Terjebak Cinta Bos Imut

Terjebak Cinta Bos Imut
Part 22


__ADS_3

Ketika motor yang kami tumpangi baru saja meninggalkan area rumah, kulihat di depan sebuah mobil mewah dengan bak terbuka menuju ke arah rumah.


Ketika motor yang kami kendarai hampir dekat dengan mobil itu, aku melihat sosok tak asing dibalik kemudinya. Ternyata dia adalah gadis kemarin yang mencium Pak Juna.


Sontak aku memeluk Pak Juna dengan erat. Agar gadis bernama Angel itu melihat keromntisan kami.


"Tumben langsung meluk?" tanyanya.


"Biar gak diambil kucing garong," jawabku.


Pak Juna terkekeh, aku pun tersenyum dibalik punggungnya. Saat kendaraan kami berpapasan, Anggel menoleh, lalu berteriak memanggil Pak Juna dan menghentikan mobilnya.


 Tapi Pak Juna sama sekali tak menggubrisnya, ia tetap fokus menyetir. Hatiku bahagia, ternyata Pak Juna bisa menjaga pandangan. Mungkin waktu itu dia saja yang kegatelan.


Aku menoleh kearahnya, menyunggingkan senyum kemenangan. Lalu melambaikan tangan padanya. "Tatah!" 


Rasain di cuekin Pak Juna. Kulihat Angel merengut kesal, lalu kembali melajukan mobilnya kencang. Aku tertawa puas.


Hingga Pak Juna bertanya, "Kenapa Nay ketawa-tawa?"


"Abis lihat kucing marah," jawabku.


Tawa Pak Juna pecah, "Ada-ada saja kamu,"


"Abis seenaknya aja peluk-peluk suami orang, pakai acara cium-cium juga lagi. Nyosor terusss!" ujarku.


"Cemburu nih ceritanya?" tanyanya.


Aduh ketahuan lagi kan. "Udah ah cepetan, entar telat," ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Siap bu negara!" serunya.


Kami pun menikmati perjalanan romantis kami dengan tenang. Aku terkejut ketika kami baru saja tiba pintu masuk hotel.


'Selamat datang pengantin baru. Happy wedding!"


Kedatangan kami di sambut oleh ucapan selamat, yang memenuhi hampir seluruh lobi hotel. Ada yang membawa kado, bunga, dan kulihat lusi datang membawa sebuah cake.


"Hai pengantin baru! Gimana malam-malamnya lancar?" selorohnya.


"Gila loe! Nanya begituan di depan umum, malu gue," hardikku.


Lusi dan karyawan lain tertawa, Pak Juna pun ikut tersenyum. Sedangkan aku, wajahku sudah bagaikan kepiting rebus. Ada rasa malu, tapi senang disambut begini.

__ADS_1


"Ya sudah, potong nih kue nya. Kita makan-sama sama," pungkas Lusi.


Aku dan Pak Juna memotong kue bersama, lalu membagikannya pada seluruh karyawan. Hatiku terharu, melihat mereka ikut bahagia atas pernikahan kami.


"Hari ini kalian semua kutraktir. Kita makan-makan," ujar Pak Juna.


Mereka semua bersorak riang. Lalu berondong-bondong masuk ke restoran yang ada di hotel ini. Aku dan Pak Juna saling melempar senyum, lalu berjalan mengikuti mereka.


Setelah melewati acara makan, semua orang kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Hanya aku dan Pak Juna yang masih duduk, karena dia menahanku pergi.


"Besok saja mulai kerjanya," katanya.


"Memangnya kenapa Pak?" tanyaku.


"Setelah ini aku akan membawamu ke tempat lain," jawabnya.


Aku bertanya lagi, "Kemana Pak?"


"Rahasia," jawabnya lalu mengajakku beranjak. Sebelum sempat kami melangkah, seseorang memanggil Pak Juna. Orang itu adalah Pak Jordan. Dia menyapaku, lalu memeluk akrab Pak Juna. 


"Jordan sahabatku Nay," kata Pak Juna seolah tahu pikiranku.


Pak Jordan mengulas senyum padaku. "Sorry, gue gak ikut kalian makan bareng. Bini gue pingsan tadi, jadi gue langsung bawa dia ke rumah sakit. Setelah keadaannya dinyatakan baik, gue langsung kesini," pungkasnya.


"Kenapa sama istrinya Pak?" tanyaku pada Pak Jordan.


"Dia positif hamil, baru dua minggu," jawabnya.


"Oh, selamat ya Pak," ucapku.


"Terima kasih. Next time gue ingin dengar berita bahagia ini dari kalian," ujarnya.


"Iya Pak, sedang kami usahakan," ucapku.


