Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 6


__ADS_3

Ada yang nyeri di ulu hati ini. Senyum yang dari tadi menghias bibir seksi ini, sirna sudah. Aku mengangguk tanpa menatapnya. Kenyataan pahit apa ini? Dengan lirih kujawab ucapan terima kasihnya, "Sama-sama, Pak,"


'Aku juga berterima kasih pak. Karena bapak sudah membuatku melayang, lalu menjatuhkanku ke dasar jurang pada saat itu juga,' batinku mencelos.


"Oh ya, saya turunin kamu di parkiran ya. Saya ada acara keluarga di rumah," ucapnya.


Aku diam tak menjawab ucapannya. mataku fokus melihat jalanan yang terdapat banyak kendaraan berlalu-lalang. Menghalau segala perasaan yang ada dihati ini. Sadar Nay! Kamu memang tak pantas buat Pak Juna.


Akhirnya, mobil berhenti di area parkir hotel. Aku pun turun dari mobil, Pak Juna mengulas senyum sebelum mobilnya melesat meninggalkanku dengan hati yang ... remuk.


Aku berjalan memasuki hotel dengan tubuh lunglai. Tak kuhiraukan panggilan Lusi, aku memasuki ruangan Pak Juna. Ah ngapain juga aku baper? Kita kan gak ada hubungan apa-apa, selain bos dan karyawan. Lagian kami sama-sama akan menikah. Tak ada pekerjaan yang bisa kulakukan, semenjak berada di ruangan Pak Juna.


Ketika mata ini perlahan terbuka, aku melihat Pak Juna tengah menatapku dengan tangan menopang dagunya. Refleks kututup wajah yang kemungkinan ada ilernya dengan kedua telapak tangan. Aku ketiduran!


Ia terkekeh melihat tingkahku, sedangkan aku tengah menahan malu. Kenapa sih Pak Juna harus melihatku dalam keadaan begini?


"Gak ada ilernya kok, Nay. Gak usah ditutup wajahnya! Nanti lucunya hilang," ujarnya masih dengan keadaan sama.


Pipi ini menghangat, seiring terbukanya telapak tangan yang menutupi wajahku. Jangan bikin baper deh pak!


"Tidur di jam kerja, kamu saya hukum. Sini hp kamu!" Kini wajah imut Pak Juna berganti dengan wajah garang, ia menadahkan tangannya.


Aku mengambil ponsel di dalam tas, lalu memberikannya pada Pak Juna. "Ini Pak. Buat apa?"


"Kepo!" Pak Juna mengutak-atik ponselku seperti menuliskan sesuatu, tak lama terdengar ponsel miliknya berdering. Ia menyerahkan kembali ponselku.


Aku membulatkan kedua bola mata, saat melihat nama yang tertera layar digawai yang kupegang. 'Bos Sayang' Aku langsung melirik ke arahnya, hendak protes. Tapi tak kutemukan keberadaannya, ternyata cepat sekali dia sudah kabur. Tiba-tiba satu pesan masuk dari Bos Sayang yang berisi, 'Masih mau bengong disitu? Udah jam pulang ini loh,'


Kutengok jam di pergelangan tangan, pukul 15.00. Tanpa membalas pesan dari Pak Juna,aku bergegas memakai tas dan melangkah keluar dari ruangan Pak Juna. Di Parkiran, Lusi sedang berdiri di dekat motorku. Ia melambaikan tangan.


"Lo kenapa tadi? Gue panggil-panggil juga gak nyaut-nyaut," cerocos Lusi, saat aku tiba di depannya.


"Enggak kok Si, gue baik-baik saja. Tadi tuh gak kuat pusing, gue tidur deh," elakku, yang jelas berbohong. Lalu menaiki motor kesayangan.

__ADS_1


"Yakin lo?" tanyanya.


"Iya, udah ah gue duluan ya Si," pamitku. Kupacu kendaraan keluar dari pelataran hotel. Sengaja aku menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh yang akan Lusi lontarkan. Aku belum siap bercerita tentang Pak Juna.


Sepanjang perjalanan, tak henti otak ini memikirkan Pak Juna yang telah meluluhlantakkan perasaan ini. Aku telah terjebak cinta bos imut itu! Mungkin aku harus mengambil cuti sebelum pernikahan, agar terhindar dari godaan-godaan setan terkutuk.


Sampai dirumah aku langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri. Tak lupa hati ini juga dibersihkan, takut sisa-sisa kenangan bersama Pak Juna masih nempel. Sampai waktu makan malam tiba, aku mengurung diri di kamar. Masih syok akan kenyataan yang kuhadapi tadi, Pak Juna sudah punya calon istri. Sakit euy, ini seperti ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Eh!


Tapi gak ada salahnya, orang kita gak ada hubungan spesial. Bahkan aku pun dalam hitungan hari akan jadi istri orang. Terus apa maksud perlakuan Pak Juna? Nomor ponselnya yang disimpan di ponselku namanya ... Au ah gelap.


