
"Sudahlah, jangan sedih. Bukankah kamu ke sini juga untuk melepas penat, Sayang." Dimas mengecup punggung tangan Luna. Luna merasa jauh lebih tenang setelah merencanakan kehamilan dengan Dimas.
"Iya."
"Nah sekarang senyum yang lebar, biar aku nggak khawatir lagi." Dimas tersenyum ia menempelkan dua jari telunjuk ke sudut bibir Luna dan menariknya hingga gadis itu tersenyum juga.
"Apaan sih, Dim? Malu tahu di lihatin orang." Luna menepuk lengan Dimas.
"Hehehe, nah kan lebih cantik kalau kamu tersenyum begini." Dimas terkikih, Luna begitu imut dengan tingkah malunya yang mirip kucing.
"Ayo kita jalan-jalan. Meski hanya kota kecil namun kota ini cukup indah dan ramai. Di dekat perumahan ada food festival dan hiburan rakyat. Mau ke sana?" tanya Dimas memberi usulan. Tentu saja Luna mau, ia sudah lama sekali tak pergi ke pasar malam. Pasti sangat asik.
"Oke."
Keduanya melanjutkan perjalanan ke apartemen Dimas, namun sebelumnya mereka mampir ke pasar malam dan menikmati suasana food festival dan juga wahana game-game seru yang menghibur. Luna melepaskan segala penat yang selama seminggu membuatnya susah bahkan untuk sekedar bernapas. Rasanya sesak sekali.
Keduanya bagaikan pasangan pengantin baru yang lagi mesra-mesranya. Dimas menggandeng Luna dimana pun dan kemana pun seakan takut kalau ada cowok lain yang mendekatinya. Mereka memang bebas mengekspresikan cinta karena tak ada siapa pun yang mengenal Dimas atau pun Luna di sana. Tak ada yang tahu kalau Luna adalah istri Dimas.
"SAKSIKAN PESTA KEMBANG API SEPULUH MENIT LAGI!!!" Suara dari speaker pengumuman membuat Luna tertarik. Wanita itu menaruh jagung bakarnya ke atas piring sekali makan untuk memasang telinga lebih tajam.
"Dim, ada pesta kembang api, Dim." Luna menggoyang lengan Dimas, membuat Dimas yang lagi asyik makan sate baby gurita pun menoleh.
"Ah, benar, ada kembang api." Dimas lekas melahap sisa satenya sebelum mengelap mulut dan mengajak Luna berdiri. "Ayo mendekat, biar lebih jelas."
__ADS_1
Keduanya pun semakin dekat ke arah panggung hiburan. Masih ada biduan dangdut yang bergoyang sembari menyanyi kan lagu terakhirc musiknya menghentak dan asyik sekali. Luna terkekeh saat Dimas mulai bergoyang.
"Ayo, seru kok," ajak Dimas menarik tangan Luna, mengajaknya ikut bergoyang seperti orang lain.
Luna tertawa, ia bergeleng menolak permintaan Dimas. Selain malu Luna juga tak jago menari apa lagi bergoyang. Namun Dimas nekat menarik tangan Luna supaya mereka bisa semakin ke tengah.
Biduan bernyanyi semakin cepat mengikuti beat musiknya. Sementara itu, Dimas bergoyang di belakang Luna, membuat Luna perlahan ikutan bergoyang.
"Gimana? Asyik jugakan?"
"Iya." Luna menutup pulut menyembunyikan tawa lebar karena bahagia. Ia masih malu malu kucing meski pun ternyata Luna sangat senang hanya karena menggerakkan kakinya ke kanan kiri kanan kiri, dan menggoyangkan lengannya mengikuti irama musik. Ah, rasanya senang sekali.
DORR!!! DORR!!!
Dimas memeluk pinggang Luna dari belakang, menaruh dagunya di atas kepala Luna. Luna meletakkan tangannya di atas pelukan Dimas. Matanya berbinar, membiaskan pantulan kembang api yang semarak. Semua orang terlihat bahagia, mereka mengabadikannya dalam video ponsel. Tapi Luna dan Dimas memilih untuk diam dan menikmati keindahan itu berdua.
"Indah sekali." Luna tersenyum.
"Bahagianya aku bisa menikmatinya berdua denganmu." Dimas memutar tubuh Luna, kini keduanya saling berhadap-hadapan. Dimas merasa sangat bahagia saat menatap wajah cantik Luna yang berseri bahagia, ah, wanita ini memang lebih cocok saat ia tersenyum dari pada menangis. Ingin rasanya Dimas membuat wajah elok itu terus melebarkan senyumnya. Sayangnya perjalanan Dimas untuk bisa membuat Luna selalu bahagia akan sangat panjang dan terjal.
"Aku cinta sama kamu, Luna." Dimas mengelus pipi Luna dan mencubit dagunya. Tanpa menunggu jawaban Luna, Dimas mengecup bibirnya dengan lembut. Luna menikmati kecupan Dimas hingga perlahan, kecupan itu berubah menjadi ******* yang dalam dan penuh cinta.
DOR!! DOR!!
__ADS_1
Kembang api kembali di tembakkan, menjadi bakground yang indah bagi ciuman penuh cinta mereka malam ini. Saat itu hanya kebahagiaan yang menyeruak masuk ke dalam hati. Tak ada yang Luna pikirkan selain Dimas, dan tak ada yang Dimas pikirkan selain Luna. Keduanya terlalu mabuk dengan rasa cinta seindah bunga opium, yang membius dan memabukkan hingga melupakan segalanya.
(Sumber: pinterst)
"Aku juga mencintaimu, Dim." Luna memeluk Dimas, keduanya menikmati sisa peluncuran kembang api untuk merayakan hari jadi kota kecil itu.
Jemari saling tertaut.
Netra saling mengunci.
dan ...
Sekali lagi ... Bibir pun saling bertemu.
DOR!! DOR!!
Malam yang indah, bagaimana bisa dilupakan?? Tak ada yang harus di sesali, malam ini terlalu indah untuk dilewatkan.
"Ayo lanjutkan di rumah. Aku akan menghamilimu, Sayang." Dimas menggoda Luna yang langsung menyambut ajakannya dengan senyuman manis.
...-- BERSAMBUNG --...
__ADS_1