Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 2


__ADS_3

Lusi mengejarku, lalu mensejajarkan langkahnya. Ia bertanya, "Ada apa sih Nay?"


"Aneh banget si bos tuh. Masa gue dipanggil cuma buat ditanya nama sama kejombloan saja," aku bersungut sebal.


Lusi tertawa terbahak-bahak, mendengar penuturanku. "Lah emang lo jomblo," katanya.


"Bukannya belain sahabat sendiri, malah tambah meledek," aku mengerucutkan bibir seksi ini. Dasar Lusi, dia senang sekali meledek kejombloanku.


"Makanya kawin Nay, cari jodoh," ucapnya sambil menyenggol lenganku.


"Gue kerja dulu, Bye!" aku meninggalkan Lusi yang tak henti menertawakanku.


Sepanjang hari, aku bekerja dengan perasaan dongkol. "Gak si bos, gak si Lusi. Nyebelin banget mereka," omelku. Saat jam kerja usai, aku langsung tancap gas. Pulang ke rumah, tanpa menemui Lusi.


"Assalamu'alaikum!" ucapku ketika tiba didepan rumah. Tapi tak seorang pun menyahut.


Aku memutar knop pintu, tapi tak berhasil terbuka. Pintunya dikunci. Aku menghela nafas berat, lelah tubuh dan hati. Lalu duduk di bangku teras, menunggu Romeo dan Juliet datang.


Sambil menunggu kedatangan mereka, aku berselancar di dunia maya. Tapi hati ini malah semakin kesal. Pasalnya, banyak yang memposting pernikahan. Bikin gerah hati aja!


Kututup kembali aplikasi berlogo biru itu, lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Aku bersenandung, menghilangkan rasa jenuh.


Beberapa jam kemudian, yang dinanti-nanti pun datang. Dua sejoli itu, mengucap salam dan dijawab olehku sambil menyalami mereka.


Aku langsung menodongkan mereka pertanyaan, "Kalian kemana aja sih? Kok baru pulang hampir maghrib gini?"


"Ada urusan Nay," jawab Emak. Lalu mengambil kunci di tasnya. Kami pun masuk, setelah pintu berhasil dibuka.


"Nay mandi dulu ya, bau asem!" aku melengos pergi ke kamar, setelah Emak dan Abah mengangguk mengizinkan. Aku langsung tertidur pulas setelah selesai mandi dan melaksanakan sholat, laku terbangun di pagi harinya.


Abah memanggilku, memulai pembicaraan di meja makan. Aku yang tengah fokus melahap makanan, menoleh pada Abah.


"Iya, Bah. Ada apa?" tanyaku. Kemudian melanjutkan sarapan.

__ADS_1


"Kamu teh mau sampai kapan jadi perawan lapuk? Gak mau nikah? Teu kabita sama si Adam yang udah buatin kamu ponakan? Gak ngiri lihat teman-teman kamu kemana-mana bawa pasangan halalnya?" Abah memberondongnya beberapa pertanyaan. Lebih tepatnya sebuah ejekan.


Aku menyemburkan seluruh isi mulutku, terbatuk-batuk. Emak dengan sigap memukul tengkukku, lalu memberikan air putih.


"Pelan-pelan Nay," ucap Emak.


"Pertanyaan Abah tuh. Ya Nay mau lah nikah, tapi belum ada jodohnya kali. Cari jodoh tuh gak gampang, Bah. Harus yang cocok sama Nay, baik, sayang sama orang tua Nay, dan yang penting setia. Nay gak mau, nasib Nay seperti perempuan di sinetron ikan terbang. Kumenangis membayangkan


...," jelasku yang diakhiri dengan nyanyian.


"Lagian si Adam nya aja yang pecicilan sama cewek. Gak sabaran nunggu Kakaknya yang cantik ini nikah dulu," sambungku.


"Mana ada orang cantik gak laku," suara dari depan menyela ocehanku.


"Eh kutu kusut, main nimbrung aja lo," semburku saat melihat Adam --adikku-- muncul, diikuti istri dan anaknya.


"Apa lo? Jomblo ngenes," ejeknya. Melihat pelototanku, Adam malah semakin menjadi mengejekku. "Lagian, umur hampir kepala tiga belum nikah. Apa namanya itu?"


"Assalamu'alaikum Emak, Abah, Teh Nay," Nita mengucap salam, lalu mencium punggung tangan kami bergantian. Diikuti Adam dan putri mereka --Sheila-- yang berusia 3 tahun. Adam menikah saat umurnya 22 tahun, setahun kemudian lahir Sheila. Ia tinggal tak jauh dari tempat tinggal kami, hanya 25 menit perjalanan.


