Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 5


__ADS_3

Nervous, yang tengah aku rasakan saat ini. Bertemu dengan calon mertua membuatku gugup, dan berkeringat dingin. Bagaimana kalau mereka tak suka padaku? Ah daripada panik, lebih baik tanya Lusi deh bagaimana mengatasi nervous saat bertemu camer. Secara, dia udah pengalaman soal begituan. Eh!


Kuketik pesan pada Lusi melalui aplikasi hijau, lalu kirim. Centang biru tanda sudah dibaca oleh penerima. Tak Lama muncul balasan darinya yang berisi, 'Cieee. lo rileks aja, gak usah gugup. Gak bakal diapa-apain kok, Nay,'


Suara deru mobil terdengar di halaman rumah, membuat jantung in memompa lebih kencang. Lebih berdebar lagi saat Emak mengetuk pintu kamar, menyuruhku keluar.


"Nay, keluar sekarang! Calon mertuamu sudah datang." seru Emak.


Aduh, bagaimana ini? Aku mematut diri dicermin, memastikan penampilanku. Tak lupa aku memakai baju pemberian si Arjuna itu. Seleranya bagus juga, ukurannya pas lagi.


Kubuka pintu, lalu mengikuti Emak ke ruang depan dimana orang tua Arjuna buaya itu duduk. Langsung saja kucium punggung tangan mereka bergantian, mereka tersenyum manis padaku. Perasaan lega dihati ini, berarti mereka menyukaiku. Kegugupanku sedikit-sedikit perlahan menghilang.


"Cantik sekali anakmu ini Rin. Kenapa gak dari dulu dikenalin?" Bu Aarti memujiku. Ah jadi malu.


Kami pun melanjutkan obrolan dimeja makan, sambil menyantap masakan Chef Rina Rose. Setelahnya mereka pamit undur diri. Aku mengantar Pak Husein dan Bu Aarti ke depan, lalu menyalami mereka.


"Jaga kesehatan ya, Sayang. Biar nanti akadnya lancar," ucap Bu Aarti. Ia terus mengelus lembut rambutku.


"Baik tante," jawabku.


"Jangan panggil tante! Panggil saja Mamah," pintanya.


"Iya, Mah. Hati-hati dijalan!"


Kami saling melambaikan tangan, hingga mobil mereka tak terlihat. Calon mertuaku baik juga ternyata. Tapi bagaimana dengan anaknya? Secara kami belum pernah bertemu. Aku pun masuk kedalam rumah, lalu ke kamar untuk istirahat.


Entah kenapa mata ini sulit terpejam. Kejadian-kejadian dengan Pak Juna melintas di anganku. Hati dan otak ini dipenuhi oleh wajah imut bosku itu. Aku tersenyum-senyum sendiri. Lalu menyentuh bibir ini, saat bayangan kejadian tadi pagi melintas di pikiran. Ah Pak Juna!


Aku baru saja tiba di parkiran hotel, berangkat tadi setelah menyelesaikan sarapan. Di pintu masuk, kulihat Lusi melambaikan tangan. Aku pun membalas lambaian tangannya, dan langsung menghampirinya. "Hai, Si!" sapaku.

__ADS_1


Lusi menggandeng tanganku. "Hai! Eh lo kok lama banget? Dari tadi dicariin terus sama si bos, mondar-mandir dia. Udah berapa kali juga dia nanya ke gue. Ada apa sih?" cerocosnya.


Kok hati ini muncul bunga-bunga ya? Tapi, cuma nanyain doang kan. "Mana gue tahu, Si," jawabku


"Eh itu si bos, samperin Nay!" Lusi menunjuk ke arah dimana Pak Juna sedang mondar-mandir tak karuan di depan ruangannya.


"Gak mau ah, takut digigit gue," tolakku.


"Mana ada! Emang dia macan apa. Cepetan!" Lusi mendorongku. Terpaksa deh, kuhampiri bos Imut itu.


Dengan langkah santai aku mendekat ke arahnya, pura-pura tak melihat keberadaan Pak Juna. Saat berjalan melewatinya, Pak Juna mencekal tanganku. Seperti kesetrum listrik, ada sengatan menjalar ke tubuhku.


"Nay, ikut saya!" Pak Juna menarik tanganku lembut. Lalu kami berjalan beriringan menuju parkiran.


"Mau kemana Pak?" tanyaku ketika Pak Juna membukakan pintu mobil lalu berseru, "Jangan banyak tanya! Ayo Masuk!"


Aku pun memasuki mobilnya dengan perasaan berkecamuk. Duduk disampingnya yang tengah memegang kemudi. Tapi tiba-tiba, Pak Juna mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arahku. Aku memejamkan mata, saat wajahnya semakin dekat. Lalu terdengar bunyi 'klik' suara seatbelt, aku refleks membuka mata.


