Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 9


__ADS_3

Aku menunggunya sambil rebahan di kasur. Iseng aku buka aplikasi berwarna hijau, melihat sederet story yang melambai-lambai minta dilihat. Siapa tahu ada yang kangen.


Setelah bosan melihat-lihat, karena tak ada yang aneh. Tak ada juga yang kangen sama aku. Kusimpan kembali ponsel ke atas nakas. Tapi, langsung kuambil kembali. Kugulir layar mencari nama seseorang. Dapat!


Pak Juna memposting foto cincin, yang beberapa waktu lalu membelinya bersamaku. Didalam foto itu tertulis caption, 'Untukmu cewek unik, yang selalu mengganggu tidurku.' yang diakhiri emoticon love.


Hati ini mencelos, ketika tahu perempuan yang dimaksud Pak Juna bukan aku. Melainkan perempuan kemarin yang datang bersamanya. Sakit!


"Kenapa lo? Kesambet?" tanya Lusi. Yang baru saja keluar dari kamar mandi, lalu menghampiriku yang terdiam pilu. Ia menyentuh keningku, dengan punggung tangannya.


"Alhamdulillah, masih waras," ujarnya.


"Gelo!" Aku menimpuknya dengan bantal, ia malah tertawa.


"Lagian, masa calon pengantin bengong terus?" tanyanya.


"Gue gak nyangka aja, Si. Besok gue akan menikah. Karena sejak kejadian itu, gue menutup hati buat siapapun," ucapku.


"Tapi, lo udah move on kan?" tanyanya.


"Udahlah Si. Lupa malah bentukan dia seperti apa," jawabku.


Kami larut mengenang masa lalu, juga antara aku dan Pras. Laki-laki yang mengingkari janjinya, untuk melamarku setelah acara wisuda. Tapi dia malah menyebar undangan pernikahannya dengan Tina, sahabatku. Ternyata diam-diam mereka menjalin hubungan dibelakangku.


Awalnya aku, Lusi dan Tina, kami bertiga bersahabat baik. Kemana-mana selalu bersama. Suka dan duka kami lewati. Tapi semuanya berubah, setelah aku menjalin hubungan dengan Pras. Tina seolah menjauhiku, padahal kami tak mempunyai masalah sedikitpun.


Usut punya usut, ternyata dia diam-diam suka pada Pras. Dan mencoba merayunya, hingga menjelek-jelekkanku padanya. Emang dasar lelakinya buaya, Ia tergoda begitu saja. Bahkan sampai melakukan hubungan lebih jauh.


Sejak saat itu, aku menutup diri dan hati dari para lelaki. Tapi, dekat dengan Pak Juna membuat gelenyar aneh dihatiku. Mungkinkah aku benar-benar mencintainya? Entah, aku masih ragu dengan perasaanku. Dan apabila itu benar, aku harus melenyapkan kembali rasa itu. Karena dalam hitungan jam, aku akan dipersunting pria pilihan orang tuaku.


"Gimana ya kabar mereka?" tanya Lusi.


"Gak tau gue," jawabku malas.


"Nay, kemari sama Lusi. Kita makan malam," Emak berteriak dari luar.

__ADS_1


"Iya, Mak." teriak kami serempak. Aku dan Lusi saling pandang, lalu berlari saling mendahului.


"Gue dulu Nay!" seru lusi sambil menyenggol badanku.


Akupun tak mau kalah olehnya. Aku balik menyenggolnya, "Gak bisa Si. Gue yang duluan!"


Makan malam kami lewati dengan suka cita. Bertambah satu lagi orang konyol diantara aku dan Adam, yaitu Lusi. Kami bertiga berbuat ulah sehingga membuat yang lain tertawa. Setelah itu, kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Melihat Lusi yang langsung terlelap, aku mengulum senyum. Dia sempat-sempatnya kesini setelah capek kerja seharian. Memang dia sahabatku yang paling setia, kami sudah seperti saudara. Hanya saja, dia sudah mantap berhijab. Sedangkan aku masih belum memantapkan diri untuk berhijab.


Aku pun ikut memejamkan mata. Mencoba menghalau segala perasaan yang menumpuk di hati. Gugup akan pernikahanku besok dan mengenai gelenyar aneh ini pada Pak Juna. Semoga besok acaranya berjalan lancar!


"Nay bangun!" Lusi mengguncang badanku.


