
Aku melangkah mengikutinya, yang sudah lebih dulu sampai di dalan kamar. Kulihat ia sedang mengganti pakaiannya. Aku menelan ludah, saat melihat gundukan roti sobeknya yang indah.
"Apa? Mau?" tanyanya.
"Ish, enggak," sergahku. Aku menaruh tas kecil di atas nakas. Lalu berjalan menuju lemari, berniat mengambil baju tidur.
Aku tertegun saat melihat lingerie itu masih bertengger rapi di gantungan lemari. Seakan melambai-lambai ke arahku, minta dipakai. Ih!
"Mau pakai itu?" tanya Pak Juna yang sudah berbaring, menjadikan lengannya sebagai tumpuan.
"Gak mau Pak. Dingin," jawabku. Sambil bergidik membayangkan bagaimana jadinya kalau aku memakai gaun tipis itu.
"Nanti aku bantu angetin," ucapnya.
"Ih bapak ada-ada aja," aku melengos setelah mendapatkan baju yang kucari. Mengganti baju di kamar mandi.
Saat aku keluar, kulihat Pak Juna sudah memejamkan matanya. Aman guys!
Setelah memastikan apakah Pak Juna sudah benar-benar terlelap atau belum. Aku ikut berbaring disampingnya. Berharap sesuatu yang diinginkan terjadi, eh.
Aku berbaring memunggunginya, lalu memejamkan mata. Namun mata ini kembali terbuka, saat sebuah lengan kekar melingkar di perutku.
Wajahnya menempel diceruk leherku, hingga aku bisa merasakan setiap hembusan nafasnya. Seperti ada sengatan kecil menjalar ke seluruh tubuhku, merinding.
Pak Juna membalikkan badanku, hingga kami saling berhadapan. Tangannya terulur menyentuh pipiku, lalu mendekatkan wajahnya. Saat bibir kami nyaris saling bersentuhan, tiba-tiba perutku kram.
"Aw, sakit," erangku.
Pak Juna mendelik, "Belum di apa-apain udah sakit,"
Aku meringis. "Ih bapak! Bukan itu. Sepertinya anuku datang Pak."
"Anu? Anu apa?" tanyany heran.
"Datang bulan," jawabku sambil terus memegangi perut.
"Yah gagal lagi deh," ia berdecak kesal.
"Bapak! Aduh, aku gak bawa persediaan pembalut lagi."
Aku melirik nya, memasang wajah merajuk. "Pak..."
__ADS_1
"Gak mau ah, malu," tolaknya.
"Ya sudah, kalau tidak mau. Aku telepon Pras deh, pasti dia mau," ujarku sambil mengambil ponsel di atas nakas.
Ia langsung merebut ponselku, membantingnya ke kasur. Untunglah masih selamat, gak di banting ke lantai. "Iya, iya, aku beliin."
"Awas jangan sesekali telepon Pras! Kalau sampai berani, habis kamu kulahap hidup-hidup," ancamnya kemudian.
"Siap Bos!" aku memberi tada hormat padanya.
"Tunggu ya," ujarnya. Sebelum beranjak ia mengacak rambutku gemas.
"Jangan lama-lama!" teriakku sebelum ia menghikang dibalik pintu.
Aku tersenyum, melihat perhatiannya membuatku senang. Pak Juna, sikapnya kadang tak bisa ditebak. Tak lama sejak Pak Juna pergi, ponselku berdering.
'Bos sayang calling'
"Halo, Nay. Kamu pakai merk apa? Yang sayap atau tidak? Panjangnya berapa?" ia memberondongku pertanyaan, sesaat setelah aku mengangkat teleponnya.
"Apa saja, Pak. Yang bersayap, 35 cm," jawabku.
"Oke. Minumnya mau?" tawarnya.
"Ya sudah, tunggu ya sebentar," ucapnya lalu memutus sambungan telepon.
