Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Bab 28


__ADS_3

 


    Dalam perjalanan  aku mendapat kabar bahwa Joshua berhasil melarikan diri dan menyuruhku segera kembali ke kantor untuk melacak keberadaannya, tapi aku tetap melanjutkan perjalanan untuk menemui Nay. Walaupun waktu yang tersisa tidak banyak, aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Setelah melepas rindu walaupun hanya sekejap, tapi aku bisa bernafas lega. Setidaknya Pras dan Sinta menjaganya dengan baik. Aku kembali membelah jalanan menuju kantor.


    Aku mulai melacak keberadaan Joshua, dengan meretas sistem keamanan cctv seluruh bandara dan pelabuhan yang ada di kota dan negeri ini. Ternyata dia berhasil melarikan diri dengan menyelinap di kapal nelayan, mungkin menuju sebuah pulau. Sialnya aku kehilangan jejak, dia cukup pintar dengan melarikan diri ke perairan agak sulit dilacak. Tiba-tiba aku mendapat telepon dari Sinta dia bilang villa diserang, aku tahu pasti ulah anak buah Joshua.


   Aku bergegas meninggalkan kantor, Arya kusuruh dia menyusul dengan membawa polisi. Dengan kecepatan super aku tiba di villa, anak buahku sedang kewalahan menghadapi orang suruhan Joshua karena mereka membawa senjata. Aku pun ikut terlibat dalam pertarungan. 


   Tak sengaja telinga ini mendengar teriakan Nay dari atas, aku melepaskan beberapa pukulan pada anak buah Joshua kurebut pistol yang berada di tangannya. Dengan langkah tergesa aku menuju lantai atas untuk menyelamatkan Nay.


 Tiba diambang pintu, kulihat wanitaku tengah meringkuk tak berdaya di pojok ruangan dengan seseorang yang siap menghujamkan peluru padanya. Sebelum itu terjadi aku mendahuluinya melepaskan tembakan. Pertama, tepat mengenai tangannya yang sedang memegang pistol. Kedua dan ketiga, tepat mengenai kedua kakinya hingga terjatuh tak berdaya. Aku lekas memeluk Nay yang ketakutan dan membawanya pulang.


    Sebuah tepukan pelan di pipi menyadarkanku dari lamunan, Nay menatapku. "Ngelamun terus dari tadi. Mikirin apa?" tanyanya.


    "Tidak. Ayo tidur, besok adalah hari yang paling bersejarah. Tubuh kita harus fit karena acaranya akan sangat panjang dan melelahkan," ucapku.


    "Oke." Nay mengangguk setuju lalu menelusupkan kepalanya ke pelukanku.


      "Pak, aku deg degan nih," ucapnya cemas saat kami sedang berada diruangan ganti. Nay terlihat cantik dengan balutan gaun putih dan mahkota kecil di kepalanya. Aku yang tengah mematut diri di cermin sambil merapikan jas  berwarna senada, berbalik menatapnya lalu mendekatinya.


   "Deg degan kenapa sayang? Deg degan sama acaranya atau deg degan gak sabar buat nanti malam?" godaku.


     "Ih kamu apaan sih, Nay serius tau," rengeknya.


    "Aku juga serius, sudah berapa purnama menahan hasrat yang terpendam. Si kembar udah gak tahan nih," ucapku sambil mengerling nakal padanya. 


   "Ih bapak mesum banget sih malu tau," ucapnya sambil berbalik membelakangiku menyembunyikan semburat merah di pipinya. Sungguh menggemaskan.


   "Aku memang  mesum, tapi hanya padamu." Kupeluk pinggangnya dari belakang, kukecup mesra ceruk lehernya yang menggoda membuatnya menggeliat resah. Kubalik badannya hingga wajah kami bersitatap. Kukikis jarak diantara kami, saat bibir ini hendak menyentuh bibirnya tiba-tiba kehadiran seseorang menghentikan aktivitasku. Ganggu aja nih orang.

__ADS_1


   "Aduh Bang, sabar dikit napa masing siang ini. Mata Tisha ternodai deh," ucapnya sambil menutup mata dengan telapak tangannya.


    "Apaan sih? Ganggu orang lagi usaha aja."


  "Dih, Tisha cuman mau bilang semua orang udah nunggu. Kalian turun sekarang," ucapnya kesal mendapatkan pelototan dariku.


    "Iya, iya. Ayo!" Aku dan Nay berjalan beriringan menuju pelaminan. Seluruh keluarga, kerabat dan para pegawai telah menunggu. Semua kolega bisnisku juga ikut hadir, tak lupa anak buah yang sudah kuanggap keluarga sendiri pun ikut memeriahkan pesta.


   Mereka satu persatu memberikan ucapan selamat, banyak juga yang minta berfoto bersama. Sisanya menikmati acara dan hidangan yang kami sediakan. Ditengah acara kami dikejutkan oleh kedatangan tamu tak diundang. Angel tiba-tiba datang dan meneriaki ku dengan berbagai umpatan dan  sumpah serapah, mungkin baginya aku adalah dalang dari kehancuran papanya. Aku memberi aba-aba pada Arya, dia mengangguk patuh lalu memberi instruksi pada Sinta. 


  "Ini semua gara-gara kau, gadis kampung!" 


 Tiba-tiba tangannya terangkat hendak melayangkan tamparan pada istriku, lancang sekali dia. Takkan kubiarkan seorang pun menyentuh dan menyakitinya. Dengan sigap aku menahan tangannya, lalu menghempaskannya. "Jangan lancang!" tekanku.


