Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 14


__ADS_3

"Sebenarnya apa hubunganmu dan Abang?" tanyanya, sesaat setelah aku sedikit lebih tenang.


"Pras mantan pacarku dulu, sewaktu kuliah. Dia berjanji akan melamarku setelah wisuda. Tapi tepat pada saat itu juga, undangan pernikahannya dengan Tina disebar. Karena yang aku dengar, Tina sedang hamil anak Pras. Selama bertahun-tahun aku mencoba melupakannya, dan berhasil."


"Tapi kenapa dia hadir lagi? Lalu mengorek luka lama yang telah usai. Sedangkan aku sedang berusaha membuka hati ini dengan cinta yang baru," ucapku lirih.


Pak Juna mengepalkan tangannya. Lalu menggebrak meja. "Brengsek kau Pras!"


Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Apa kau masih mencintainya?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Rasa itu sudah ku kubur, saat itu juga. Saat dimana mereka mengkhianatiku," jawabku.


Lengkungan senyum menghiasi bibirnya. "Lalu, maukah kamu berikan cinta itu untukku?"


Aku terdiam. "Meskipun aku belum bisa memastikan, apakah aku memang sudah benar-benar mencintaimu. Yang pasti aku sudah tertarik padamu, saat melihatmu tertawa bersama Lusi. Lalu, sejak aku tahu bahwa kau perempuan yang dijodohkan denganku," tuturnya.


Mataku terbelalak kaget, mendengar penuturannya. Air mata ini surut seketika. "Jadi, itulah sebabnya kau menghukumku. Dengan alasan kinerjaku menurun, padahal tidak sama sekali. Lalu menyuruhku untuk bekerja diruangan yang sama denganmu. Padahal, tidak ada yang bisa kulakukan selama berada disana," cerocosku.


Ia mengangguk. "Terus alasanmu mengajakku membeli cincin untuk calon istrimu, padahal itu untukku. Lalu bertanya desain rumah saat aku mengajukan cuti. Pantas saja kau langsung menyetujuinya." mulut ini tak henti menyerocos.


"Sudah, Nay. Jangan bicara lagi," ucapnya.


"Tidak! Kau harus menjelaskan semuanya," tegasku.


Ia menghela nafas. "Baiklah, semua itu benar. Saat mobilku mogok dan kita bertemu di jalan, itu hanya akal-akalanku saja. Sebenarnya, aku tak takut saat kau melajukan motor dengan kencang. Sengaja, agar aku bisa memelukmu. Aku jadi tahu ukuran bajumu."


Jadi aku dikerjain?


"Itu semua aku lakukan agar selalu dekat denganmu," imbuhnya.


Hati ini tersentuh, mendengar pengakuannya. Pak Juna ternyata romantis juga. Ah jadi sayang! Tapi aku tak boleh luluh begitu saja. Aku harus jual mahal sedikit. Dalam hati tersenyum licik, tunggu pembalasanku!


"Percayalah, Nay. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku akan selalu menjaga dan berusaha membahagiakanmu. Aku takkan pernah mengkhianatimu," ujarnya.


Aku menganggukan kepala. "Oke, tapi dengan satu syarat." dahinya mengernyit.


"Kamu harus turuti kemauanku." Pak Juna mengangguk setuju.


Ahay kena!


"Buatkan makanan!"


Matanya melotot. "Apa Nay?"


"Masak, aku lapar."


Setelah lama berdebat, karena Pak Juna tak mau menuruti keinginanku. Akhirnya dia mengalah, ia memasak untuk makan malam kami berdua.

__ADS_1


Aku tersenyum memerhatikannya yang tengah berkutat dengan wajan. Sesekali ia meringis, karena terciprat oleh minyak panas. Rasain! Emang enak dikerjain. Tapi kasihan juga ya, nanti aku obati deh.


Tak lama kemudian, Pak Juna membawa sepiring ayam goreng lalu menaruhnya dimeja.


"Kok gini sih Pak?" bibirku mengerucut sambil menatap makanan yang sudah seperti satria baja hitam. Gosong!


Pak Juna menggaruk tengkuknya, sambil cengengesan. "Aku gak bisa masak, Nay," ujarnya.


"Terus kenapa mau?" hardikku.


Tangannya bersidekap. "Kan tadi kamu yang maksa."


Aku gelagapan, "Eh, itu, em... Aku kira bapak bisa masak. Seperti kebanyakan tokoh pria yang ku baca dinovel. Selain tampan, jago masak,"


"Berarti, menurutmu aku tampan?" tanyanya. Menggerakkan alis keatas lalu kebawah.


"Ish, enggak kok," elakku. Duh ini mulut, dia jadi sok ganteng kan. Eh, emang iya.


"Yakin?"


