Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 11


__ADS_3

Aku bergegas menuju lemari pakaian. Ketika kubuka pintunya, mataku terbelalak meminta keluar dari tempatnya. Isinya hanya sekumpulan kain transparan, dengan berbagai model dan warna berbeda.


Sungguh pemandangan ini, membuat tubuhku panas dingin tak karuan. Aku bingung, disisi lain tubuh ini sangat gerah. Tapi melihat kain-kain tipis itu, membuatku merinding disko. Ternyata dibalik sikapnya yang so jutek, pikirannya sangat liar.


Sudah 2 jam lebih, aku berdiri mematung di depan lemari yang terbuka. Kebimbangan ini sungguh menyiksaku. Tolong aku Tuhan!


"Kamu bilang mau ganti pakaian?" suara khas bangun tidurnya mengusikku.


Aku mengangguk lesu tanpa menolehnya. "Kenapa masih memakai baju itu? Apa mau aku yang gantikan?" sambungnya.


Mata ini terbelalak untuk yang kesekian kalinya. Apa maksudnya?


"Kenapa masih berdiri disitu? Ayo mandi!" ujarnya. Aku menoleh pada Pak Juna yang tengah tersenyum, imut.


"Tapi Pak, bajunya ..." ucapku menggantung.


"Sebentar lagi datang, tunggu saja didepan!" titahnya. Aku menganggukkan kepala tanda setuju.


"Ya sudah, saya mandi duluan," lanjutnya. Lalu beranjak pergi ke kamar mandi. Aku pun turun ke ruang depan.


Baru saja sampai bel sudah berbunyi. Aku lekas membukanya, dan benar saja seorang kurir mengantar pesanan. Setelah itu aku kembali ke kamar atas untuk mandi.


Aku duduk disofa, sambil menunggu Pak Juna selesai. Bosan, aku berniat berselancar di dunia maya. Tapi aku lupa tak membawa ponsel kemari. Ini gara-gara Pak Juna!


'Klik' Terdengar suara pintu terbuka. Pak Juna keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Sehingga memperlihatkan gundukan roti sobek. Aku melongo, sambil menelan ludah. Oh tidak! Mata indah ini ternodai.


"Apa lihat-lihat?" tanyanya.


Aku tersentak. "Eh, gak kok Pak," elakku


"Terus tadi apa?" selidiknya.


"Gak ada Pak. Saya mau mandi, gerah." lalu aku beranjak melewatinya, yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


Pak Juna menarik tanganku, sehingga badan kami beradu. Membuat hati ini berdegup kencang. Tangannya terulur menyentuh pipiku yang mulai memanas. Ia mendekatkan wajahnya, hingga pipi kami bersentuhan. Lalu berbisik, "Kamu sudah siap?"


Mataku membulat seketika, entah yang keberapa kali dalam hari ini. Hobi banget Pak bikin mata ini melotot. "Siap apa Pak?" tanyaku gugup.


"Untuk nanti malam," lirihnya, meniup lembut telingaku. Lalu pergi menjauh meninggalkanku yang mematung, dengan perasaan entah. Malu, gugup, takut, senang, semua bersatu padu.


"Cepatlah!" titahnya, sambil memilih baju di lemari.


Aku langsung masuk ke kamar mandi. Sengaja berlama-lama, mengulur waktu. Setelah siap memakai gaun hitam selutut, yang dipesankan Pak Juna tadi. Aku mondar-mandir dibalik pintu, bingung antara keluar atau tidak.


Pak Juna mengetuk pintu. Lalu bertanya, "Nay, sudah belum?"

__ADS_1


"Eh, bentar Pak," jawabku. Aduh! Bagaimana ini? Bismillah. Kubuka pintu, lalu keluar. Disana Pak Juna sudah berdiri menunggu, dengan menggunakan tuxedo. Tampan!


"Bersiaplah, aku tunggu dibawah," ujarnya.


Aku mengangguk, lalu menuju meja rias. Disana sudah tersedia berbagai macam make up, skincare, dan alat stylish rambut. Pak Juna perhatian sekali. Tapi kenapa baju dalam lemari hanya kain tipis saja?


Aku langsung mengeringkan rambut, lalu menguncirnya. Mengoleskan make up tipis-tipis, agar terkesan natural. Ta Da! Aku sudah siap. Eh siap apa?


Aku bergegas turun kebawah, kasihan Pak Juna sudah menunggu lama. Ketika sampai di anak tangga terakhir, Pak Juna menoleh.


"Nay ..." ia berjalan mendekat ke arahku. Tubuh kami berhadapan, dengan jarak hanya sejengkal saja. Aku menutup mata, ketika tangannya terukur menyelipkan sehelai rambutku ke belakang telinga.


