
"Saya mohon, Nay. Batalkan pernikahanmu dengan lelaki itu!" pintanya memelas.
Aku terdiam, tubuh dan bibirku kaku tak berdaya. Apa maksud Pak Juna? Tangannya memegang tanganku, lalu berlutut. Pak Juna mencium punggung tanganku, lembut.
"Menikahlah dengan saya, Nay. I love you!"
Deg! Ada yang mekar, tapi bukan bunga. Melainkan hati yang dilanda bahagia. Ahay! Pak Juna menyatakan cinta. Tapi bagaimana dengan si Arjuna buaya itu? Ah bodo amat. Aku mengangguk mantap, lalu Pak Juna berdiri membawaku kedalam pelukan.
" Apa kau juga mencintaiku?" tanyanya lirih.
"Iya, Pak." jawabku.
Merasa tak puas mendengar jawabanku Pak Juna berseru, "Katakan!"
"Aku juga mencintaimu!" Pak Juna melerai pelukan, berganti menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya. Sesaat mata kami bertemu, saling memancarkan binar kebahagiaan. Lalu, wajah kami semakin dekat, semakin dekat hingga hidung nyaris bersentuhan. Aku memejamkan mata, bersiap mendapat serangan fajar. Namun, sebelum hal yang diinginkan terjadi...
Plak!
Seseorang menampar pipi mulusku, aku membuka mata dan wajah Emak yang kulihat, tengah berkacak pinggang. Dengan taringnya yang mulai tumbuh kala memendam amarah. Jadi tadi itu? Mimpi!
"Gusti! Kebluk banget kamu, Nay. Ini sudah jam 10. Calon penganten kok males-malesan. Harusnya kamu tuh ke salon, luluran, facialan biar gak kucel. Semua orang mah lagi beberes dirumah, buat acara pernikahan. Ini mah pengantennya inalillahi, sudah siang begini masih molor, " cerocosnya, "sana, mandi!"
Lalu Emak melengos pergi. Akupun langsung menuruti perintah Juliet Abah, karena kalau tidak maka habislah aku!
Baru sehari aku cuti, waktu terasa amat lambat. Dan hati ini tak henti memikirkan Bos Imut itu. Wajahnya yang manis ketika tersenyum, selalu berkelebat dalam bayangan. Bahkan dalam mimpi.
Aku iseng melihat-lihat status di aplikasi chat berwarna hijau, mengusir jenuh. Tak sengaja mata ini menangkap sebilah nama seseorang yang selalu berjibaku dalam pikiran ini, Bos Sayang. Aku lupa belum mengganti nama kontaknya.
Kutekan kontaknya, kulihat statusnya dan hati ini sakit seketika tapi tak berdarah. Ia memposting foto dengan seorang perempuan cantik. Tapi cantikan gue kemana-mana! Disana tertulis, kesayangan lalu diakhiri emoticon love.
Akhirnya aku uring-uringan gak jelas. Ada si Adam lewat, sapu melayang. Ada kucing lewat, kemoceng melayang. Ada Emak lewat, pura-pura senyum biar disangka bahagia. Padahal hati ini tengah menahan sakit. Bucin terus!
__ADS_1
"Sana pergi ke salon. Biar Nita yang temenin," ujar Emak.
"Iya teh, kalau mau dihalalin tuh harus kelihatan cantik." Nita tersenyum, menggodaku. Mertua sama menantu kompak banget.
Aku turutin aja deh, dari pada barang-barang di rumah jadi tidak pada tempatnya. Aku dan Nita pergi menggunakan motor milik Adam, karena punyaku dibawa Abah pergi mengurus persyaratan nikah.
"Kita mau kemana ini, Nit?" tanyaku. Saat motor yang kami tumpangi telah melaju jauh, sepanjang jalan kenangan. Eh! Kumat lagi deh.
"Ke Queen Beauty Spa & Facial aja yuk teh. Disana enak banget perawatannya," ucapnya antusias.
"Boleh deh. Tapi, tunjukin jalannya teteh gak hafal tempat begituan. Kan udah cantik dari sananya."
Kami tertawa riang, bagaikan menang kupon undian. Senangnya punya ipar baik gini, akur. Dengan teliti, Nita menunjukkan jalan yang akan kami lewati. Tapi kok, arahnya menuju ke hotel Pak Juna.