"Sudahlah, aku lapar ini," ucapku mengalihkan pembicaraan.


Pak Juna menghela nafas. "Ya sudah, kita makan diluar. Ganti bajumu! Aku tunggu di mobil," ujarnya.


Yes! Dinner berdua. Uhuyyy!


Menyambar tas kecil berisi ponsel, aku turun ke bawah menghampiri Arjunaku. Kasihan kalau lama-lama menunggu bidadari cantik ini. Bisa-bisa digaet pelakor. Bahaya!


Tak menunggu waktu lama, aku masuk ke mobil. Lalu Pak Juna mulai mengemudi. "Mau makan dimana?" tanyanya.


Aku berpikir. "Dimana ya Pak tempat makanan yang enak?"


"Dih, malah balik nanya."


"Hehe. Eh, Pak berhenti disana!" aku menunjuk tukang sate di pinggir jalan.


Ia mengerutkan kening. Lalu bertanya, "Yakin mau makan disitu?"


Aku mengangguk mantap. "Yup."


"Oke." Pak Juna memarkirkan mobilnya dipinggir jalan yang kosong. Kami pun turun dan segera memesan sate dua porsi, karena perutku sudah meraung-raung minta diisi.


Setelah pesanan datang, kami menyantapnya dengan lahap. Bahagianya bisa makan berdua, meskipun bukan dinner romantis seperti di film-film drama. Asalkan bersamanya, dimana pun jadi. Elah!


Tak bisa kupungkiri, perasaan ini sungguh bahagia. Seakan-akan kejadian tadi sore tak pernah terjadi. Tak apa lah ini hanya sebuah kesalah pahaman saja. Tapi bagus dong, berarti Pak Juna cemburu. Cemburu itu tanda apa?


Cinta! Ahay deuh.

__ADS_1


Setelah membayar makanan yang telah raib tak tersisa, hanya sisa tusuknya. Sengaja gak dimakan, siapa tau tante sun lewat. 'Bang pesen sate nya 100 tusuk' Kan gak sayang kalau dikasih tusuknya doang. Hehe!


Kami kembali ke mobil, lalu melaju pulang ke rumah. Sepanjang jalan, aku terus mengembangkan senyum. Tak peduli dengan Pak Juna yang menatapku heran.


"Langsung pulang ke rumah atau mau jalan-jalan dulu?" tanyanya sembari fokus menyetir.


"Iyalah, Pak. Pulang aja, aku capek," jawabku.


"Nanti dirumah pasti lebih capek lagi." Pak Juna menyeringai.


"Apa Pak?" Duh gawat kalau ekspresinya sudah begitu, pasti ada sesuatu nih.


"Pura-pura tak tahu kamu."


Aku memicingkan mata. "Enggak. Emang apaan?"


"Bikin anak," jawabnya lurus.


Mataku terbelalak. Huwaaaaaaaa!


Hati ini dag dig dug, diikuti keringat dingin yang mengucur. Ah aku gugup, belum siap untuk itu. Bagaimana kalau sakit? Berdarah? Aku bergidik ngeri membayangkannya.


Pak Juna melirikku, lalu bertanya, "Kenapa Nay?"


"Udah gak sabar ya?" lanjutnya, dengan mata mengerling.


Ya Allah Pak, bikin aku tambah gugup saja.


"Mana ada. Enggak kok," elakku. Ia terkekeh.


Aku memandanginya yang tengah fokus mengemudi. Ternyata suamiku ini sangat tampan. Nikah sama berondong gak masalah lah ya, asalkan wajahku bisa mengimbangi keimutan wajahnya. Eh!


Aku buru-buru mengalihkan pandangan, saat Pak Juna melirikku. Dia gak boleh tahu kalau aku menatapnya tadi. Bisa-bisa berasa jadi Arjuna dia, eh dia kan emang Arjuna namanya.


Pelan-pelan mobil berhenti, saat memasuki pekarangan rumah. Pak Juna menyuruhku turun dan masuk rumah duluan. Lalu memasukkan mobilnya ke garasi.


Aku melangkah dengan perasaan berkecamuk. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau Pak Juna benar-benar akan meminta haknya malam ini? Menolak takut dosa.


"Nay, bersiap-siaplah!"


Aku menoleh keasal suara, Pak Juna dengan seringainya seakan sudah siap melahapku hidup-hidup.


Emak, Abah tolong Nay!


Pak Juna terus berjalan mendekatiku, hati ini makin berdebar kencang. Pelan-pelan kupejamkan mata, menghela nafas panjang. Dan... Dia berjalan melewatiku.


"Nay, ayo! Ngantuk nih," serunya yang sudah menaiki tangga.

__ADS_1


What? Kukira..., kukira..., ah sudahlah.


__ADS_2