Terdengar suara keras mengagetkan telingaku, siapa lagi kalau bukan Julietnya Abah. "Nay! Ayo makan malam!" teriak Emak.


"Iya Moms!" teriakku tak kalah kencang.


"Nay, gimana buat acara akad nanti? Kamu sudah siap?" tanya Abah.


Aku mengangguk mantap. Aku harus melupakan Pak Juna secepatnya. "Bah, gimana kalau mulai lusa Nay cuti kerja?" tanyaku.


"Ide, bagus Nay," jawab Abah


"Timbang ti kotok doang Mak. Air kan banyak ya Bah?" Kami tertawa bersama, lalu lanjut menyantap makanan. Sayang, dianggurin dari tadi.


Setelah makan malam selesai, aku pamit pada dua pasutri itu kembali ke kamar. Bersiap merajut mimpi, siapa tahu mimpiin Pak Juna. Eh! Nyeri di ulu hati ini masih sangat terasa. Besok aku harus izin cuti nih, biar bisa lupain si Bos imut.


Aku terbangun pukul 02.00, hmm masih ngantuk. Kurebahkan kembali badan ini ke kasur. Lalu terperanjat, aku ingat sebuah artikel. Yang mana mengatakan, jika kita terbangun tengah malam itu berarti Allah menyuruh kita untuk ingat padaNya. Tanda sayang pada umatNya. Bergegas mensucikan diri dengan berwudhu, lalu kutunaikan sholatt sunat 2 rakaat.


Kupanjatkan doa pada sang pencipta, agar senantiasa diberi kesehatan dan dilimpahkan rezeki. Tak lupa mohon dilancarkan dalam segala urusan. Semoga jalan yang kupilih adalah benar. Kuakhiri do'a dengan mengucap 'Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar aamin'. Lalu kembali membaringkan tubuh, dan terlelap.


Aku berangkat kerja dengan perasaan sedikit lega. Karena aku mulai sadar, orang tua tak akan menjerumuskan anaknya. Dengan menjodohkanku, mereka ingin menjauhkanku dari dosa-dosa zina. Ya Allah semoga ini yang terbaik.


Saat tiba di ruangan Pak Juna, aku lekas menghampirinya yang tengah duduk sambil melihat-lihat sebuah brosur rumah impian.


"Pak Juna," panggilku ragu.

__ADS_1


"Eh, Nay. Ayo duduk!" titahnya, "Nay, menurutmu rumah mana yang paling bagus?" Pak Juna menyodorkan brosur, meminta pendapatku.


Wow! Aku terkesiap melihat desain-desain rumah yang cukup mewah. Pasti betah punya rumah sebesar itu. Tapi ada satu yang aku sukai, sebuah rumah minimalis. Dengan halaman depan lumayan luas, dan dihalaman belakang terdapat sebuah paviliun yang menghadap kolam renang. Amazing! Cocok untuk pasangan baru menikah. Aku menunjukkannya pada Pak Juna.


"Yang ini Pak," jawabku antusias


"Selera yang bagus. Saya beli yang ini saja," ujarnya. Orang kaya mah bebas, baru liat langsung beli aja.


"Pak, kalau diizinkan mulai besok saya ambil cuti selama seminggu," ucapku.


Pak Juna mengernyitkan dahi, "Cuti?"


"Ya, Pak. Tiga hari lagi saya menikah," ragu kusebut alasan untuk cuti.


"Ya, saya izinkan." ujarnya santai.


Jleb! Lempeng amat si bos. Gak nanya apa gitu? Nikah sama siapa gitu? Ngelarang gitu? Eh. Aku menghela nafas berat. Berat rasanya berpisah dengan Pak Juna, selama satu minggu tak melihat wajah imutnya. Takut rindu, kata Dilan rindu itu berat.


"Terima kasih, Pak." ucapku. Pak Juna mengangguk, bibir mengulas senyum. Getar-getar lagi deh Pak hati ini!


Aku kembali sibuk dengan lamunanku, karena sejak aku berada di ruangan Pak Juna hanya itu yang bisa kulakukan. Tak ada pekerjaan apapun disini. Aku hanya duduk diam dan melihat ketampanannya. Apa bedanya aku dengan patung?


"Nay!" Lusi berteriak saat aku keluar dari ruangan Pak Juna, karena sudah jam pulang kerja.


"Ono opo to, Si?" tanyaku berlogat jawa.


"Elah, sunda mah sunda. Gak usah kejawa-jawaan!" Kami tertawa, sambil berlalu menuju parkiran. Itulah cara kami melepas penat seharian dengan bersenda gurau. Persahabatan kami pun tak pernah goyah, semenjak masih kuliah.


"Gue besok ambil cuti nikah, seminggu Si," ujarku.


"Oh, semoga lancar ya! Akhirnya sang jomblo abadi menemukan jodohnya." Lusi memelukku.


Aku balas memeluknya. "Lo harus dampingin gue ya!" pintaku

__ADS_1


"Oke, sayang." Ia mengedipkan sebelah matanya, manja.


"Idih amit-amit lo!" seruku lalu kami tertawa bersama.


__ADS_2