"Wa'alaikumsalam," balas kami serempak.


"Eh cantik, sini sama Uwak. Yuk!" Aku menggendong Sheila, lalu mengajaknya berceloteh dengan gemas. Adam dan Nita pun ikut duduk, sarapan bersama.


"Woy! Udah jam 7.30 nih. Lo gak kerja apa?" Adam menepuk pundakku yang tengah asyik bercanda dengan Sheila.


Aku spontan melihat jam yang melingkar di tangan. "Ya amsyong, Gue bisa telat nih. Ini gara-gara lo Dams," Aku menjerit. Lalu berlari keluar rumah.


"Kok, jadi gue sih Nay?" protes Adam


"Nay berangkat dulu, everybody," teriakku dari luar, sambil berlalu melajukan sepeda motorku.


Aku menjalankan motor dengan kecepatan tinggi. Namun, tiba-tiba motor ini mendadak berhenti. "Loh, kemarin kan aku udah isi full. Kok, udah habis lagi sih. Mana pom bensin masih jauh, udah telat nih," gerutuku.

__ADS_1


Aku merasa ada yang aneh, lalu turun untuk mengecek motor. Lalu ternganga saat melihat motorku berubah warna jadi biru, "Sial! Gue salah bawa. Ini motor si kutu kusut. Adaaam!"


Akibat terburu-buru, aku tak sadar membawa motor Adam. Karena kuncinya masih menggantung di leher motor. Aku pun mau tak mau mendorong motor, hingga sampai ke pom bensin.


Pukul 08.45 barulah aku sampai di Hotel, dengan nafas ngos-ngosan. "Telat hampir 2 jam, siap-siap potong gaji nih," racauku. Lalu bergegas masuk, dan melakukan pekerjaan seperti biasa.


"Nay, duluan ya. Suami gue udah jemput," pamit Lusi saat jam pulang tiba.


"Ya, titi dj." aku yang sedang mengepel, tak henti-henti menggerutu. Biasanya, aku hanya dipotong gaji untuk keterlambatanku oleh Pak Jordan.


Namun sekarang saat kepemimpinan diambil alih oleh pemiliknya langsung, dia memberiku hukuman mengepel seluruh lantai. Selama 2 jam, sesuai waktu keterlambatanku.


"Dasar bos killer! Bisa-bisanya semua karyawan disini menyebutnya 'bos Imut'. Imut sebelah mananya coba, kejam gini," gerutuku. Tiba-tiba seseorang menabrakku, membuat tubuhku berputar. Lalu… Bruk!


Aku terjatuh, badanku menimpa badan seseorang. 'Juna, General Manager' aku membaca pelan tulisan di name tag, yang berada di atas saku kemeja orang yang kutindih. Wajahku mendongak ke atas, "B... bos," gumamku saat melihat keindahan di depan mata.


Sesaat pandangan kami bertemu, pandangan pertamaku dengan si bos. 'Ternyata bener, Imut banget si bos,' batinku.


"Ekhem! Udah ngeliatinnya?" bos yang baru kuketahui namanya Juna itu berdehem, menanyaiku.


"Eh, iya Pak. Maaf," jawabku. Lalu berdiri merapikan pakaianku yang kusut berantakan.


Pak Juna pun ikut berdiri, lalu segera berlalu dari hadapanku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sombong sekali, mentang-mentang tampan.


Setelah beberapa langkah, Pak Juna berbalik menatapku tajam. "Anayla Tansha, urusan kita belum selesai." tekannya. Lalu melangkah meninggalkanku yang berdiri mematung. Aku dapat merasakan aura mencekam dari tatapannya.


"Mati gue!" desahku. Waktu telah menunjukkan pukul 17.00, jam hukuman telah usai. Aku bergegas pulang, masih menaiki motor Adam yang tertukar.


Aku memarkirkan motor di halaman rumah setelah sampai, lalu masuk kedalam rumah dengan langkah gontai. Lelah? Jangan ditanya!


Tak lupa kuucap salam, yang dibalas oleh Emak, Abah, Adam, Nita dan Sheila yang belum pulang. Mereka tengah berkumpul di ruang depan. Aku menyalami mereka satu persatu.


Melihat Sheila, aku yang merasa penat tak bersemangat langsung sumringah. Berbeda ketika mataku melihat Adam, hanya pelototan tajam yang kupersembahkan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2