Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 16


__ADS_3

Author PoV


Pria dibalik kemudi itu tengah mengerang sambil mengacak rambutnya frustasi, dia Arjuna.


"Aaaaaaargh."


'Bodoh! Disaat seperti ini kau malah meninggalkan Nay, dan membiarkannya bersama abangmu,' batinnya bergejolak.


"Aku harus kembali," gumannya. 


Juna memutar balikkan kendaraannya, tanpa melihat situasi lalu lintas di sekitarnya. Hingga tak melihat kendaraan lain dari jalur yang berlawanan. Aktivitas berkendara pun seketika berhenti, semua pengendara berkerumun di tempat kejadian. Seseorang mencoba membantu dan membawa Juna ke rumah sakit terdekat. 


Nay yang tengah berbaring mendadak bangun mendengar suara dering ponsel. Melihat nama yang tertera di layar membuatnya kegirangan.


"Hallo, Pak. Bapak dimana?" tanyanya sesaat setelah ia menerima panggilannya.


"Hallo Anailla, ini saya Jordan. Pak Juna mengalami kecelakaan. Kini sudah dibawa ke Rumah Sakit Harapan Indah."


"Apa?" Nay memekik kaget. Bola matanya membulat, lututnya lemas. Ponselnya terjatuh dari genggaman.


"Pak Juna..." gumamnya. Lantas ia bergegas pergi menyusul Juna ke rumah sakit. Tak lupa ponselnya yang terjatuh ia bawa.


Saat sampai dihalaman rumah, Nay kebingungan. "Bagaimana caraku kesana? Motorku dirumah Abah. Cari ojek atau taksi udah malam," lirihnya.


Dalam hatinya berifikir untuk menelpon Pras, karena mungkin keberadaannya belum jauh dari rumah. Tapi tidak! Dia tak boleh berhubungan lagi dengan Pras.


Setelah menimang-nimang akankah ia menelepon Pras atau tidak, akhirnya ia menyerah. Mencari riwayat panggilan, dan ketemu. Ia langsung memencet tombol panggil.


"Pras, ke rumah sekarang!" titah Nay ketika panggilan telepon tersambung.


"Akhirnya kamu memilihku Nay," suara Pras diujung telepon, kegirangan.


"Ish, kepedean kamu. Pak Juna kecelakaan, sekarang berada di rumah sakit. Aku gak ada motor, kendaraan umum jarang kalau udah malem begini. Cepetan!"


"Baik, aku kesana sekarang." Pras khawatir mendengar kabar bahwa Juna kecelakaan. Ia langsung tancap gas dengam kecepatan tinggi menuju rumah adiknya, karena kebetulan ia pergi belum terlalu jauh. 

__ADS_1


Hingga dalam hitungan menit mobilnya sampai di depan rumah Juna. Disana Nay tengah berdiri menunggu. Pras membuka jendela mobilnya, lalu membunyikan klakson. "Ayo naik!"


Nay langsung berlari, masuk ke dalam mobil yang Pras kendarai. "Rumah Sakit Harapan Indah. Cepat!" ucap Nay yang baru saja duduk di samping Pras.


"Oke." tanpa banyak bicara, Pras melajukan mobilnya kencang. 


"Kamar pasien atas nama Arjuna Pradipta, yang mengalami kecelakaan barusan dimana?" tanya Nay pada resepsionis, ketika baru saja sampai di rumah sakit.


"Kamar Vip Delima no 32," jawab resepsionis.


Nay dan Pras tergesa-gesa menuju ruangan dimana Juna dirawat. Mereka langsung masuk, dan disana terlihat Jordan tengah berdiri di samping brankar dimana Juna terbaring. "Bagaimana keadaan Pak Juna?" tanya Nay khawatir.


"Duduk disini!" titah Jordan sambil menunjuk kursi disebelahnya, Nay pun menuruti perintah managernya.


"Pak Juna tidak apa-apa, untungnya hanya beberapa luka kecil saja. Tak ada luka yang serius maupun luka dalam. Sebentar lagi siuman," jelas Jordan.


