
Luna menelan ludahnya dengan berat, isi dari novel-novelnya adalah curahan hatinya dan juga ketidakberdayaannya meraih cinta. Dan sosok main charakter pria nya selalu adalah Dimas. Karena bagi Luna, Dimas selalu menjadi muse-nya.
Bila Dimas membaca novel itu, apakah Dimas akan mengetahui isi hatinya? Dan kalau Surya membaca novelnya, apakah dia akan sadar kalau istrinya selalu membayangkan orang lain?
"Gimana, Ma? Boleh apa nggak Dimas baca??"
“Tidak, jangan, aku malu.” Luna menolak memberikan nama penanya pada Surya dan Dimas.
“Kenapa harus malu??” Surya terkikih, Dimas mengangguk juga.
“Seharusnya Mama bangga bisa menulis. Aku bisa memamerkan karya mama pada semua teman-temanku!” Imbuh Dimas.
“Tidak!! Aku biasanya membuat novel erotis!! Jadi jangan membacanya.” Wajah Luna memerah, ia mencari alasan dan hanya itulah yang terlintas di dalam benaknya saat ini. Meski pun ia sadar kalau bisa saja Surya dan Dimas pasti menganggap dia mesum, apa lagi ada pak sopir di dalam situ yang ikutan mendengar.
“Apa?? Nove erotis?”
“Hahaha … ternyata mama diam-diam menghanyutkan ya, Pa.” Dimas terbahak.
Luna menggigit bibirnya sebal, ia tahu kalau Dimas sengaja membuat Luna ketahuan oleh Surya hingga sang suami penasaran pada karyanya. Dimas tahu kalau Luna sering membuat novel dari Karina. Dimas kira dengan memberitahu sang Ayah perihal tulisan Luna yang selalu memakai karakter Dimas sebagai tokoh utamanya akan membuat Surya cemburu, tapi beruntung Luna bisa menutupinya.
“Sudah sampai, Den.” Sopir menyelamatkan Luna dari kecanggungan ini. Wanita itu langsung meloncat dari tempat duduk nya dan masuk ke dalam rumah.
Surya dan sopir di kediaman Prasetya membantu Dimas menapaki tangga teras pualam menuju ke dalam kamarnya. Di rumah Jaenap sudah menunggu kepulangan Dimas dengan wajah penuh syukur.
“Kamar tamunya sudah saya bersihin, Den. Lekas istirahat gih.” Jaenap membuka pintu.
“Oke, Bik. Makasih ya.” ucap Dimas, namun matanya mengikuti tubuh Luna yang menaikki tangga menuju ke lantai dua.
“Mama mau kemana?”
“Oh, Non Luna sekarang sedang hobi yoga, jadi kalau sore dia meditasi di atas.” Jaenap menjelaskan alasan Luna pergi ke atas. Di atas memang ada ruangan khusus olah raga, ga besar, beberapa isian alat gym sederhana, tridmill, dan juga area function untuk senam. Ruangan itu terbuat dari dinding kaca yang bisa melihat ke arah kolam renang dan taman belakang rumah.
__ADS_1
“Wah, seru juga.” Dimas tertarikz
“Sudah jangan ganggu mamamu! Kaki sakit mau apa?! Sana lekas istirahat. Papa harus kembali ke kantor.” Surya mengeplak kepala Dimas pelan.
“Papa nggak istirahat dulu? Papakan baru saja pulang.” Dimas kaget, Surya menjemputnya begitu pulang dari bandara dan sudah harus kembali ke kantor.
“Sebentar aja, papa harus tanda tangan beberapa cek pembayaran untuk membayar suplier dan gaji karyawan. Nanti kalau sudah kelar papa langsung pulang. Kita makan malam sama-sama." Surya menepuk pundak Dimas dan langsung kembali ke mobil. Sopir sudah menantinya membukakan pintu.
Sepeninggalan Surya, Dimas melihat ke lantai atas. Dengan kakinya dibalut gips, Dimas tak mungkin pergi ke lantai atas.
“Hm … kayaknya Luna sengaja menghindar.” Dimas menghela napas panjang. Dengan bantuan tongkat, Dimas masuk ke dalam kamar. Ingin memikirkan caranya membuat Luna mau menemaninya.
.
.
.
Surya sedang bercakap dengan Luna di ruang makan. Jaenap menggiring koper besar dan memberikannya pada Ruslan. Sekretaris kepercayaan Surya ini langsung estafet menggiring koper masuk ke mobil, ia melewati Dimas yang berdiri di depan kamar.
“Sudah harus pergi lagi ya, Pa?” tanya Dimas yang baru sana muncul di ruang makan. Ia menaruh tongkatnya dan duduk, Luna melayani Dimas dengan piring berisi roti panggang dan telur ceplok.
“Iya, papa harus ke luar pulau. Ada beberapa urusan pembebasan lahan dan pengukuran lapangan apakah sudah cocok dengan blue print-nya. Mungkin kali ini papa akan pergi selama satu atau dua minggu.” Surya mengunyah sarapannya?
“Mama nggak ikut, Pa?”
“Mama harus kuliah, jadi nggak bisa menemani papa.” Surya menghela napas, sebenarnya ia pun ingin kalau Luna bisa menemaninya. Tapi Luna tak mau ketinggalan pelajaran dan membuatnya harus mengulang mata kuliah. Ya, itu hanya akan memperlambat kelulusannya dan itu berarti upaya Surya untuk memperoleh keturunan dari rahim Luna pun akan tertunda. Jadi Surya memilih mengalah.
“Oh, gitu.”
“Titip Dimas ya, Sayang.”
__ADS_1
“Iya, Mas. Tenang aja.” Luna tersenyum pada suaminya.
Dimas tersenyum, kesempatannya untuk berduaan lagi bersama Luna kembali terbuka lebar.
.
.
.
Sepeninggalan Surya masuk ke dalam mobil. Luna kembali ke arah ruang keluarga. Dimas baru saja selesai sarapan. Pemuda itu berjalan tertatih dengan bantuan tongkat.
Saat ada di dekat Luna, tiba-tiba tubuh Dimas oleng dan …
BRUK!!
Dimas jatuh …
“DIMAS!!” Seru Luna kaget.
“Den Dimas!!!” Bibi Jaenap juga sama kagetnya.
“Aduh … duh!!” Dimas merintih kesakitan, wajahnya terlihat menegang karena menahan sakit.
“Cepet panggilin Mang Dadang supaya bantuin angkat Den Dimas ke kasurnya, Bik!” Perintah Luna.
“Baik, Non.”
“Dim … Dimas?? Kamu nggak apa kan Dim??” Luna sangat panik melihat kondisi Dimas. Kakinya terluka parah dan kini malah terjatuh.
“Aduh … sakit, sakit sekali!!!” keluh Dimas.
__ADS_1
... — BERSAMBUNG —...