Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Mengubur Perasaan


__ADS_3

Dimas mencekal kedua pergelangan tangan Luna dan membuat wajah keduanya kembali bertemu, kembali sangat dekat. Luna bisa merasakan kehangatan dan aroma pepermint dari napas Dimas.


"Apa kamu serius cuma mau dianggap Mama, Luna? Cuma mau dianggap ibu tiri?" Dimas bertanya. Jantungnya kian bergemuruh saat menunggu jawaban Luna.


Luna tercekat karena suaranya tertahan di tenggorokan. Luna tak bisa menjawab, karena sebenarnya ia sangat mencintai Dimas dan sangat mengidolakan pemuda itu. Namun kini ia adalah istri Surya, sudah bukan lagi gadis jomblo yang bisa menerima pernyataan cinta pria mana pun lagi. Cincin emas bertahtakan berlian yang kini melingkar pada jari manisnya adalah bukti dari janji suci penikahannya dengan Surya.


Tapi, apa maksud Dimas bertanya hal itu? Apa Dimas sedang menguji kesetiaan Luna pada Papanya? Jangan-jangan ini semua adalah akal Dimas menyingkirkan Luna dari sisi Surya?


Luna menundukkan kepala, tangannya mencengkram erat gaun tidur yang kini sedikit melorot.


"Aku ini mama kamu, Dim. Dan aku sayang sama Papa kamu." Luna membuang wajahnya, tak bisa menatap mata elang Dimas. Luna takut akan menyerah pada pemilik mata itu.


"Kalau itu jawabanmu, aku bisa apa." Dimas melepaskan Luna, ia membetulkan tali gaun tidurnya.


Luna kembali bernapas dengan lega, ia menghirup udara sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-parunya yang sempat kosong karena tegang.


"Susunya ... aku buatin dulu, Dim." Luna menggosok tengkuk sebelum kembali berkutat dengan gelas.


"Nggak usah, Ma. Dimas nggak jadi!" Dimas bergegas meninggalkan Luna kembali ke kamarnya.


Luna menatap gelas berisi susu coklat hangat, permukaannya masih berputar karena adukan barusan. Sayang sekali, pemiliknya tak mau meminum coklat itu. Luna menitikkan air mata, ia menekan kuat-kuat perasaannya. Menekan kuat-kuat dadanya yang memberontak. Ia tak boleh goyah, tak boleh mengecewakan Benny karena mengikuti egoismenya.


Ah ... cinta tak hanya membuat manusia bisa merasakan kebahagiaan, namun juga kesedihan yang begitu besar.

__ADS_1


...******...


"Pagi, Pa." Dimas sudah rapi dan wangi. Outfit hari ini menggunakan kaos putih dengan kemeja kotak-kotak merah sebagai outer, celana jeans pensil dan juga sepatu kets putih.


"Pagi, Dim."


"Mama mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Dimas, tumben Luna tak menyiapkan sarapan bagi mereka berdua. Biasanya pagi-pagi Luna sudah memasak dan meladeni Surya dan Dimas.


"Luna pergi pagi-pagi untuk menjenguk papanya di rutan. Hari inikan jadwal besuk." Surya menjawab sembari asyik membaca koran. Sesekali ia membalik lembaran koran.


"Oh, Papanya yang kena kasus korupsi itu ya, Pa. Sahabat papa dulukan?" tanya Dimas. Surya mengangguk.


.


.


.


"Mana fotonya, Nak??" Benny mencerca Luna, padahal meletakkan bokongnya saja belum.


"Ini, Pa." Luna terlihat gembira saat melihat kondisi papanya yang jauh lebih baik dari pada kemarin terakhir Luna menjenguknya.


Benny manggut manggut senang melihat foto-foto berisikan prosesi akad nikah Luna dengan Surya. Juga foto-foto prewedding dan honeymoon. Benny sungguh bersyukur karena putrinya menikah dengan seorang pria yang bisa diandalkan.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali, Nak."


"Masa sih?"


"Sama seperti mamamu dulu, cantik sekali."


"Itu karena make upnya, Pa."


"Enggak kok, beneran manis. Papa penasaran, seperti apa cantiknya anakmu kelak kalau kamu melahirkan, Nak." Benny mengelus punggung tangan Luna.


"Makanya, Papa harus lekas keluar dari penjara supaya bisa melihat cucu papa." Luna tersenyum manis, tak ingin memberatkan hati Papanya. Ingin membuat pria itu tetap bersemangat.


"Oh, ngomong-ngomong masalah keluar dari penjara. Sidang papa sudah akan di mulai. Pengacara yang disewa Surya telah menghubungi pihak Hakim dan Jaksa. Mereka akan mempertimbangkan status hukuman Papa mengingat papa juga pernah menjadi bagian dari mereka. Ah ... Surya sungguh menggelontorkan banyak uang untuk Papa, Nak." Benny mengatakan kabar baik pada Luna.


Luna merasa bersyukur, ia hampir menangis bahagia saat mendengar hal ini.


"Makasih ya, Nak. Papa cuma bisa doain kebahagiaanmu dari sini bersama dengan Surya."


"Jangan berterima kasih sama Luna, Pa. Terimakasih sama suami Luna. Luna tak melakukan apa pun." Luna menaruh telapak tangan Surya pada pipinya.


"Iya, besok papa akan berterima kasih kepadanya."


Keduanya kembali mengobrol, tanpa terasa jam besuk sudah berakhir. Luna pun harus pergi dari rutan. Di jalan, Luna melihat ke arah luar jendela. Ia bersyukur tidak mengikuti egoismenya untuk terseret oleh perasaannya pada Dimas.

__ADS_1


Ya, Luna bertekat akan berterima kasih pada Surya dengan cara menjadi istri yang baik dan setia. Ya melayani suaminya dengan sepenuh hati dan penuh dengan penundukan. Luna akan mengubur hati dan perasaannya pada sosok bintang yang bersinar terang itu.


... -- BERSAMBUNG --...


__ADS_2