Benar saja! Saat melewati gedung hotel, tiba-tiba Nita menyuruhku putar balik menyebrangi jalan. Dan berhenti tepat di seberang hotel Pak Juna. Hati ini mendadak rindu padanya.
"Yuk!" Nita menggandeng lenganku, lalu masuk kedalam salon. Aku pun menikmati suasana perawatan disini.
Jleb! Pak Juna keluar dari hotel, menggandeng seorang perempuan. Mereka tengah tertawa senang, mesra sekali. Setelah kuperhatikan, perempuan itu persis seperti yang ada di foto bersama Pak Juna. Apa itu calon istrinya? Serasi sekali.
"Ayo, teh!" Nita menepuk bahuku.
Aku yang tersentak, lekas mengalihkan pandangan pada Nita. "Eh, iya Nit."
"Teteh kenapa?" tanyanya.
"Enggak. Ayo pulang! Kamu yang nyetir," ajakku sambil memberikan kunci motor pada Nita. Tak berani mengemudikan motor sendiri, dalam keadaan panas terbakar api cemburu begini. Bisa-bisa bukan sampai ke rumah nanti, tapi ke rumah sakit.
"Oke, tuan putri." Nita membentuk jarinya menjadi huruf O, lalu mengedipkan sebelah matanya. Kami pun tertawa, sebelum melajukan kendaraan.
Sepanjang perjalanan, diri ini tak hentinya memikirkan Pak Juna dan perempuan yang kutaksir calon istrinya. Cemburu? Ya, mengapa rasa itu harus ada.
__ADS_1
"Teh, beli makanan hot dulu yuk!" ajaknya.
"Boleh, deh," ucapku, "kebetulan lagi pengen yang seger dan pedes."
Sesampainya dirumah, aku dikejutkan oleh penampakan sebuah mobil yang kukenali. Mobil si Bos! Kok dia ada disini? Bukannya tadi pergi bersama calon istrinya. Aku dan Nita masuk beriringan. Kulihat di kursi, tengah duduk sepasang insan yang sudah membuat hati ini terbakar api cemburu.
"Ini Kak Nay kan?" tanya perempuan itu ketika pandangan kami bertemu.
Kucoba mengulas senyum tipis, menyembunyikan kegalauan yang menimpa. Gadis itu memelukku, lalu mengucapkan selamat.
"Oh ya, aku punya kado untuk Kakak. Ada di mobil, aku ambil dulu," ujarnya, lalu berlari keluar.
Kini, pandangan kami yang bertemu. Aku dan Pak Juna saling menatap. Takut khilaf segera kualihkan pandangan.
"Ini Kak!" Gadis itu menyerahkan sebuah kado.
"Makasih, ya," ucapku sambil mengulas senyum.
"Sama-sama Kak. Aku pamit dulu mau menyiapkan pernak-pernik pernikahan juga," pamitnya.
Astagfirullah! Tuh kan betul. Lalu mereka berjalan memasuki mobilnya. Kulihat Pak Juna melirikku, tersenyum manis. Aku buru-buru menghindar, karena melihatnya membuatku lebih sakit. Ada, tapi tak bisa kumiliki.
Aku berjalan dengan perasaan kesal, menghentak-hentakkan kaki. Tepat didepan pintu kamar, Emak bertanya, "Loh, Nak Juna nya udah pulang Nay?"
"Au ah gelap," jawabku malas.
Emak menggelengkan kepala. "Eling Nay!" serunya.
"Ish Emak." aku masuk ke kamar lalu membanting pintu.
"Kunaon budak teh? Kasurupan jin kiprit kitu?" ucap Emak yang masih bisa kudemgar dari balik pintu. Bukan jin kiprit Mak, tapi jintaku padanya yang tak terbalas.
__ADS_1
Kubantingkan bantal, guling dan apa saja yang ada dihadapan. Saat ponsel sudah kuangkat tinggi-tinggi, bersiap dilemparkan. Sayang, baru lunas. Kubantingkan jiwa dan raga yang rapuh ini ke kasur. Huft! Sabar Nay, dia bukan jodohmu.