   "Kau…" Angel mengacungkan telunjuknya padaku.


  Ku Sunggingkan senyum semanis mungkin, membisikkan beberapa kata tepat di daun telinganya, "Saatnya memberi hadiah untukmu,"


  "Saudari Angel, anda ditangkap atas tuduhan penculikan dan penganiayaan terhadap Nyonya Anayla Tansha. Anda boleh  menyewa pengacara dan memakai hak anda untuk diam. Mohon kerjasamanya dan ikuti prosedur." Pernyataan tersebut diiringi dengan borgol yang telah melekat di pergelangan tangannya.


    "Tidak! Aku tidak melakukannya, aku tidak mau dipenjara!" teriak Angel sambil memberontak minta dilepaskan. Namun petugas polisi tidak langsung menyeretnya untuk dibawa ke kantor polisi. Angel tidak berhenti meraung tak terima dijebloskan ke penjara.


    Aku melambaikan tangan padanya. "Tatah!"


   Nay melihatku dan tersenyum bahagia, mungkin dia terpesona dengan kehebatan suaminya ini. Acara pun berlanjut tenang tanpa hambatan hingga satu persatu dari mereka pulang dan acara pun selesai hampir pukul 21.00.


   ''Arp Holdings berhasil mengakuisisi perusahaan JPE Corps.'


   'Nilai saham Arp Holdings mengalami kenaikan hampir 80%.'

__ADS_1


   Aku tersenyum penuh kemenangan, akhirnya usaha yang susah payah kurintis mengalami perkembangan pesat dan semakin merebak luas. Kusimpan benda pipih itu saat pandangan ini beralih menatap Nay yang baru masuk kedalam kamar, ia masih mengenakan gaun pengantin. Lekas kuhampiri dan meraihnya kedalam gendongan, ia mengalungkan tangannya di leherku.


    Istriku jadi pendiam hari ini, itu membuatku semakin gemas ingin melahapnya. Kurebahkan tubuhnya dengan perlahan diatas ranjang, kini tak ada lagi jarak diantara kita. Beberapa kecupan mendarat di wajahnya yang lucu, juga bagian tengkuknya yang mulus. Nay menggeliat, membuat nafasku semakin membara. 


  Kami saling memagut mesra, hingga kedua raga ini menginginkan lebih. Aku mulai menurunkan resleting gaun yang ia kenakan, dan melepaskan semua yang melekat pada tubuhnya. Malam pertama yang sempat tertunda selama hampir dua bulan itu, kini telah terealisasikan. 


    Kami melebur menjadi satu. Gemericik hujan turun seakan mendukung aktivitas dua insan yang tengah dimabuk asmara merengkuh kenikmatan surga dunia. Entah berapa kali kami melakukannya, seakan tak merasa lelah sedikitpun. Pertempuran panas itu berlangsung lama hingga sampai pada puncak pelepasan terakhir, kami menyudahinya lalu tidur dengan saling memeluk.


   Beberapa bulan berlalu, rumah tangga kami berjalan lancar dan harmonis tidak ada kendala apapun. Hanya ada sedikit kesalahpahaman saja yang bisa langsung kami atasi. 


   "Hoek… Hoek…" Suara seseorang dari balik pintu kamar mandi membangunkanku dari tidur, kulihat waktu sudah pukul 06.00. Aku beranjak melangkah menuju asal suara, Nay tengah memuntahkan isi perutnya sambil meringis memegangi kepalanya.


   "Kenapa sayang?" tanyaku cemas.


   "Gak tau nih Pak, perut Nay mulas banget pengen muntah," jawabnya. Panggilannya padaku tak berubah.


   "Pusing gak?" Dia mengangguk, kulihat wajahnya pias dan tubuhnya seperti lemas. 


    "Ayo kita ke dokter!" ajakku sambil memapahnya kembali ke kamar. Dia menggeleng lalu sedetik kemudian Nay kehilangan kesadaran. Aku panik langsung menggendongnya lalu membawanya ke rumah sakit.


    "Selamat ya Pak, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Istri bapak sedang mengandung, usia kehamilannya baru 6 minggu," ucap dokter setelah dia selesai memeriksa Nay dan memperbolehkan aku masuk ke ruangan IGD. Aku tersenyum bahagia, di usia semuda ini aku akan mempunyai seorang anak. 


   "Jaga baik-baik kandungannya Pak, jangan sampai stress dan kecapean," ucap dokter itu lalu pamit keluar dari ruangan.


    "Alhamdulillah Sayang kita akan menjadi orang tua," ucapku pada Nay setelah ia siuman dan membuka matanya. Mata Nay berbinar, walaupun badannya masih lemah


    "Benarkah Pak?" tanyanya sambil mengelus perutnya yang masih rata. Aku mengangguk mengiyakan.


   "Usianya baru 6 minggu, kamu harus banyak istirahat jangan kecapean ataupun stress. Kamu harus berhenti kerja dan diam di rumah," ucapku. Nay mengangguk setuju.

__ADS_1


   "Kita harus memberitahukannya pada keluarga kita," ucapku lalu mengambil ponsel dan mulai menelpon semua anggota keluarga. Mereka pun turut bahagia mendengar kabar ini, sebentar lagi anggota kekuarga kita akan bertambah dengan kehadiran Arjuna junior.


__ADS_2