Nay menghela nafas lega, lalu menggenggam tangan suaminya. "Syukurlah."


"Saya pamit pulang dulu, istri saya pasti khawatir. Semoga Pak Juna cepat sembuh." Pria yang baru beberapa minggu menikah itu berpamitan. Nay dan Pras mengangguk tanda setuju.


"Kenapa pria itu ada disini Nay?" tanya Juna.


Nay tergagap, "Itu ... Em, Pras ...," 


"Nay panik lalu meneleponku. Karena jam segini sudah jarang kendaraan umum lewat," seloroh Pras.


Juna diam tak berkata apapun, namun matanya mendelik tajam pada sang istri. Sedangkan Nay sendiri, hanya tertunduk lemas tak mampu menatap wajah suaminya. Dalam batinnya berpikir, seharusnya ia tak menelepon Pras.


"Sudahlah tak perlu marah padanya. Nay bingung harus menghubungi siapa, makanya dia menghubungiku." 


"Aku pulang dulu, nanti kuberitahu mama dan papa. Kita lanjutkan pertarungan kita setelah kau sembuh. Ingat! Aku belum menyerah," imbuh Pras. Lalu melengos pergi meninggalkan Juna dan Nay yang tengah dirundung keheningan.


"Pak..." panggil Nay lirih. Namun Juna tak menghiraukannya, ia mengalihkan pandangan. Nay menatapnya sendu, "Aku minta maaf,"


"Sudahlah, aku ingin istirahat." Juna memejamkan matanya.

__ADS_1


Pov Nay


Nyesek rasanya di acuhkan semalaman sama Pak Juna, hingga sekarang pun masih sama. Disuapi bubur, nolak. Disuapi obat, gak mau. Please Pak, Nay gak kuat diginiin.


Ini gara-gara si Pras buaya itu, enak aja pakai ngejar-ngejar aku segala disaat hati ini milik si Bos. Tapi aku berasa bidadari nih di rebutin. Ahay! Udah ah fokus sama kesehatan Pak Juna.


"Pak, maafin Nay. Nay semalam panik, mau kesini gak ada motor. Nungguin taksi sama ojek gak nemu karena udah malam. Terpaksa aku hubungin Pras, karena mungkin dia masih belum pergi jauh dari rumah," jelasku dengan tatapan memohon.


"Hmmm." Pak Juna hanya membalasnya dengan deheman.


"Sekarang sarapan dulu ya, kan harus minum obat biar cepet sembuh. Kita kan belum nganu Pak," bujukku.


Pak Juna mengernyitkan kening, "Nganu apa?" tanyanya dingin.


"Itu Pak, olahraga malam. Ya olahraga," jawabku sambil memainkan ujung jari. Lagian ini mulut kebangetan polosnya, main bilang aja. Kan kalau sampai Pak Juna mau ya alhamdulillah. Eh!


Kulihat Pak Juna sedikit menahan tawa. Hati ini lumayan lega, si Bos mah suka pura-pura gitu. Kalau mau ketawa mah, ya ketawa aja. Gengsi!


"Suapin!" pintanya. Akhirnya Pak Juna mau makan juga. Aku menyodorkan sendok berisi secuil bubur ke mulutnya, tapi dia menggeleng. Loh kok?


"Katanya mau makan disuapin?" tanyaku heran.


"Bukan pakai sendok," jawabnya.


"Pakai tangan?" Ia menggeleng. 


"Pakai sekop?" matanya melotot tajam, ngeri.


"Pakai itu!" ia menunjuk bibirku. 


"Ya Allah, masa nyuapin pakai mulut. Yang bener aja Pak," ucapku kaget.


"Ya sudah, aku gak mau makan," tegasnya sambil membuang muka.


Cih! Seperti anak kecil saja kelakuannya. Aku pun mengalah, "Baiklah."

__ADS_1


Mata Pak Juna berbinar senang, kenapa ya dia? Tadi ekspresinya marah, sekarang beda lagi. Gak ngerti deh gue!


__ADS_2