Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 25


__ADS_3

"Pras, kenapa kau repot-repot mengurusku ?" tanyaku pada Pras saat ia kembali menyuapiku makan siang.


"Karena aku mencintaimu," jawabnya.


"Bahkan setelah aku menolakmu?" tanyaku lagi.


Pras menghentikan aksi menyuapiku, lalu memegang kedua tangan ini. "Meskipun aku tidak bisa memilikimu, setidaknya izinkan aku menjagamu. Walau hanya sebatas abang iparmu," ujarnya.


"Pras, kau sudah menerimaku dengan Pak Juna?" 


"Tadinya tidak akan pernah," jawabnya, "Tapi melihatmu begitu tersiksa berada jauh darinya, aku sadar mencintai bukan seperti ini."


"Mencintai tidak dengan menyakiti. Mencintai seharusnya membiarkan orang itu bahagia, meski bukan bersamaku."


Hati ini terenyuh mendengar apa yang dikatakan Pras, ini Pras yang sama yang kukenal dulu. "Terima kasih Pras, kau sudah mengerti," ucapku.


"Hanya ucapan terima kasih saja?" 


"Lalu apa?" tanyaku.


"Semua ini tidak gratis Nay. Kau harus membayar untuk ini," jawabnya.


"Sudah kuduga lo ada maunya. Nyesel gue udah muji lo dalam hati," ucapku kesal.


Pras tertawa kecil, lalu membingkai wajah ini dengan kedua telapak tanganya. "Mulai sekarang, kau harus mengurus dirimu sendiri," ujarnya, "Karena aku tidak akan menyuapimu lagi. Aku harus pergi membantu Juna, atas masalah yang sedang menimpanya."


Mataku membulat, apa yang terjadi pada Pak Juna? Aku cemas dan khawatir, bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Ya Allah lindungilah Pak Juna dimanapun ia berada.


"Masalah apa yang sedang Pak Juna hadapi?" selidikku.


"Kau akan tahu nanti, setelah semuanya selesai," jawabnya membuat rasa penasaran di hati ini semakin menjadi.


"Tapi Pras, Pak Juna bagaimana?" tanyaku cemas.


"Kau tenang saja dia baik-baik saja. Nay, aku harus pergi sekarang. Jika kau butuh apa-apa bilang saja pada pembantu disini, namanya Bi Inah. Jaga dirimu baik-baik!"


Pras beranjak pergi keluar dari kamar ini, sambil menelpon seseorang. Sempat kudengar ia mengumpat, "Perempuan sialan!" Entah siapa yang berbicara di telpon dengannya dan siapa perempuan yang dia maksud.


Tiba-tiba Pras kembali, lalu berkata, "Ingat Nay, jangan keluar dari rumah!"


"Kenapa?" tanyaku. Bukannya menjawab Pras malah pergi dengan langkah tergesa, aku jadi semakin khawatir. Semoga semuanya baik-baik saja.


"Duh bau apa ini?" gumamku saat hidung ini memcium bau tak sedap menyebar di kamar ini. "Apakah ada jin di sini?"


"Huaaaaaaa!" teriakku histeris.


Tiba-tiba seseorang datang, lalu membuka pintu. Seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh menghampiriku. "Ada apa non teriak-teriak?" tanyanya cemas.


Oh, ini pasti Bi inah. Aku nyengir, memamerkan gigi gingsulku yang kelihatan manis. "Enggak bi, Nay cuma mau mandi. Badan Nay bau udah seminggu gak mandi," jawabku.


"Masyaallah neng!" Bi inah geleng-geleng kepala..

__ADS_1


"Abis Nay kesel sama si Pras," ucapku.


"Yasudah, bibi siapkan airnya ya," ujarnya.


"Gak usah bi, biar Nay sendiri aja," tolakku halus.


"Udah non tunggu disini saja. Biar bibi yang siapkan," kekehnya.


"Baiklah kalau bibi memaksa," ujarku, "Bikin seneng aja."


Bi inah terkekeh, lalu pergi ke kamar mandi menyiapkan air hangat untukku pakai mandi. Aku pun mengambil handuk dan baju ganti yang selalu Pras bawakan, saat Bi inah memberitahu bahwa airnya sudah siap.


Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, lalu mulai melepas semua pakaianku setelah pintu kututup rapat. Lalu berendam di bak mandi yang berisi air hangat, juga wewangian aromaterapy. Bi inah memang tahu apa yang kubutuhkan.


Merelaksasi sejenak tubuh dan pikiran dengan berendam sambil memejamkan mata, menikmati kesegaran yang kurasa hngga tak sadar seseorang masuk. Aku kaget bukan main saat orang itu mendekat ke arahku, menggunakan hoodie hitam dengan wajah yang tertutup masker.


Saat bibir ini hendak berteriak, orang itu membekap mulutku. "Jangan berteriak!" bisiknya.


Suara itu, seperti seseorang yang tak asing. Tapi siapa ya? Jangan-jangan dia penculik itu lagi. Bagaimaa kalau dia ingin memperkosaku lagi? Tidak! Mana aku sedang tidak menggunakan apapun.


