Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 10


__ADS_3

Lututku lemas, badan gemetar, dan jantung ini berdegup lebih kencang. Perasaan ini bercampur aduk, antara kaget dan syok. Karena, pria itu adalah orang yang selalu menghantui akal pikiranku.


Ya Allah, gusti! Jadi itu pria bernama Arjuna Pradipta. Aku benar-benar tak menyangka, rasanya ingin terbang. Bahagia? Entahlah. Tapi kenapa pria buaya tukang ngibul itu ada disini?


Jangan-jangan ini mimpi lagi, sama seperti beberapa waktu lalu. Aku berbisik pada Lusi, "Cubit gue, Si! Ini mimpi atau bukan?"


Ternyata Lusi pun sama kagetnya denganku, mulutnya terbuka lebar. "Sepertinya iya, Nay. Mimpi," ucapnya.


"Nit, cubit teteh Nit!" Nay berbalik membisiki Nita.


"Ini bukan mimpi Teh. Masa Teteh gak tahu calon suami sendiri," ucap Nita.


"Pak penghulu udah nungguin ini. Ayo cepet duduk, Nay!" Abah bersuara.


"Ayo, teh!" ajak Nita.


Aku pun melanjutkan langkah, lalu duduk disamping pria yang sebentar lagi akan mengucap ijab qabul. Ia tersenyum manis. Lalu pak penghulu memulai acara, diawali dengan membaca do'a dan bersholawat.


Tiba saatnya pria disampingku mengucap ikrar suci, ia menarik nafas dalam. "Saya terima nikahnya Anayla Tansha binti Abdul Toyib dengan mas kawin emas 100 gram dan satu buah rumah dibayar tunai," ucapnya lantang dalam satu tarikan nafas.


Semua saksi berkata, "SAH!" Alhamdulillah, mulai detik ini aku resmi menjadi seorang istri.


Aku meraih tangan pria yang berstatus suamiku, lalu menciumnya takzim. Ia mengelus pucuk kepalaku, merapalkan doa. Bagaikan tersengat listrik, saat ia mencium keningku ada perasaan hangat menjalar ke selurug tubuh.


Setelah itu kami saling bertukar cincin. Cincin yang ia beli waktu itu ternyata untukku. Tapi wanita itu siapa?


Kami saling mengulas senyum, senyum bahagia. Semua orang yang hadir bersorak, turut bahagia atas pernikahan kami. Termasuk wanita itu, kecuali Pras. Dia terdiam beku, dengan tatapan kosong.


Acara dilanjutkan dengan menyalami kedua orang tua masing-masing, secara bergantian. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Aku menangis terharu, karena bahagia.


"Jaga Nay baik-baik ya nak, sekarang Abah pindahkan tanggung jawab ini pada kamu sepenuhnya. Jika suatu saat kamu sudah bosan padanya, jangan sakiti dia. Pulangkan saja pada kami, orang tuanya," ucap Abah, menepuk pelan pundak menantunya.

__ADS_1


"Itu tak akan pernah terjadi, saya akan menjaganya. Tak akan saya biarkan siapapun menyakitinya, termasuk saya sendiri," tutur pria yang baru saja menjadi suamiku.


Hati ini meleleh mendengar penuturannya. Ah tak sabar rasanya ingin segera berada dikamar, berdua dengannya. Ingin menanyakan tentang semua ini. Bagaimana bisa ini terjadi? Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, yang jelas aku bahagia sekali hari ini.


Setelah acara sungkeman selesai, acara dilanjutkan dengan menyantap makanan bersama. Setelah itu, semua orang satu persatu berpamitan dan mengucapkan selamat.


Disusul oleh keluarga mertuaku, mereka juga pamit undur diri. Karena mereka sangat sibuk, dikejar-kejar waktu. Tak lama lusi pun dijemput oleh Reno, suaminya.


"Selamat ya, Nay. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah," ucap Reno.


Aku mengaminkan doanya, "Aamiin. Makasih ya udah izinin Lusi nemenin aku disini."


Reno mengangguk, lalu berpamitan mengajak Lusi pulang. Lusi memelukku sebelum beranjak. "Selamat ya, sayang," ucapnya.


"Makasih, Si," ucapku.


