Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 4


__ADS_3

Ragu, kuketuk pintu ruangan si bos. Tak lama kemudian kudengar suaranya menyuruhku masuk. Dengan hati dag dig dug aku memasuki ruangan bernuansa autentik itu.


"Duduk!" titahnya. Aku pun menuruti perintahnya. Ada apa gerangan Pak Juna memanggilku? Melihat tatapannya yang tajam kakiku gemetar, bagaikan menunggu vonis hakim.


"Anayla, ah rasanya tak nyaman memanggilmu begitu," ucapnya memulai pembicaraan.


"Nay, Pak. Saya biasanya dipanggil begitu."


"Oke, Nay. Beberapa customer mengajukan komplain, mereka kecewa kinerjamu minggu ini kurang maksimal. Apa kamu sedang ada masalah?" selidiknya.


Mataku melotot tak percaya. Apa? Padahal Aku sudah bekerja semaksimal mungkin. "Masa sih Pak? Saya bekerja seperti biasanya kok."


Pak Juna mengerutkan keningnya. "Mana mungkin ada customer komplain kalau kerjamu bagus. Atau jangan-jangan..." ucapnya menggantung.


"Jangan-jangan apa Pak?" tanyaku penasaran.


Pak Juna beranjak mendekatiku. Aku yang dilanda gugup, tak menyadari wajah Pak Juna yang telah sampai dibelakang berbisik di telingaku. "Jangan-jangan kamu mikirin saya terus."


Jantungku rasanya meminta keluar dari tempatnya. Rongga pernafasan bagaikan tersumbat. Oksigen mana oksigen?


"Kamu lucu, bila sedang gugup begini," pujinya.


'Jangan terjebak Nay!' batinku bergejolak.


"Baiklah, Nay. Sebagai hukumannya, mulai besok kamu temani saya bekerja disini. No protes!" titahnya.


Bibirku mangap-mangap, bersiap goyang dumang. Tunggu! Jaga wibawa Nay, jaga wibawa. Apa maksud Pak Juna? Main hukum aja.


Pak Juna mengukir senyum manis, lalu menyuruhku pergi. Alamak imut banget si bos. Sadar Nay! Jangan tertipu senyum palsunya. Palingan tampang begitu mah buaya darat. Aku keluar dari ruangan dengan perasaan berkecamuk.


Baru saja menutup pintu, aku dikejutkan oleh Lusi yang langsung membrondongku beberapa pertanyaan.


"Si bos ngapain manggil? Dia bilang apa? Muka lo kusut begitu. lo diapain sama si bos?" cecarnya.


"Gak ada!" Aku meninggalkan Lusi dengan kesal. Tak kuhiraukan panggilannya berkali-kali. Kok orang-orang pada nyebelin ya hari ini?


Setibanya di rumah pun, Aku dikejutkan oleh pernyataan Emak. Beliau mengingatkan, bahwasanya seminggu lagi jadwal ijab qabul pernikahanku dengan pria pilihan mereka. Aku sampai lupa sebentar lagi jadi istri orang. Siapa namanya? Ah iya si Arjuna buaya. Meskipun tak tahu wujudnya bagaimana. Karena Aku menolak bertemu sebelum akad, biarlah kami menjadi kekasih halal dulu. Elah gaya lo!


Capek seharian, membuatku membantingkan tubuh ke kasur. Sebelum merajut mimpi, Aku berdo'a, semoga calon suamiku nanti bentukannya macam Pak Juna. Eh kok jadi mikirin si bos terus ya. Istighfar Nay!

__ADS_1


Kupacu kendaraan roda dua kesayangan, dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Meskipun macet, Aku dengan mudah bisa menyalip kendaraan lain. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti mendadak tepat di depanku, untung masih sempat mengerem.


Pengemudinya membuka pintu, lalu turun untuk mengecek mobilnya. Pak Juna! Pria imut itu kelihatannya tengah mengumpat. Samperin gak ya? Ah samperin aja deh, siapa tahu dia butuh bantuan.


^^^"Kenapa Pak?" Ia menoleh, dan ... tersenyum manis. Lengkungan itu membuatku terhipnotis seketika.^^^


Bayangan kejadian tadi pagi membuatku malu untuk kesekian kalinya.


"Kebetulan Nay, ayo!" tanpa permisi Pak Juna duduk di jok belakangku.


"Eh, kemana Pak?" tanyaku


"Ke KUA!" jawabnya. Deg! Mataku membulat sempurna, hampir saja copot.


"Ya ke hotel Nay, malah bengong. Ngarep banget aku ajak nikah?" ledeknya.


Pak Juna menertawakanku yang tengah menahan malu. Kok gue jadi baperan gini ya dicandain si bos?


"Jalan, Nay!" titahnya. Tanpa bicara aku melajukan motor dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan lain dengan cekatan. Pak Juna berteriak memintaku untuk pelan-pelan menyetir. Dia sepertinya takut, haha rasain kau. Tiba-tiba Pak Juna melingkarkan tangannya di perutku. 'Dag dig dug dag dig dug' suara detak jantungku yang kian bertalu. Aduh Gusti! Cobaan apalagi ini?