Aku tercengang saat orang itu melepaskan masker, juga hoodie yang menutupi kepalanya. Ia tersenyum manis padaku, terlihat kilatan rindu di matanya.


"Pak Juna!" pekikku.


"Jangan keras-keras bicaranya, nanti ketahuan," ujarnya.


Aku sontak menutup mulut, rindu yang selama ini kutahan kini terbalas sudah. Karena Pak Juna sedang berdiri di hadapanku saat ini. Tapi apakah ini nyata atau hanya khayalanku semata?


"Ini beneran bapak? Aku gak lagi halusinasi kan?" cecarku.


"Iya ini beneran aku, Arjuna gak pake buaya," jawabnya.


Lah, sejak kapan bos jutek itu jadi kocak begini? 


"Bapak kok baru kesini?" tanyaku, "Aku dikurung di sini selama berhari-hari sama si Pras." Aku mengerucutkan bibir, mulai merajuk padanya.


"Apa jangan-jangan bapak gak nyariin aku? Seneng ya aku menghilang? Biar bapak bisa mesra-mesraan sama si Ang..." ucapanku terhenti manakala Pak Juna mendaratkan kecupan di bibirku.


"Kamu gak capek ngomong terus?" tanyanya. Aku menggelengkan kepala dalam keterpakuanku.


Pak Juna berjongkok, tangannya terulur memegang tanganku. "Betapa khawatirnya aku saat kembali, kedua mataku ini tak melihat keberadaanmu. Aku berteriak memanggil namamu, kutanyai setiap orang yang ada di sana, tapi tak satu pun melihatmu."


"Berhari-hari aku seperti anak bebek yang kehilangan induknya, mencari kemana-mana tak kunjung kutemukan," ujarnya, "Hingga aku terpaksa menghentikan pencarian, karena Pras menelponku bahwa telah terjadi masalah serius di kantor."


Pak Juna terus menjelaskan. "Aku dilema saat itu, antara mencarimu atau memeriksa masalah apa yang terjadi. Akhirnya aku putuskan untuk menemui Pras dahulu, lalu ia memberitahuku bahwa kau berada di tempat yang aman."


"Lalu kenapa bapak tak kunjung menjemputku?" tanyaku kesal.


"Pras tidak memberitahuku keberadaanmu, katanya demi keamananmu," jawabnya, "Tapi rindu ini sudah tak bisa kubendung lagi. Aku diam-diam masuk ke bawah jok mobilnya, lalu tibalah di sini. Sebenarnya aku panik saat melihat dokter Aryo datang ke mari, aku takut terjadi sesuatu padamu."


"Dan bapak diam saja?" tanyaku geram.

__ADS_1


Pak Juna nyengir, sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Ya maaf."


"Gak ada maaf-maaf. Aku sakit gara-gara nahan kangen sama bapak," ucapku sambil mengibaskan tangan.


"Sayang, sekarang bukan waktunya ngambek. Aku harus pergi, waktuku tidak ba-" ucapan Pak Juna terpotong seiring suara ketukan di pintu. Aku dan Pak Juna saling melempar pandangan.


"Nay, apa kau ada di dalam?" tanya seseorang dari balik pintu. Aku yakin dia Pras. 


"Pras, a ... aku sedang mandi. Jangan masuk!" 


"Kenapa kau masih disini?" tanyaku.


"Ah ya, aku ketinggalan sesuatu," jawabnya.


"Oh."


"Ya. Aku pergi dulu," ujarnya. Lalu terdengar suara langkah kakinya menjauh.


Haaacih! Suara bersin Pak Juna yang sangat keras, membuat Pras kembali mendekat. "Itu suara siapa Nay?"


Pak Juna refleks menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Em ... itu aku Pras."


"Tapi terdengar seperti suara laki-laki," ucapnya, "Kau baik-baik saja Nay?"


"Jangan khawatir Pras, aku cuma kedinginan," balasku.


"Ya sudah. Jangan lama-lama mandinya," ujarnya sambil berlalu. 


Aku dan Pak Juna menghela nafas lega, lalu saling menatap. Tangan Pak Juna terulur menyentuh pipiku. "Sayang, aku harus pergi sekarang."


"Tapi Pa-" ucapanku terhenti saat Pak Juna mengecup bibir ini secara tiba-tiba.


Suka betul menciumku secara tiba-tiba Pak.


"Setelah semua masalahnya selesai, kita akan punya lebih banyak waktu. Kita habiskan sepanjang waktu untuk bersama," ujarnya.


Aku mengangguk pelan. Sedikit kecewa, namun Pak Juna benar. "Pergilah, aku akan menunggumu di sini."


Seulas senyum mengembang di bibir Pak Juna, ia mengacak gemas rambutku. "Aku pergi."


Pak Juna beranjak, mulai melangkah meninggalkanku yang tak henti memperhatikannya. Saat tangannya terulur memutar knop pintu, ia memutar badannya kembali menghadapku.


"Nay."


Aku mendongak menatap wajahnya. "Apa Pak?"


"Tidak. Hanya ingin memanggilmu saja," ujarnya lalu keluar setelah membuka pintu.


Aku tersenyum, berkata dalam hati, 'Semoga masalahnya lekas selesai Pak.'

__ADS_1


__ADS_2