
Kawin lari?
Tak pernah terbesit dalam benak Dimas ia akan mengajak Luna kawin lari, menjadi seorang pengecut yang tak bisa memperjuangkan cinta mereka. Namun Dimas seakan tak punya pilihan. Waktu yang seharusnya masih panjang mendadak berubah begitu Surya memutuskan untuk meminta anak dari Luna.
Dimas mulai mentok, pilihannya untuk keluar rumah dan memperjuangkan cintanya justru menjadi pedang bermata dua. Hingga Dimas yang frustasi mengajak Luna untuk pergi saja, menghilang dari dunia di sekeliling mereka. Merajut kisah cinta yang baru di tempat di mana tak ada yang mengenali keduanya.
"Kawin lari?" Luna menelan ludahnya berat, sebuah keputusan yang besar.
"Iya, bagaimana, Luna? Apa kamu mau?" Dimas menggenggam tangan Luna.
Luna menarik tangannya dari genggaman tangan Dimas. Bukan hal itu yang ingin Luna dengar, bukan penyelesaian itu yang ingin Luna jalani. Kawin lari itu berarti ia harus meninggalkan semuanya. Opsi itu sudah Luna buang jauh-jauh. Papanya adalah satu-satunya keluarga dalam hidup Luna.
"Nggak, Dim. Aku menikahi papamu karena ingin membebaskan papaku. Bila aku kawin lari denganmu, itu sama saja dengan aku membuang segala usaha dan juga rasa sakit yang aku tekan selama ini." Luna bergeleng, pengorbanannya hanya akan menjadi sia-sia bila berhenti di tengah jalan.
__ADS_1
"Kamu benar, maafkan aku, Luna. Aku terlalu cemburu dan kaget. Aku sendiri juga tak ingin melihatmu menderita." Dimas memeluk Luna dengan erat, merasa bersalah karena hanya solusi itu yang terpikir dalam benaknya,
"Hiks ..."
"Hamil, kalau memang papa ingin kamu hamil, kamu bisa hamil anakku, Luna." Ide Dimas membuat Luna berhenti menangis dan langsung menatapnya.
"Bagaimana caranya, Dim?? Papamu selalu menghampiriku jika dia ada di rumah." Luna menggoncangkan genggaman tangan Dimas.
"Maka aku yang akan menghampiri tiap kali papa nggak ada di rumah. Tinggalah di sini selama sepekan. Kita harus rajin membuat anak."
"Yup." Dimas mengangguk. "Bukankah sudah satu minggu kamu lepas dari pil KB? Akan lebih mudah hamil bila rentan masa suburnya sudah dekat." Dimas menghitung hari, komsumsi pil KB membuat sirklus bulanan menjadi 21 hari dan itu berarti satu minggu setelah haid Luna bisa memasukki masa suburnya.
"Iya juga sih."
__ADS_1
"Harusnya satu minggu ke depan kamu akan kembali subur. Aku akan membuatmu hamil, Luna." Dimas menggenggam tangan Luna semakin erat.
"Lantas bagaimana kalau ternyata bukan anakmu, Dim?" Luna masih ragu, rencana Dimas tetap akan membuat Luna bingung menentukan anak siapa yang dia kandung. Tes DNA akan susah mengingat Dimas juga adalah anak Surya.
"Meski kemungkinan kecil kalau anak yang ada dalam kandunganmu adalah anakku. Aku akan tetap mencintainya, Luna. Anakmu juga jadi adikku, dan aku pun akan membesarkannya seperti anak sendiri bila kita kelak akan menikah." ujar Dimas.
"I ... itu hal yang aneh." Luna merinding mendengarnya.
Dimas juga merasa aneh, tapi saat ini mereka tak punya pilihan. Karena mereka tak bisa serakah dengan memiliki semuanya. Luna harus memilih salah satu antara kawin lari dengan Dimas, atau bertahan menjadi istri Surya demi papanya. Jantung Luna hampir meledak karena rasanya sangat menyesakkan. Luna menangis, ia seakan tengah berdiri di atas lapisan es tipis yang bisa pecah kapan pun. Saat es itu pecah, Luna akan jatuh pada dinginnya air, membeku, dan mati.
"Jangan menangis, Luna. Maafkan aku yang bodoh dan tak mampu berbuat apa pun untuk menolongmu lepas dari cengkraman Papa. Maafkan aku Luna. Aku justru berbuat hal bodoh yang membuatmu semakin terluka." Dimas mendekap erat tubuh Luna, berusaha membuat gadis itu tenang. Luna hanya bisa mengangguk, dia pun tak punya pilihan.
Tanpa sadar di belakang mereka, ada seseorang yang mengambil beberapa gambar dengan ponselnya.
__ADS_1
...-- BERSAMBUNG --...