
Aku bergegas menuruni tangga, takut Pak Juna terlalu lama menunggu. Tapi setelah aku keluar dan mengunci pintu, tak kutemukan batang hidung pria itu. Kemana Pak Juna?
"Pak Juna!" aku memanggilnya sambil celingak-celinguk.
Tiba-tiba terdengar suara deru motor dari arah garasi. Aku menoleh, lalu berdecak kagum. Pak Juna datang mengendarai motor sport, keren.
Ia membunyikan klakson, "Ayo naik!" serunya.
Tak membuang waktu lama, aku menghampirinya. Pak Juna lantas memakaikan helm di kepalaku, lalu kami saling melempar senyum. Manis banget!
Pak Juna tertawa, saat melihatku kesusahan naik motornya yang tinggi. "Makanya tinggi tuh ke atas."
Aku memukul pundaknya, merengut kesal. "Bukannya bantuin malah ngeledek," rutukku.
"Sungguh kau suami yang kejam. Yang tiada berperasaan," aku menyanyikan lagu dari salah satu penyanyi dangdut wanita tanah air.
Ia terkekeh, lalu mulai melajukan motor. "Pegangan Nay!" titahnya.
"Ogah," aku menolak untuk berpegangan padanya, malu.
"Terserah. Tapi jangan salahkan aku bila nanti kamu jatuh ya," ujarnya.
"Gak bakalan jatuh kok Pak, tenang aja," aku meyakinkannya.
"Emang Bapak beneran udah sembuh?" tanyaku memastikan kondisinya baik-baik saja.
"Asalkan bersamamu, aku tak akan pernah merasa sakit," jawabnya.
"Eaaaaaaaak. Gombal!" tawa kami pecah bersamaan.
"Kita mau kemana Pak?" tanyaku saat motor yang kami kendarai telah menembus jalan raya.
"Ke mall, kita shoping," jawabnya.
"Aduh, Nay gak bawa duit banyak Pak," keluhku.
"Kamu lupa kalau aku ini suamimu?" tanyanya. Aku menggeleng pelan.
"Jadi, semua keperluanmu adalah tanggung jawabku," imbuhnya.
__ADS_1
"Iya kah Pak?" tanyaku dengan segala kepolosanku.
"Udah jangan bawel!" serunya. Aku pun diam, lalu kembali fokus menikmati perjalanan kami.
Dengan kecepatan tinggi, Pak Juna melajukan motornya kencang. Menyalip kendaraan lain dengan lincah. Aku mulai merasa takut, berteriak di samping telinganya yng terbungkus helm, "Pelan-pelan Pak! Kalau kita mati gimana? Kita kan belum sempat melewati malam pertama,"
Ia tertawa, lalu bertanya meledekku, "Gak sabar ya pengen nganu?"
"Ish." aku menepuk pundaknya keras. Ia meringis, "Makanya pegangan!" titahnya.
Ragu, kulingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Lalu menyandarkan kepala dipunggung kokohnya. Aroma wangi tubuhnya begitu segar, membuatku merasa nyaman.
Ia mengusap tanganku lembut, "Nah, gitu dong."
Tak ada lagi perbincangan antara kami selama perjalanan. Aku pun fokus menikmati suasana romantis ini, sambil senyum-senyum sendiri.
"Kalau mau peluk aku, nanti malam saja. Boleh sepuasnya kok," ucapnya yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku sontak melepaskan pelukan, lalu menyadari kami sudah tiba didepan Mall.
Lagi-lagi aku bersikap bodoh di hadapannya, hingga ia terus tertawa mengejekku. Aku pun turun dari motor, lalu Pak Juna menyimpan motornya diparkiran.
Aku menunggunya sambil merutuki kebodohanku. Jangan sampai Pak Juna ilfil padaku.
Ia menggenggam tanganku, saat ajakannya tak mendapat respon dariku. "Cepat! Malah bengong," ujarnya lalu membawaku berjalan di sampingnya.
"Mau beli apa Nay?" tanyanya ketika kami melewati pintu masuk.
"Em, gak tahu Pak," jawabku sambil nyengir.