Aku beranjak, pergi ke kamar mandi. Darah yang terus keluar, membuatku tak nyaman. Terdengar suara deru mobil dihalaman. Pasti Pak Juna!
Aku segera keluar dari toilet, untuk menemui Pak Juna. Disusul oleh suara ketukan di pintu. Loh Pak Juna kok aneh? Masa, masuk kamar sendiri pakai acara ketuk pintu segala.
Ada-ada saja, pasti mau ngerjain ini mah. Langsung saja kubuka pintu, dan tiba-tiba saja seseorang memelukku. Bertepatan dengan Pak Juna yang muncul tergesa dari pintu depan. Lalu yang memelukku ini siapa?
"Abang!" teriak Pak Juna.
Mataku membulat seketika, lalu berusaha melepaskan pelukan. Namun Pras tak berniat melepaskanku. Aku meronta, tapi ia malah memperat pelukannya.
Pak Juna berlari ke arahku, dengan sigap mendorong Pras. Lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. "Dia istriku Bang!" tegasnya.
"Tidak! Dia milikku, aku mencintainya!" ujar Pras dengan nada tinggi.
"Abang mencintai orang yang salah. Lupakan Nay, Bang. Dia istriku sekarang, hanya aku yang berhak mencintainya." Pak Juna mencoba meredam amarahnya.
__ADS_1
"Juna, kami saling mencintai sebelum dia menikah denganmu. Tak boleh ada yang memiliki Nay selain aku, Aldin Prasetyo," tutur Pras.
Mendengar penuturan abangnya, Emosi Pak Juna meledak. Ia melepaskan pelukannya, menghampiri Pras. Mereka pun terlibat adu mulut. Lalu saling menyerang.
"Sudah cukup!" teriakku. Namun, mereka sama sekali tak menghiraukan teriakanku.
Aku panik,melihat Pras yang sudah kewalahan menerima pukulan bertubi-tubi dari Pak Juna. Walau bagaimana pun Pras tetap abangnya. Aku mencoba melerainya, "Sudah cukup Pak, dia abangmu,"
Pak Juna menghentikan serangannya, lalu menatapku tajam. "Kau membelanya? Jadi kau masih mencintainya?"
"Bukan begitu, Pak. Kalian saudara, kalau sa ..." belum sempat melanjutkan perkataanku, tiba-tiba Pras memukul Pak Juna dari samping.
"Bajingan!" emosi Pak Juna kembali meledak, ia pun balas memukul Pras.
Aku kembali melerai mereka, namun...
'Bruk'
Aku tumbang, saat pukulan Pak Juna tepat mengenai pelipisku. Mereka menghentikan perkelahiannya, lalu berebut menenangkanku.
"Suami macam apa kau yang memukul istri sendiri?" teriak Pras.
"Ini gara-gara kau, Bang!" teriak Pak Juna tak kalah keras.
"Kau yang memukulnya, bukan aku!" mereka pun terlibat adu mukut lagi.
Aku yang geram melihat mereka berteriak, "Cukup!"
Bisa-bisanya mereka terus berkelahi disaat bidadari dihadapan mereka kesakitan. Sungguh terlalu mereka.
Mereka langsung diam mendengarkan teriakkan delapan oktafku.
Pak Juna melengos, pergi menggunaan mobilnya. Sedangkan Pras masih terdiam di hadapanku.
"Nay," panggilnya.
"Pergi Pras!" usirku.
"Tapi..."
"Aku bilang pergi!"
__ADS_1
Ia pun pergi meninggalkanku, yang tengah tergugu menahan tangis. Pak Juna pun bukannya menenangkanku, dia malah pergi begitu saja. Ah sudahah.
Aku kembali masuk ke kamar, lalu menghempaskan tubuhku ke ranjang. Lalu meraih ponsel dan mencoba menghubungi Pak Juna berulang kali. Namun, tak satupun panggilan dariku di terimanya.