
Kutatap wajahnya yang dihiasi senyum manis itu, bertanya, "Lalu siapa yang pertama?"
"Namanya Aartika, dia perempuan pertama yang paling berharga dalam hidupku," jawabnya dengan tatapan menerawang
"Kenapa kalian tidak bersama?" tanyaku dengan dada yang terasa sedikit sesak.
"Dia... Ibuku," jawabnya lalu tersenyum jahil.
Sial! Aku kena prank. Aku kesal, lalu memukul pelan dadanya berkali-kali. Ia menarikku hingga kami terjengkang, badanku tepat berada diatasnya.
"Jadilah yang terakhir di hidupku Nay," ujarnya.
Pak Juna mengecup bibirku sekilas. Aku mengangguk, lalu menelusupkan kepala di dadanya yang bidang memeluknya erat.
Entah kenapa hatiku semakin yakin, bahwa cintaku memang telah berlabuh padanya. Hingga tak sadar aku membisikkan kalimat, "I love you,"
"Kau bilang apa Nay?" tanyanya.
"Ti... tidak Pak, orang Nay gak ngomong," elakku sambil menarik diri, kembali membenarkan posisi duduk seperti semula. Begitupun dengan Pak Juna.
"Oh ya, aku akan membawamu ke satu tempat lagi," ujarnya antusias.
"Kemana?" tanyaku.
"Ke tempat yang indah. Kau akan sangat menyukainya nanti," jawabnya.
Pak Juna berdiri, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo!" ajaknya.
Aku menerima uluran tangannya, dan kami berjalan beriringan.
Sepanjang perjalan, kami saling melempar senyum. Lagi-lagi mataku dibuat terpana, saat kami tiba di sebuah taman. Di tengahnya terdapat air mancur, dengan bunga-bunga cantik di sekekilingnya.
Kulihat seorang pemuda tengah memainkan sebuah alat musik. Nada-nada indah mengalun merdu, membuat hatiku terbawa suasana mendengarnya. Bibir ini pun ikut melantunkan liriknya.
Ku hitung detik waktu, memikirkanmu tiada habisnya.
Kau di detak jantungku, di setiap nafasku tiada gantinya.
Kau segalanya, yang bermakna.
I just wanna hold you, i just wanna kiss you.
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this, but i just can't contain it.
I want you here forever right here by my side.
Kudengar Pak Juna pun ikut bernyanyi. Ia mengenggam tanganku, matanya tak lepas menatapku.
__ADS_1
All the fears you feel inside and all the tears you've cried.
They are ending right here.
I'll heal you hardened soul, I'll keep you oh so close
Don't worry i'll never let you go.
You are all i need, you are everything.
Kami pun hanyut dalam lagu, bernyanyi bersama.
I just wanna hold you, i just wanna kiss you.
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this, but i just can't contain it.
I want you here forever right here by my side.
"Aku mencintaimu," ujarnya setelah lagu selesai.
"Aku juga mencintaimu," balasku.
Pak Juna mencium keningku, lalu membawaku kedalam pelukannya. Semua mata yang memandang saling bersorak riang, bertepuk tangan. Mereka ikut bahagia melihat dua insan yang saling mengucap cinta. Aku pun menikmati suasana romantis ini dengan suka cita.
Aku mengangguk. "Suka," jawabku.
"Ya sudah, aku beli dulu ya," ujarnya, "kamu tunggu disini!" Pak Juna melangkah pergi menuju tempat penjual ea krim, yang letaknya berada diujung jalan sana.
Aku mengamati setiap derap langkahnya. Punggung kokoh itu adalah tempatku bersandar, kini. Bibir ini tak henti menciptakan lengkungan, membentuk bulan sabit. Bunga-bunga cinta dalam hati seakan ikut bermekaran.
Bagaimana tidak bahagia, bila ternyata Pak Juna seromantis itu. Ah aku jadi tersipu diperlakukan begitu. Mungkin pipiku sudah bagaikan kulit buah manggis.
Sudah hampir 10 menit berlalu, Pak Juna tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Kaki ini sudah terasa pegal, dibuat berdiri dari tadi. Mungkin tempatnya ramai oleh pembeli, sehingga Pak Juna harus mengantri dulu.
Aku memutuskan untuk duduk dibangku, yang letaknya tak jauh dari tempatku saat ini. Tahu begitu, sudah dari tadi aku menunggunya disana.
Saat kaki ini hendak melangkah, seseorang dari belakang membekap mulutku secara tiba-tiba. Lalu membawaku menjauh dari area taman. Aku meronta, mencoba melepaskan diri. Tapi sia-sia saja, semakin aku berontak, kepalaku terasa pusing. Tubuhku lemas, dengan kesadaran yang perlahan mulai menghilang.