"Ya sudah. Nanti kalau menemukan apa yang kamu mau, ambil saja. Kita belanja keperluan rumah dulu," ujarnya. Aku mengangguk, lalu mulai melihat-lihat sekeliling.
Pak Juna dengan cekatan memasukan barang yang diperlukan, kedalam troli. Dimulai dari alat-alat mandi, lalu keperluan dapur dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Dan yang terakhir, adalah bahan masakan.
Setelah selesai, kami menyerahkannya ke kasir untuk dikemas. Lalu kami melanjutkan belanja keperluan lain. Seperti pakaian kerja untuk Pak Juna.
Pak Juna memilih beberapa kemeja, dasi dan blezer lalu meminta pendapatku untuk memilih. Emang pada dasarnya orang ganteng, pakai apapun juga cocok. Apalagi kalau gak pake baju, eh.
Akhirnya, Pak Juna memilih semuanya. Karena aku bingung menentukan mana yang cocok. Semuanya terlihat bagus ditubuhnya.
Pak Juna beralih memilih beberapa baju perempuan untukku. Lalu menyuruhku mencobanya satu-persatu, hingga aku kelelahan. Bayangkan saja, aku harus mencoba sekitar dua puluh setel baju dan beberapa dress dalam satu waktu.
__ADS_1
"Udah Pak cape," keluhku dengan lesu.
"Ini coba satu lagi!" Pak Juna menyerahkan sebuah dress selutut berwarna maroon.
"Ya Allah, Pak. Nay udah gak sanggup," protesku.
"Tidak menerima penolakan," ucapnya acuh. Dengan terpaksa, aku kembali masuk ke ruang ganti lalu mencobanya.
Aku terkesiap melihat penampilanku, gaun ini indah sekali. Ukurannya pun cocok ditubuhku. Tak kupingkiri seleranya bagus sekali.
Saat tengah mematut diri di depan cermin, tiba-tiba seseorang membuka pintu. Aku kaget, lupa tidak menguncinya.
Aku menghela nafas lega, saat melihat orang itu dari pantulan cermin. Ternyata Pak Juna, ia langsung memelukku dari belakang. Ia meletakan wajahnya di ceruk leherku, aku dapat merasakan setiap hembusan nafasnya.
Seluruh tubuhku memanas, saat ia mengecup lembut leherku. Lalu berkata, "Cantik,"
Aku menunduk, tak berani menatapnya walau hanya dalam pantulan cermin. Karena, mungkin pipiku sudah memerah sekarang.
"Cepatlah ganti pakaianmu. Aku tak bisa menjamin kau akan baik-baik saja, bila tetap memakai gaun ini dihadapanku," ujarnya lirih lalu melenggang pergi.
"Aku tunggu diluar," sambungnya sebelum menghilang dibalik pintu.
Saat ini, aku tak mampu berkata sepatah kata pun. Hanya perasaan bahagia, yang ada dihati yang terus memompa kencang ini. Dengan senyum yang terus mengembang di bibirku.
Batinku berteriak, 'Arjuna, i love you,'
Aku segera mengganti pakaian, dengan yang tadi kupakai dari rumah. Lalu memutar knop pintu dengan hati yang masih dag dig dug.
Pak Juna menoleh, saat aku keluar dari ruang ganti. Ia mengambil gaun yang kupegang, saat jarak kami begitu dekat. Lalu memberikannya pada pelayan toko. "Bungkus semuanya," ucapnya.
"Apa itu semua tidak kebanyakan Pak?" tanyaku.
Bukannya menjawab, Pak Juna malah menarikku menuju lantai atas menggunakan tangga berjalan. "Kita makan dulu," katanya.
Aku mengangguk. "Iya, Pak. Kebetulan perut Nay udah minta diisi nih."
"Emang ini jam berapa sih? Sampai cacing-cacing diperut udah teriak-teriak," sambungku. Lalu menengok jam yang bertengger di pergelangan tangan.
"Apaaa?" teriakku. Aku langsung menutup mulut dengan telapak tangan, saat tatapan semua orang menuju ke arahku.
__ADS_1