"Oke." Lusi menggandeng lengan suaminya, lalu beranjak pergi. Sampai di ambang pintu ia berteriak, "Jangan lupa bercocok tanam!"


"Apaan? Udah sana," teriakku. Lusi cekikikan lalu menghilang dari pandangan, disusul suara deru sepeda motor.


"Selamat ya, Nay! Akhirnya loe pecah juga," ucap Adam, adikku yang absurd itu.


Semuanya tertawa, mendengar ucapan konyol Adam. Lalu berbisik kencang ditelinga Pak Juna, "Hati-hati loh A, dia galak."


"Adams masih mau gak bikinin Sheila adik?" ancamku sambil mengepalkan tangan.


"Ampun deh, Nay. Gak sanggup gue," ucapnya sambil bersembunyi dipunggung Nita. Dasar cemen lo Dams!


"Bah, saya mau langsung bawa Nay ke rumah. Apa boleh?" Pak Juna yang dari tadi disampingku bertanya pada Abah.


"Tentu saja, nak. Kamu yang berhak atas Nay," jawab Abah.

__ADS_1


Pak Juna mengangguk, lantas segera berpamitan pada keluargaku. Ia menggenggam tanganku, lalu membawaku masuk kedalam mobil.


"Pak. Apa tak berkemas dulu?" tanyaku.


"Tak usah, besok saja. Saya sudah tidak sabar," ujarnya.


Apa? Tak sabar untuk apa? Jangan-jangan... ah jauhkan pikiran kotor ini Ya Allah!


Emak, Abah, Adam, Nita dan Sheila melambaikan tangan. Aku pun membalasnya. Lalu Pak Juna melajukan mobilnya, meninggalkan rumah. Terdengar teriakan Adam dari belakang, "Semoga goal!" Goal apaan? Emang mau main sepak bola apa? Dasar konyol.


Hampir 2 jam perjalanan kami lewati dengan keheningan. Hanya Pak Juna yang sesekali melirikku sambil tersenyum tipis. Aku belum bisa berkata apapun saat ini, hanya kegugupan yang menyelimutiku.


Aku dibuat terkejut untuk yang kesekian kalinya, saat mobil ini berhenti di depan sebuah rumah. Itu kan rumah yang ada di brosur waktu itu? Jadi Pak Juna meminta pendapatku untuk ini? Berarti dia sudah tahu sebelumnya bahwa aku calon istrinya. Dia berhutang penjelasan padaku.


Pak Juna memarkirkan mobil yang kami kendarai, di halaman rumah yang lumayan luas. Ia turun lalu membukakan pintu untukku. Aku pun turun, dan merasa takjub melihat suasana rumah yang asri. Tidak terlalu mewah, tapi akan terasa sangat nyaman berada disini.


Tiba-tiba Pak Juna membopong badanku ala bridal style, serasa pengantin baru. Eh, emang iya kan? Kami sepasang pengantin baru. Sampai lupa, saking terkejutnya aku.


"Turunin, Pak!" pintaku. Namun Pak Juna tak menghiraukanku, dia terus membawaku ke lantai atas. Terpaksa aku mengalungkan tanganku di lehernya. Terpaksa tapi mau.


Pak Juna berhenti didepan sebuah kamar, lalu mendorong pintu dengan kakinya. Karena tangannya masih menggendongku. Dia membaringkanku di ranjang, yang dipenuhi taburan kelopak bunga berbentuk love. Suasana kamar yang temaram, hanya diterangi cahaya lilin di atas nakas. Membuat suasana petang ini menjadi syahdu. Dan ... Sesuatu terjadi!


Pak Juna tertidur, pulas sekali. Aku kira akan terjadi sesuatu yang iya iya. Ternyata setelah ia membaringkanku, malah ikut berbaring di sebelahku. Elah Pak!


Gerah melanda hati, eh tubuh. Aku berniat mengganti baju. Tapi aku ingat, tak membawa apapun kemari. Kucoba membangunkan Pak Juna, namun hanya deheman kecil yang terdengar.


Tapi aku tak menyerah, dengan menggoyangkan badannya. Berhasil!


"Pak, saya gerah ini. Ada pakaian perempuan tidak disini?" tanyaku.


"Oh," jawabnya lalu kembali tidur.

__ADS_1


"Pak Juna!" teriakku.


"Cari saja di lemari," gumamnya.


__ADS_2