"Sa ... ya su ... dah siap, Pak," ucapku tergagap-gagap.


"Ayo!" ia menggenggam tanganku, lalu membawaku berjalan beriringan dengannya.


Aku sontak membuka mata. "Eh, mau kemana Pak?" tanyaku.


"Kau bilang sudah siap. Ayo! Kita akan makan malam bersama keluargaku," ujarnya.


"Oh." Ya ampun! Pikiranku kotor lagi. Aku kira ... Ah sudahlah.


"Memang kau kira apa? Hem," tanyanya. Aku menggeleng, malu. Ia terkekeh, menertawakan sikapku yang konyol.


"Pakai sabuknya, Nay!" titahnya.


"Iya, Pak." dengan sedikit kesal, aku memasang sabuk pengaman. Kukira Pak Juna akan memasangkannya seperti waktu itu.


Pak Juna mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan keheningan. Tak sampai 1 jam, mobil sudah memasuki halaman luas didepan rumah yang sangat mewah dan besar. Ternyata keluarga Pak Juna sangat terpandang.


"Ayo turun!" ajaknya. Ia pun turun, lalu membukakan pintu untukku.


Ia menggandeng tanganku, sampai tiba di ruang makan. Kulihat semuanya telah berkumpul disana. Pak Husein, Bu Aarti, perempuan itu, dan juga ... Pras. Sebenarnya siapa mereka ini?


Kami menyalami orang tua Pak Juna, lalu Bu Aarti memelukku. "Sayang, kamu cantik sekali," pujinya.


Aku teraenyum. "Terima kasih, Bu."


"Kamu lupa ya?" aku mengernyitkan kening.


"Panggil Mama, Nay," pintanya.


"Eh, iya Ma," ucapku. Lalu kami duduk bersebelahan.


"Nay belum terbiasa Ma, biarkan saja," Pak Husein mengeluarkan suaranya. Namun, hanya dijawab pelototan oleh Mama mertua. 

__ADS_1


"Iya, iya. Dasar macan!" gumam Papa mertua.


"Papa bilang apa?" tanya Mama, geram.


"Macan!" jawab Papa cuek.


Mama mulai berteriak, "Apa?" 


"Mama cantik," elak Papa.


Amarah mama redam seketika. Lalu tersenyum manis. "Makasih, Pa."


"Tapi boong."


"Papa! Udah berani ya? Siap-siap tidur diluar!" ancam Mama.


"Ampun Ma, maaf. Mama cantik banget sumpah," Papa memohon.


"Gak ada maaf-maafan. Pokoknya malam ini Papa tidur diluar titik!"


Kami tertawa melihat tingkah mereka, walaupun usianya sudah tak muda lagi tapi mereka masih seperti pengantin baru. Kecuali, Pras. Ia menatapku dengan ekspresi aneh. Saat pandangan kami bertemu, aku buru-buru mengalihkan pandangan. Pura-pura tak melihatnya.


"Oh iya, Nay. Kalian belum pernah bertemu kan? Kenalkan ini Tisha, adik Juna. Dan ini Pras, abangnya." Mama memperkenalkan mereka, aku pun menyalaminya bergantian. Tak lupa kusunggingkan senyum.


Ternyata, perempuan itu adiknya. Dan Pras adalah kakaknya. Sekarang kami satu keluarga. Tapi kemana Tina dan anaknya? Bukankah saat itu Tina hamil anak Pras?


"Hai, kak. Sudah dibuka belum kadonya?" tanya Tisha membuyarkan lamunanku.


"Eh, hai. Belum sempat," jawabku.


"Ya sudah, kak. Ayo makan!" ajaknya. Aku mengangguk, lalu kami semua menyantap makan malam. Sesekali bercanda, aku pun ikut tersenyum. Hanya Pras yang sedari tadi bungkam.


"Loh, Pras. Tumben kamu pendiam? Biasanya paling heboh," tanya Mama.


"Enggak Ma, aku ke kamar dulu. Ada pekerjaan," jawabnya, sambil menyudahi makan. Lalu melengos pergi ke lantai atas.


"Abangmu kok jadi aneh ya?" tanya Mama pada Pak Juna.


"Lagi banyak kerjaan kali Ma," jawab Pak Juna.


"Bener Ma." Tisha pun ikut nimbrung.


"Ya sudah. Ayo lanjutin makannya!" kami pun melanjutkan makan. Setelah selesai, satu persatu kembali ke kamar masing-masing. Tinggal aku dan Pak Juna berdua.


 Saat aku mau membereskan bekas makan, Pak Juna mencekal tanganku. "Biarkan saja, nanti Bi Inah yang bereskan. Kita ke kamar istirahat." 

__ADS_1


__ADS_2