"Usahakan gimana, menabur benih aja belum," ucap Pak Juna dengan raut wajah datar. Aku menginjak kakinya keras, bisa-bisanya dia membongkar rahasia pada temannya.


Pak Juna meringis, "Sakit Nay,"


Pak Jordan tertawa, "Masa sih bro? Nikah udah hampir seminggu belum masuk,"


"Udah kerja sana! Gue potong gaji loe," usir Pak Juna.


Pak Jordan mendelik, "Iya, iya. Galak banget loe,"

__ADS_1


"Mari Nay," pamitnya. Aku mengangguk, lalu menyunggingkan senyum. Pak Jordan pun melengos pergi, setelah mendapat ancaman dari Pak Juna.


Pak Jordan menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik menoleh pada kami. "Hati-hati Nay, Juna adalah seekor rubah," teriaknya lalu berlari terbirit-birit, melihat Pak juna tengah menggulung lengan kemejanya.


Pak Juna mengamit lenganku, "Ayo kita pergi!" Kami pun kembali menumpangi motor sport milik Pak Juna, dan melaju bebas di jalanan.


Aku terheran, saat Pak Juna menghentikan motornya di area parkir sebuah perusahaan bertuliskan 'ArP Group'. "Kenapa kesini Pak?" tanyaku.


"Ayo masuk saja!" Pak Juna menarik pelan tanganku, lalu berjalan memasuki gedung perusahaan.


Saat kami masuk, para karyawan memberi hormat pada kami. Tepatnya pada Pak Juna. Aku yang masih merasa heran, memasang raut wajah bingung.


Pak Juna membawaku masuk ke dalam lift khusus eksekutif, jadi tak perlu berdesakkan berada di dalamnya. 


Saat tiba di lantai 4, pintu lift terbuka. Kami keluar, lalu masuk ke ruangan yang bertuliskan 'Ruangan CEO'.


Aku menatapnya penuh tanya. Pak Juna membawaku duduk di sofa. Letaknya membelakangi jendela yang keseluruhannya terbuat dari kaca, pemandangan diluar begitu jelas terlihat dari sini.


"Aku CEO diperusahaan ini. Anak cabang dari perusahaan Adijaya Group, milik papa mertuamu --Husein Adijaya-. Aku, Pras dan Tisha masing-masing memegang satu kantor cabang. Hanya saja Tisha saat ini belum sepenuhnya mengelola perusahaan, karena masih kuliah," terangnya.


Aku mengangguk-anggukan kepala. Meskipun aku kuliah jurusan perhotelan, tapi sedikit mengerti tentang bisnis management. "ArP itu apa Pak?" tanyaku.


"Namaku lah, Arjuna Pradipta," jawabnya.


"Perusahaan ini bergerak dalam bidang properti, tapi terkadang juga mengambil tender di dunia entertaiment. Memang perusahaan ini belum sebesar milik Pras yang bergerak dalam bidang kontruksi, karena aku merintisnya dari nol," pungkasnya.


Aku berdecak kagum, ternyata suamiku ini selain imut dan menggemaskan juga seorang pengusaha. Tapi, satu pertanyaan muncul dalam benak ini. Sejak usia berapa dia merintis karirnya? Secara usia Pak Juna baru 25 tahun.


"Aku mulai terjun dalam dunia bisnis, saat baru tamat SMA. Aku mengelola perusahaan sambil kuliah," ujarnya ia selalu mengerti apa yang kupikirkan.


"Lalu hotel itu?" tanyaku penasaran.


"Hotel itu aku beli saat pemiliknya yang dulu mengalami kebangkrutan. Saat itu harga jualnya sangat murah. Aku membelinya dengan uang tabungan yang kusimpan selama aktif membuat blog tentang dunia bisnis yang sangat menghasilkan," jelasnya.


Wow! Pak Juna ternyata mempunyai prestasi yang tinggi. Aku kembali mengajukan pertanyaan padanya, "Sekarang masih bikin blog?"


Ia menggeleng, "Sudah berhenti sejak aku mulai mengelola hotel dan perusahaan bersamaan. Aku tak punya banyak waktu untuk itu, makanya segala urusan hotel pun aku memakai jasa Jordan. Itulah sebabnya mertuamu menjodohkanku dengannu, karena aku tidak punya banyak waktu untuk mencari wanita,"


"Jadi, aku adalah perempuan pertama yang singgah dihatimu?" tanyaku dengan mata berbinar.


"Tentu saja, bukan," jawabnya enteng.


Seketika wajahku tertunduk lesu, ternyata aku terlalu percaya diri. Pak Juna mengulurkan tangannya, menyentuh pipiku. Lalu berkata, "Kau yang terakhir,"

__ADS_1


__ADS_2