Ya Allah Pak, seneng banget bikin orang baper. Bagaikan udah berharap tinggi-tinggi nih ya, abis tuh dihempaskan begitu saja. Pak Juna sukses membuatku malu untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu kira saya mau cium kamu?" tanyanya yang membuatku gelagapan seketika.


"Enggak kok Pak," elakku. Berusaha menyembunyikan rasa malu, kupalingkan pandangan melihat keluar jendela. Sepanjang perjalanan kami hanya diam tak bersuara. Kecanggungan ini berakhir saat mobil Pak Juna memasuki area Mall.


"Ayo turun!" ajaknya. Aku mengangguk, lalu lekas turun dari mobilnya. Ia pun melakukan hal yang sama.


"Pak, mau apa kesini?" tanyaku bingung. Kenapa Pak Juna tiba-tiba mengajakku ke Mall pagi-pagi begini? Si bos imut itu tak menjawab, Ia malah menggenggam tanganku. Lalu membawaku berjalan beriringan dengannya. Entah kenapa perasaanku senang bersentuhan dengan Pak Juna. Istighfar Nay! Kamu calon istri orang. Genggaman tangannya begitu kuat, hingga aku tak bisa melepaskannya begitu saja.


Tak lama kami tiba di salah satu toko perhiasan besar. Banyak permata mewah berjejer disana. Ia berbincang dengan salah satu pelayan toko, lalu pelayan itu mengeluarkan dua pasang cincin.

__ADS_1


"Coba kamu pilih yang mana?" tanya Pak Juna. Aku hanya diam melongo. "Nay, Coba yang ini!" Pak Juna menunjuk sepasang cincin.


Karena tak mendapat respon dariku, Pak Juna meraih tanganku. Lalu memasangkan cincin dijari manisku. Simple, tapi sangat indah dan pas di jariku. Perasaan hangat menjalari tubuhku. Apa maksud Pak Juna?


"Saya ambil yang ini saja," ujarnya. Pak Juna melepaskan kembali cincin yang dipasangnya tadi. Lalu memberikannya pada pelayan toko. Tak lama, pelayan itu memberikan sebuah paper bag. Pak Juna menarikku kembali keluar, memasuki mobil.


Sebelum kembali ke hotel, Aku dan Pak Juna mampir ke restoran. Dari tadi Pak Juna terus menggenggam tanganku, seakan tak ingin lepas. Rasa bahagia kian membuncah di hati ini. Apa aku jatuh cinta?


"Mau makan apa, Nay?" tanyanya saat kami duduk di sebuah meja.


"Emm terserah Pak Juna saja," jawabku. Pak Juna memanggil pelayan dan memesan makanan.


"Pak, ma...." Saat aku hendak melayangkan pertanyaan, tentang apa maksud Pak Juna membawaku ke toko perhiasan. Pak Juna membungkam mulutku dengan jari telunjuknya, lalu tersenyum. Manis sekali! Dada ini tak henti berdegup kencang. Eh kalau berhenti aku mati dong.


Ia menggelengkan kepalanya, pertanda jangan ada pertanyaan yang keluar dari mulutku. Aku mengangguk, lalu ia melepaskan jari tangannya yang menempel di bibirku. Tak lama, pelayan datang mengantar makanan. Ternyata Pak Juna memesan steak, seumur-umur aku paling tak bisa makan steak.


"Makan dulu, Nay!" titahnya.


Aku mengangguk mengiyakan. Rasa malu hinggap saat tangan ini kesusahan saat memotong dagingnya. Ditambah Pak Juna yang memperhatikan sambil tersenyum tipis, membuatku grogi. Senyum terus dari tadi Pak, bisa diabetes aku. Lalu Pak Juna mengambil alih piringku, membantu memotongkan daging.


Setelah itu, Pak Juna menyodorkan daging yang menempel di garpu ke mulutku. Ya kali nyodorin garpu gak ada dagingnya. Aku bengong, si bos imut itu memberi isyarat agar aku membuka mulut. Aku pun menurutinya, dan sepotong daging mendarat di mulutku. Hati ini meleleh. Lalu Pak Juna memasukan sepotong daging ke mulutnya, menggunakan garpu yang sama. Wow!


Lalu kami melanjutkan makan masing-masing. Tiba-tiba Pak Juna mengelap sudut bibir ini, lembut. "Itu, belepotan Nay," ujarnya. Ah Pak Juna, plis jangan bikin aku baper!


"Makasih, Nay," ucapnya ketika dalam perjalanan kembali ke hotel.


"Terima kasih untuk apa pak?" tanyaku.


"Barusan. Kamu udah nemenin saya memilih cincin, buat calon istri saya."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2