupakan dan mengikhlaskanmu dengan Arjuna. Kulihat kau sangat bahagia bernyanyi bersamanya,"
"Tapi saat dia tak bisa menjagamu dengan baik, aku bertekad untuk merebutmu kembali darinya," sambungnya, "Percayalah padaku Nay, aku akan selalu menjagamu."
Pras memegang tanganku, tapi segera kutepis. "Tidak Pras, situasinya sudah berbeda sekarang. Aku bukan lagi gadis single, tapi," ujarku, "aku perempuan bersuami."
"Nay apa kau tak lihat? Arjuna tidak bisa menjagamu dengan baik," hardiknya.
"Dia tidak seperti itu!" tekanku, "Pras, bawa aku pulang."
__ADS_1
"Tidak! Kau akan lebih aman bersamaku disini. Tidak ada yang tahu tentang vila ini. Lagi pula ini sudah hampir tengah malam, kita tidak bisa pergi kemana-mana, " tolaknya.
"Tapi Pak Juna pasti khawatir mencariku," ujarku.
"Berhenti menyebut namanya!" bentaknya dengan nada tinggi.
"Maaf Nay, aku tak bermaksud membentakmu," ucapnya melemah.
"Pras aku mohon, bawa aku menemui Pak Juna," ujarku memelas.
Pras menghela nafas berat, lalu berkata, "Sudahlah Nay. Sekuat apapun kau memohon, aku tak akan mengabulkan permintaanmu. Kali ini biarkan aku menjagamu,"
Bulir bening lolos begitu saja dari pelupuk mataku, betapa keras kepalanya Pras. Ia langsung menghapus air mataku dengan jemarinya. "Jangan menangis Nay," ucapnya, "Sekarang kamu makan ya?"
Pras menyodorkan sesendok nasi ke mulutku, tapi segera kutolak. Aku menggeleng lemah, boro-boro mau makan. Yang ada dipikiranku hanyalah ingin bertemu Pak Juna.
"Ayolah Nay! Nanti kamu sakit," bujuknya.
"Biarkan saja aku sakit, atau kalau bisa biar aku mati sekalian," ucapku, "Untuk apa aku masih tetap hidup, kalau harus berpisah dengan orang yang kucintai?"
Pras menyimpan kasar piring berisi nasi itu diatas nakas, lalu pergi dengan membanting pintu.
Ya Allah! Cobaan apalagi ini? Baru saja aku dan Pak Juna saling mengucap cinta, sekarang harus berpisah lagi.
Aku terbangun saat merasakan ada yang menepuk-nepuk pelan pipi ini. Ternyata semalam aku ketiduran.
"Pak Juna! Nay kangen banget sama bapak," ucapku senang.
Pak Juna menghentikan aktivitas tangannya, lalu melerai pelukan. Mataku terbelalak kaget saat melihat wajahnya dengan jelas. Ternyata dia bukan Pak Juna, melainkan Pras.
"Pras..." lirihku.
"Nay kau sungguh tak bisa melihat keberadaanku?" tanyanya, "Bahkan saat aku yang berada disisimu, yang kau ingat hanyalah Arjuna. Sampai kau melihatku sebagai dirinya,"
"Pras maaf, aku..." ucapanku terpotong.
"Sudah cukup! Kau tak perlu meneruskannya. Ucapanmu hanya akan membuat hati ini sakit," selanya.
"Aku membawakanmu baju ganti juga keperluanmu yang lain. Juga makanan untukmu," ucapnya.
Aku tak berkutik tetap setia dalam posisiku, berdiri didepan Pras. Aku sedikit tersentuh oleh perhatian yang ia berikan, Pras begitu gigih menjagaku. Tapi aku sungguh merindukan Pak Juna, dan berharap ialah yang berada disini bersamaku.
"Makanlah Nay!" seru Pras.
Aku menggeleng, lalu berkata, "Aku tak akan makan sebelum bertemu dengan Pak Juna,"
"Kenapa kau sangat keras kepala?" tanyanya geram lalu melangkah pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Aku kembali merebahkan diri, tanpa menyentuh pakaian dan makanan yang Pras bawakan. Juga di siang dan malam harinya pun, ia tak lupa membawakanku makanan meski tak sesuap nasipun yang kumakan.
Begitupun pada hari-hari berikutnya, dengan gigih Pras membujukku untuk makan yang berujung kekesalan karena aku tetap keras kepala. Sudah tiga hari aku disini, perutku tak pernah diisi walau hanya setetes air minum.
Aku juga tak mau membersihkan diri, meskipun baju ini sudah bau apek. Juga celana yang dipenuhi darah haid sampai mengering, aku tak memperdulikannya. Buang airpun hanya sesekali, karena perutku memang kosong tidak ada sesuatu untuk dibuang.
Hingga di hari keempat, aku merasakan sekujur tubuhku lemas. Dengan kepala berdenyut, seperti ada yang menusuk-nusuk dari dalam. Juga suhu tubuh yang meningkat, tapi hanya kedinginan yang kurasa.
Dengan pandangan kabur, kulihat Pras datang membawakanku makanan seperti biasa. Raut wajahnya terlihat panik, ketika matanya melihat keadaanku yang seperti ini.
Pras bergegas menyimpan makanan yang ia bawa di atas nakas, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur menyentuh keningku. "Nay, badanmu panas sekali," ujarnya, "Kamu sakit?"
Bibir ini pun tak mampu walau hanya menjawab perkataan Pras. Lemas sekali, pusing, dingin, lalu aku kehilangan kesadaran ini. Sempat kudengar Pras menggungcang badanku cemas, setelah itu aku tak ingat lagi.
"Makanlah Nay, aku mohon," bujuk Pras setelah dokter yang memeriksaku pergi. Aku menggeleng lemah, tak bernafsu makan sedikitpun.
"Ayolah Nay, kau harus sembuh," ujarnya, "setidaknya untuk dirimu sendiri."
Aku masih tetap bergeming, Pras menghela nafas panjang. "Bagaimana kau akan bertemu Arjuna jika keadaanmu seperti ini?"
"Memang aku boleh bertemu Pak Juna?" tanyaku antusias.
Pras tersenyum lalu mengangguk kecil. "Tentu saja," jawabnya, "Sekarang kau makan, lalu minum obatnya agar bisa bertemu Arjuna."
Aku mengangguk senang, Pras menyuapiku hingga makanan di piring yang ia pegang tandas. Lalu Pras memberiku obat pemberian dokter tadi.
"Ayo, kita pulang Pras. katanya aku boleh bertemu Pak Juna," ucapku bersemangat.
"Kita akan pulang," ujarnya membuat mataku berbinar, "Tapi tidak sekarang."
Semangatku redup seketika, Pras menipuku. "Kau berbohong padaku Pras?" tanyaku.
"Tidak Nay," jawabnya.
"Lalu kenapa?"
"Nay, situasi di sana begitu buruk," terangnya, "Kau akan aman berada di sini."
"Memang bagaimana keadaan di sana?" tanyaku penasaran.
"Aku tak bisa menjelaskannya dengan rinci. Yang jelas kau harus menuruti apa kataku," jawabnya.
"Tapi kau benar akan membawaku pada Pak Juna kan?"
"Kau tenang saja, sebentar lagi kalian akan bertemu. Sekarang istirahatlah," ujarnya.
Aku mengangguk, lantas berbaring memejamkan mata. Pras menyelimuti badanku, lalu mengusap lembut rambutku hingga diri ini terlelap.
__ADS_1