"Makasih, Nay," ucapnya ketika kami sampai di parkiran hotel. Saat bibir ini hendak menjawab…, Cup!


Sebuah tepukan di bahu menyadarkanku dari lamunan. Siapa lagi kalau bukan Lusi pelakunya. Kelakuannya sesuai nama. Usil dan Lusi, terlahir dari huruf yang sama. "Woy! Ngelamunin apa lo?" tanyanya.


"Enak lo ya, kerja disini makan gaji buta. Cuma duduk disini doang, ketemu bos imut tiap hari lagi. Beruntung banget nasib lo Nay. Siapa tahu lo jodoh sama si bos," cecarnya


"Kebiasaan itu mulut gak bisa di rem," ucapku, "Lo ngapain kesini? Emang boleh masuk?"


"Sahabat dateng bukannya seneng. Gue kesini disuruh si bos nganterin ini," jawabnya sambil menunjukkan plastik yang ia tenteng.


"Katanya dia sibuk hari ini, jadi gak nemenin lo disini. Jadi dia nyuruh gue nganterin makan siang buat lo, sekalian nemenin lo. Kangen gue, Nay," cerocosnya.


Sungguh romantisnya bos imut itu. Pak Juna apa Lusi nih yang romantis? Kami pun membuka bungkusan yang dibawa Lusi, lalu menyantapnya bersama.


"Beruntung dari mana coba? Gue diem disini gak ngelakuin apapun. Gak ada temen Si. Baru saja sehari, udah kayak di penjara gini." ujarku.


"Si bos perhatian juga ya. Lo ada hubungan apa sih sama Pak Juna?" selidiknya.


"Hubungan apaan? Lo tahu kan gue mau dijodohin." pungkasku.

__ADS_1


"Eh siapa tahu, sebelum janur kuning melengkung kan bisa aja," ucapnya.


"Mana mungkin Pak Juna mau sama gue Si, ada ada aja lo. Udah ah makan!"


"Iya ya, mana mungkin Pak Juna yang imut mau sama jomblo akut karatan. Yang ada nanti disangka adik-kakak," ejeknya. Lalu tertawa terbahak-bahak.


Pelototanku seketika menghentikan aktivitas tawanya. Kami pun lanjut melahap makanan dari Pak Juna, hingga tandas tak tersisa. Kapanlagi makan makanan mewah gini, lumayan. Tapi, kenapa Pak Juna perhatian gini ya? Bikin hati ini meleleh saja.


"Lo kenapa sih Nay? Dikit-dikit bengong, dikit-dikit melamun. Aneh!" Lusi menatapku penasaran, seolah meminta penjelasan. Duh gara-gara inget Pak Juna ini. Jangan sampai aku keceplosan tentang kejadian tadi pagi. Bisa-bisa diledekin abis sama Lusi.


"Lo juga belum cerita, kenapa lo disuruh nemenin dia kerja disini. Jadi curiga gue," sambungnya.


"Curiga apaan? Jadi gini ..." Aku menceritakan secara detail yang terjadi, kecuali kelakuan Pak Juna yang udah bikin baper tingkat dewa. Kami Pun larut dalam obrolan, sesekali cengengesan. Saling cubit dan pukul sudah biasa.


Sampai jam kerja berakhir pun, Pak Juna tak kelihatan batang hidungnya. Yang kulakukan hari ini hanya tidur, cek hp, buka sosmed, begitu seterusnya. Enak sih gak usah capek kerja. Tapi digaji gak sih?


"Assalamu'alaikum," ucapku, ketika sampai dihalaman rumah. Kulihat Emak dan Abah sedang duduk di teras rumah. Aku Pun menghampiri mereka, lalu mencium punggung tangan dua orang paling berjasa atas lahirnya perempuan paling kece, seantartika.


"Wa'alaikumsalam," jawab Romeo dan Juliet bersamaan. Terlihat aura kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Kayaknya habis menang lotre nih.


"Nay, barusan calon suami kamu kesini," ucap Emak.


"Iya kah? Ngapain?" tanyaku penasaran.


"Nih, dia ngasih ini untuk kamu. Katanya kebaya buat nanti dipakai pas akad dan beberapa gaun biasa katanya." Emak menyodorkan beberapa paper bag.


"Nanti malam Pak Husein dan Bu Aarti akan datang kesini. Mau ketemu kamu katanya," kini Abah yang bersuara.


"Siapa Bah?" tanyaku.


"Calon mertuamu. Orang tua calon suamimu." jawab Abah.


"Oh." Apa? Mataku melotot, meminta keluar dari tempatnya.


"Seneng amat Nay. Sampai mata mau copot gitu," ledek Emak.


"Ish, Emak nih. Ya sudah, Nay mau mandi dulu." Aku beranjak meninggalkan sepasang insan manusia itu.


"Nanti malam pakai baju dari Arjuna ya!" seru Emak.

__ADS_1


"Oke, bos!" teriakku sebelum membuka pintu kamar.


__ADS_2