Aku sontak membuka mata, saat badan ini terasa basah dihantam air. Kulihat keadaan di sekeliling, sepertinya aku berada didalam rumah kosong tak berpenghuni yang telah usang. Aku terduduk disebuah kursi, dengan kaki dan tangan yang terikat kain.
Dan didepanku, seorang pria bertato teronggok disana. Sebelah tangannya tengah memegang ember, dan yang satunya sedang menempelkan ponsel ke telinga. Ia terlihat sedang terlibat pembicaraan lewat telepon. Jadi makhluk itu yang menyiramku dengan air?
Tapi tunggu, sepertinya... sepertinya aku diculik! Resiko orang cantik, ya gini. Siapa sih orang yang berani nyulik perempuan paling imut sejagad perwayangan ini?
Tak lama setelah orang itu mematikan sambungan telepon, terdengar suara langkah kaki yang nyaring. Ini seperti suara high heels perempuan.
Betapa terkejutnya aku, saat melihat orang itu masuk. Gadis yang baru beberapa hari ini kuketahui namanya, berjalan berlenggak-lenggok ke arahku. Dia Angel.
__ADS_1
"Hai Anailla," sapanya saat jarak kami saling berhadapan.
"Apa maksudmu menculikku?" tanyaku.
Bukannya menjawab, Angel malah tertawa. Sudah gila kali ini orang. "Lepaskan aku!" tekanku.
"Akan kulepaskan, tapi," ujarnya, "nanti. Setelah aku memberimu pelajaran, karena sudah merebut Juna dariku."
Oh, jadi gara-gara itu aku sampai diculik. Enak saja dia, sudah jelas-jelas Pak Juna memilihku. Bahkan aku tak tahu hubungan apa yang terjadi diantara mereka.
"Aku tidak pernah merebut siapapun darimu, tapi," ujarku, "dia sendiri yang memilihku. Jadi, bukan aku yang bersalah disini. Tapi kau sendiri,"
Raut wajahnya berubah kesal. Angel melayangkan tangannya, lalu menampar pipiku. "Salahku kau bilang? Sudah jelas-jelas kau yang merebut Juna dariku. Kalau kau tak pernah hadir dalam hidupnya, mungkin aku yang sekarang berada diposisi mu," ucapnya berapi-api.
"Tapi inilah kenyataannya, aku adalah istri sahnya," ujarku santai.
"Tidak boleh! Hanya aku yang pantas menjadi istrinya!" tekannya.
Aku tersenyum miring. Lalu berkata, "Sayangnya, suamiku itu selalu menolakmu. Bukan begitu?"
"Sialan kau!" Angel mulai geram, ia menampar pipiku yang kedua kalinya.
Kurasakan pipi ini memanas, menerima hantamannya. Tapi tak menyulutkan keberanianku untuk melawannya.
"Ayolah, terima saja kenyataan ini. Pak Juna tidak akan suka pada gadis bar-bar sepertimu," ujarku, "Dia menyukai gadis imut sepertiku,"
Kulihat Angel tengah menahan amarahnya yang menggebu, lalu beranjak menjauhiku.
"Bereskan dia!" titahnya pada pria itu. Angel pergi dengan menghentak-hentakan kaki, lalu membanting pintu dengan keras.
Kini manusia gak ada akhlak itu mulai mendekatiku dengan senyum menyeringai. Keberanianku saat beradu mulut dengan Angel, kini lenyap sudah. Seiring tatapannya yang seakan-akan tengah menelanjangiku.
Ya Allah tolong aku! Pak Juna saja belum berhasil menanam benih disini. Aku menutup mata, tak kuasa melihat pria itu yang kini semakin mendekat. Dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuh ini.
"Sudah siap bermain denganku cantik?" ucapnya sambil menyentuh daguku.
"Jangan sentuh aku!" teriakku.
"Ayolah, jangan suka berpura-pura. Sebenarnya kau mau kan," ucapnya.
"Mohon maaf dengan sebesar-besarnya, kau bukan tipeku. Wajahmu garang, gak ada manis-manisnya," selorohku.
Masyaallah Nay, istighfar! Disaat genting begini, sempat-sempatnya itu mulut berceloteh ria. Kalau dia marah gimana?
Benar saja, wajahnya merah padam bagaikan si cepot. Bedanya, dia sama sekali gak lucu.
Pria itu mengambil vas bunga di atas meja, lalu menghantamkannya ke kepalaku. "Sombong sekali kau! Biar kuberi pelajaran."
Serpihan vas bunga itu menancap di kening, lalu terasa darah mengalir ke pipiku. Sempat terlihat pria itu tersenyum puas sebelum kesadaranku perlahan menghilang.
__ADS_1