"Apaan Si? Masih ngantuk ah," racauku, kembali memejamkan mata.


"Ish. Bangun cepetan!" Lusi tak menyerah, menarik selimut yang aku pakai.


"Hmmm ... lima menit lagi, Si," gumamku.


Aku langsung membekap mulutnya, kalau Emak kesini bisa berabe urusannya. "Udah nih, gue bangun. Gak perlu manggil Emak juga kali, kacau nanti."


"Nah gitu dong. Dimana-mana orang mau nikah itu, semangat banget. Bangunnya dari jam 03.00 subuh, lah ini? Molor kaya kebo," cerocosnya.


"Emang ini jam berapa Si?" tanyaku.


"Udah jam 05.10 ini. Buruan mandi!" titahnya. Aku pun menyambar handuk, malas. Lalu pergi membersihkan diri.


Setelah satu jam berkutat di kamar mandi, aku keluar lalu melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Setelah itu, Lusi menyodorkan kebaya pemberian Arjuna. Aku langsung memakainya, lalu mematut diri di cermin. Sederhana tapi elegan, ukurannya pas di badanku. Darimana dia tahu ukuran bajuku?


Lusi melihatku dari atas sampai bawah. "Bagus Nay, cocok. Tinggal menata rambut sama make up dikit gak usah menor," ujarnya.


"Oke. Lo yang dandanin ya."


"Siap!" serunya.

__ADS_1


Lusi mulai bertempur dengan berbagai macam jenis kosmetik, memoleskannya ke wajahku. Setelah selesai, ia berpindah menata rambutku. "Sebelum gue bilang buka mata lo, tetep merem. Jangan dibuka!" titahnya.


"Iya, bawel," ucapku.


Tak lama kemudian, Lusi menyuruhku membuka mata. Aku terkesiap saat melihat pantulan wajahku di cermin. Lusi berhasil menyulap wajah ini, dengan rambut yang dicepol berantakan. Sederhana, tapi membuat penampilanku terlihat anggun. Kuakui keahliannya dalam memoles wajah, patut diacungi jempol.


"Ah, cantik banget Nay," pujinya.


"Emang gue udah cantik dari sananya," ucapku lalu memeluknya, "Emak dimana?"


"Dia sibuk nyiapin makanan, Nay. Emak seneng banget lo nikah. Gak berhenti senyum dia. Kenapa gak dari dulu sih lo? Mungkin sekarang udah punya anak," cerocosnya kebiasaan.


"Mana ada cowoknya, sekarang aja dijodohin. Kalau enggak, gak tau deh."


"Yang penting status lo berubah, Nay. Bukan jomblo akut lagi," ujarnya cekikikan. Lalu Nita dan Sheila muncul dari balik pintu.


"Uwak tantik deh," ucap Sheila, yang belum fasih berbicara.


Aku tersenyum, memeluknya. "Makasih sayang. Kamu juga cantik banget, mirip uwak. Untung gak mirip bapakmu dek," ucapku. Tawa kami pecah bersamaan.


Nita bertanya, "Udah siap, Teh?"


Aku mengangguk. "Siap gak siap, harus siap. Tapi hatiku dag dig dug nih."


"Udah biasa atuh Teh, calon pengantin mah gitu. Ya kan Teh Lusi?" Nita melirik Lusi.


"Betul betul betul," jawab Lusi menirukan tokoh kartun di tv. Kami larut dalam candaan ringan, untuk mengusir rasa gugup.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Hingga Adam datang memberi tahu, bahwa rombongan pengantin pria telah datang. Lalu menyuruhku bersiap-siap pergi, ke tempat akad akan dilaksanakan. Aku mengangguk, lalu berjalan didampingi Lusi dan Nita. Bismillah!


Langkah ini terhenti saat tiba di ruangan tempat akad digelar, aku kaget melihat pria yang beberapa tahun lalu telah menggoreskan luka. Lalu sosok perempuan yang sudah membuatku cemburu. Ia yang waktu itu bersama Pak Juna. Mereka tengah duduk diantara Emak juga calon mertuaku yang duduk berdampingan.


Kenapa mereka ada disini? Perempuan itu menyunggingkan senyum. Sedangkan Pras tengah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


Lalu pandangan ini beralih pada pria yang duduk berhadapan dengan pak penghulu juga Abah. Ia tersenyum manis padaku. Ya Allah!

__ADS_1


__ADS_2